AIESEC Unsri Gelar Impact Circle 11.0: Menyatukan SDGs dan Kreativitas Anak Muda Melalui Tea Blending

AIESEC Unsri Gelar Impact Circle 11.0: Menyatukan SDGs dan Kreativitas Anak Muda Melalui Tea Blending

Plat Merah – Palembang, Sumselupdate.com – AIESEC in Universitas Sriwijaya (Unsri) kembali membuktikan komitmen dalam membangun generasi muda yang berdaya saing melalui penyelenggaraan Impact Circle 11.0 pada 14 Juni 2026. Kegiatan ini tidak sekadar seminar, tetapi menjadi ekosistem pembelajaran holistik yang menggabungkan kesadaran global (SDGs) dengan pengalaman praktis lokal. Dengan tema “From Local Minds to Global Impact”, acara ini berhasil menggerakkan lebih dari 200 peserta dari pelbagai latar belakang untuk belajar tentang tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) sekaligus mempelajari seni peracangan teh.

Konteks AIESEC dan Peran Pemuda dalam SDGs

AIESEC, sebagai organisasi kepemudaan terbesar di dunia, memiliki sejarah panjang dalam memfasilitasi pertukaran internsional sejak 1948. Di Indonesia, AIESEC Unsri memposisikan diri sebagai agen perubahan dengan fokus pada SDGs, khususnya Target 4 (Pendidikan Berkualitas) dan Target 17 (Kemitraan untuk Tujuan). “Kami percaya bahwa pemuda adalah mesin utama transformasi sosial. Impact Circle 11.0 menciptakan ruang di mana mereka dapat menghubungkan pengetahuan teoretis dengan keterampilan nyata,” jelas Tsabitto, Vice President of Business Development AIESEC in Unsri.

Tabel: Rekapitulasi Kegiatan Impact Circle 11.0

Jenis KegiatanJumlahWaktu Pelaksanaan
Workshop Tea Blending3 sesi (kapasitas 60 peserta)10.00-12.00
Seminar SDGs5 topik berbeda13.00-15.30
Expo Kolaborasi12 mitra pamer09.00-16.00

Workshop Tea Blending: Pembelajaran Berbasis Eksperimen

Yang membedakan Impact Circle 11.0 dari event serupa adalah kolaborasi inovatif dengan Celoteh Tea House. Workshop ini tidak hanya mengajarkan teknik penyeduhan teh, tetapi juga mengemas konsep SDGs dalam prosesnya. “Kita mengajarkan bahwa setiap campuran teh mewakili kerja sama antarpihak untuk mencapai keseimbangan sosial-ekonomi,” papar Rizky, pemilik Celoteh Tea House.

  1. Proses memilih jenis teh yang tepat (Green Tea, Oolong, Black Tea)
  2. Eksperimen komposisi (rasa, warna, aroma)
  3. Aplikasi prinsip sirkular ekonomi dalam pengemasan

Dalam sesi praktik, peserta menciptakan rasa unik sambil mempelajari prinsip ekonomi biru (blue economy) melalui pemanfaatan limbah teh sebagai pupuk. 78% peserta menyatakan bahwa pendekatan ini membuat konsep SDGs lebih “nyata” dan “terjangkau”.

Dampak dan Implikasi Strategis

Impact Circle 11.0 menunjukkan keberhasilan model pendidikan campuran yang menggabungkan teori dan praktik. Hasil survei pasca-event menunjukkan peningkatan signifikan:

  • Knowledge gain SDGs: 62% meningkat dari rata-rata pre-test
  • Minat berwirausaha berkelanjutan: 45% peserta menyatakan tertarik memulai bisnis eco-friendly
  • Jaringan kolaborasi: 23 mitra baru potensial terjalin

Bagi pemerintah daerah, kegiatan ini menawarkan model inovatif untuk mencapai Target Indikator 17.16 (peningkatan kemitraan multistakeholder). Sementara bagi sektor usaha, ini menciptakan pasar potensial untuk produk ramah lingkungan yang didukung kreativitas pemuda.

Perspektif Masa Depan

“Kita ingin Impact Circle menjadi platform tahunan yang terus berkembang,” ujar Risya, Business Development Team Member. Rencana 2027 mencakup:

TahunFokusIndikator Keberhasilan
2027Integrasi AI dalam penyeduhan30% penggunaan teknologi dalam workshop
2028Ekspor teh hasil workshop20 kg teh ekspor pertama

Dengan pendekatan yang menggabungkan kreativitas lokal dan tanggung jawab global, Impact Circle 11.0 telah menetapkan standar baru untuk program pendidikan pemuda di Indonesia. Ini bukan sekadar seminar, tapi investasi jangka panjang dalam membangun ekosistem inovasi berkelanjutan.

Peserta Impact Circle 11.0 yang memperhatikan detail penyeduhan teh saat workshop, menunjukkan bahwa pembelajaran nyata bisa menjadi jembatan antara teori SDGs dan tindakan konkret. Dari teh yang mereka buat, terbentuklah visi baru: bahwa pembangunan berkelanjutan dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan hati.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup