Pelatihan Akarku KUBIK 2.0 Dorong Kemandirian Pemuda Disabilitas
Latar Belakang Program KUBIK 2.0
Plat Merah – Program Kelompok Usaha Bisnis Inklusif (KUBIK) 2.0 merupakan inisiatif pemberdayaan ekonomi yang dirancang untuk membangun ekosistem usaha inklusif bagi pemuda penyandang disabilitas dan orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) di Kabupaten Jember. Dikembangkan oleh organisasi non-profit Tanoker Ledokombo sejak 2023, program ini mengadopsi pendekatan Wheel of Livelihoods yang menggabungkan penguatan kapasitas diri, keterampilan sosial, dan pengembangan usaha secara bertahap. Inisiatif ini mencerminkan komitmen pemerintah daerah dan mitra organisasi untuk mengatasi disparitas akses ekonomi yang terjadi di masyarakat.
Struktur Program dan Metodologi
Pelatihan bertajuk “Akarku” yang berlangsung pada 25 Juni 2026 menjadi sesi perdana dari program tiga tahun ini. Berdasarkan prinsip Social Emotional Learning (SEL), peserta diajak untuk mengenali kekuatan pribadi, mengelola emosi, dan membangun kepercayaan diri. Metode pelatihan meliputi:
- Refleksi diri melalui diskusi kelompok
- Permainan partisipatif untuk pengenalan diri
- Identifikasi kekuatan pribadi via role-playing
- Bagi pengalaman langsung dari praktik usaha inklusif
Kronologi Pelaksanaan
| Tanggal | Kegiatan | Partisipan |
|---|---|---|
| 25 Juni 2026 | Pelatihan SEL (Akarku) | 150 peserta (ODM & OYPMK) |
| Agustus-Desember 2026 | Pelatihan usaha mikro | 100 peserta terpilih |
| 2027-2028 | Fase penerapan usaha | 50 kelompok usaha |
Dampak dan Implikasi
Program ini berpotensi membuka peluang ekonomi bagi kelompok yang selama ini terpinggirkan. Data Kementerian Sosial RI (2025) menunjukkan hanya 32% pemuda disabilitas di Jawa Timur yang memiliki akses ke pelatihan keterampilan. Dengan pendekatan holistik KUBIK 2.0, diharapkan:
- Meningkatkan literasi usaha hingga 50% di komunitas sasaran
- Menciptakan 200 unit usaha inklusif dalam 3 tahun
- Mengurangi angka pengangguran disabilitas di Jember dari 45% ke 25%
Tantangan dan Solusi
Salah satu hambatan utama dalam pemberdayaan ekonomi disabilitas adalah kurangnya akses ke modal dan jaringan pasar. Program KUBIK 2.0 menangani isu ini melalui:
- Penyediaan mentor usaha dari komunitas inklusif
- Kolaborasi dengan e-commerce lokal untuk distribusi produk
- Pemetaan pasar berbasis data komunitas
Kolaborasi Multi-Pihak
Keberhasilan program ini didukung oleh keterlibatan aktif berbagai pemangku kepentingan:
- Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Jember memberikan sertifikasi pelatihan
- Lembaga keuangan mikro menyediakan akses kredit dengan bunga 0%
- Perusahaan teknologi menyediakan pelatihan digital marketing
Wiwik Supartiwi, Sekretaris Dinas Koperasi Jember, menegaskan: “Program ini tidak sekadar memberdayakan individu, tetapi membangun ekosistem inklusif yang berkelanjutan. Kami akan terus berkoordinasi dengan stakeholder untuk memastikan keberlanjutan program.”
Dengan pendekatan inovatif ini, KUBIK 2.0 berpotensi menjadi model pemberdayaan ekonomi inklusif yang dapat direplikasi ke daerah lain di Indonesia, sekaligus memenuhi target Sustainable Development Goals (SDG) Nomor 1 (Tanpa Kemiskinan) dan Nomor 10 (Kurangi Ketimpangan).
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












