Sanjai Sebut Adaptasi Bekal Memasuki Dunia Kerja
Plat Merah – Sungailiat – Presiden Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syaikh Abdurrahman Siddiq (SAS) Bangka Belitung, Sanjai Saputra, menggarisbawahi adaptasi sebagai kunci keberhasilan lulusan perguruan tinggi di era transformasi industri yang pesat. Dalam wawancara eksklusif dengan Pro2, santri alumni Universitas Muhammadiyah Malang ini menjelaskan bahwa dunia kerja tahun 2026 diprediksi akan semakin mengutamakan fleksibilitas, kecepatan belajar, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi.
Adaptasi sebagai Kompetensi Inti Abad 21
“Kita sedang berada di fase keempat revolusi industri yang ditandai dengan dominasi AI, otomasi, dan big data. Dalam konteks ini, kemampuan teknis memang penting, tapi adaptasi menjadi kompetensi inti yang tidak bisa dipelihara oleh mesin,” ujar Sanjai. Dia mencontohkan perubahan pada sektor perbankan yang secara eksponensial mengurangi kebutuhan teller sambil memperluas layanan digital.
| Indikator | 2020 | 2026 |
|---|---|---|
| Persentase pekerjaan terotomatisasi | 17% | 33% |
| Permintaan skill adaptasi | 45% | 68% |
| Rata-rata waktu adaptasi pekerja | 6 bulan | 3 bulan |
Pola Pembentukan Adaptasi di Kampus
Sanjai menjabarkan strategi konkret untuk membangun kemampuan adaptasi sejak masa perkuliahan:
- Partisipasi aktif di organisasi: Melatih kerja tim, manajemen konflik, dan pengambilan keputusan
- Kegiatan magang: Membuka wawasan tentang praktik industri nyata
- Projek riset interdisipliner: Membiasakan diri menghadapi situasi tidak terduga
- Kursus online teknologi: Memperluas literasi digital
- Volunteer di komunitas: Mengembangkan empati dan sensitivitas sosial
Soft Skill Menjadi Penentu
Meski teknologi terus berkembang, Sanjai menekankan bahwa keterampilan manusia yang tidak tergantikan tetap menjadi nilai utama. “AI bisa mengolah data, tapi tidak bisa menggantikan kecerdasan emosional dan kemampuan negosiasi. Perusahaan saat ini mencari lulusan yang bisa beradaptasi secara holistik,” kata pria yang aktif di kegiatan sosial pesisir Bangka.
Perspektif Praktisi
Reisya, mahasiswi semester 7 Prodi Ekonomi Syariah, membagikan pengalamannya selama magang di perusahaan fintech lokal. “Saya dihadapkan pada sistem yang berbeda dari teori di kampus. Tapi berkat kebiasaan mengikuti seminar industri dan proyek kewirausahaan, saya bisa menyesuaikan diri dalam 3 minggu pertama,” kata Reisya.
Dampak untuk Dunia Pendidikan
- Perlu ada revisi kurikulum untuk menekankan pembelajaran berbasis proyek
- Universitas harus memperluas kerja sama industri untuk program magang
- Pembelajaran daring harus dikembangkan dengan pendekatan blended learning
- Penilaian prestasi mahasiswa tidak hanya berbasis IPK, tapi juga keaktifan di luar kelas
Dengan mengadopsi pendekatan ini, Sanjai berharap lulusan perguruan tinggi Indonesia tidak hanya mampu bersaing di pasar lokal, tapi juga mampu memenuhi standar internasional. “Kuncinya adalah membangun mindset yang tidak takut pada perubahan, tapi malah melihat perubahan sebagai peluang,” pungkasnya sambil menatap langit biru pesisir Sungailiat yang menjadi simbol dari dinamika yang tak pernah berhenti berubah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













