Mahasiswi Undana Kupang Diduga Depresi Usai Batal Sidang Skripsi 12 Kali

Mahasiswi Undana Kupang Diduga Depresi Usai Batal Sidang Skripsi 12 Kali

PlatMerah.com, Kupang – Seorang mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Nusa Tenggara Timur, berinisial JST, diduga mengalami depresi setelah batal menjalani sidang skripsi untuk yang ke-12 kalinya. Peristiwa ini memicu keprihatinan dan menjadi sorotan publik, terutama setelah video tangis histeris JST viral di media sosial.

Dalam video yang beredar, JST tampak tergeletak di lantai sambil menangis tak terkendali. Sejumlah orang berusaha menenangkannya, namun ia terus meronta. Narasi yang berkembang menyebutkan, pembatalan terjadi setelah dosen penguji, SKL, tiba-tiba meminta penggantian dosen penguji meski jadwal sidang sudah sangat dekat. JST disebut telah 12 kali mengalami pembatalan sidang oleh dosen yang sama.

Kronologi dan Kondisi Terkini

Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (18/2/2026). Setelah kejadian, JST langsung dilarikan ke Rumah Sakit Wira Sakti Kupang untuk mendapatkan perawatan. Dekan FKM Undana, Apris Adu, membenarkan kejadian tersebut dan mengatakan pihak fakultas segera menggelar rapat koordinasi untuk memverifikasi fakta serta memantau kondisi JST.

“Begitu dapat informasi, kami segera rapat pimpinan untuk memverifikasi fakta dan menindaklanjuti,” ujar Apris, Jumat (3/1/2026). Pihak kampus berkomitmen menyelesaikan persoalan ini dan mulai memanggil dosen pembimbing serta dosen penguji terkait. “Dosen penguji saat ini sedang dalam masa berduka, sehingga kami jadwalkan besok baru bisa dapat keterangan lengkap,” jelasnya.

Status Akademik JST

Apris menerangkan, JST adalah mahasiswi semester 10 yang secara akademik sebenarnya sudah menyelesaikan seluruh mata kuliah, termasuk ujian proposal. Ia tinggal melaksanakan sidang skripsi untuk ujian hasil. “Jadi secara akademik, semua mata kuliahnya sudah selesai dan sudah ujian proposal dan tinggal ujian hasil serta skripsi,” jelas Apris. Ia berjanji akan memproses siapa pun yang terbukti bersalah, baik dosen maupun mahasiswa. “Baik mahasiswa maupun dosen mendapatkan perlakuan yang sama,” pungkasnya.

Investigasi Kampus

Sementara itu, Wakil Rektor IV Undana, Philiphi de Rozari, menyebut pihaknya tengah melakukan investigasi atas kejadian tersebut. “Pada prinsipnya kami masih dalam proses investigasi terkait kejadian tersebut,” ujar Philiphi. Ia meminta publik bersabar menunggu hasil lengkap setelah proses investigasi selesai. Undana berjanji akan mengumumkan hasilnya ke khalayak luas. “Jadi kami sangat mengharapkan bersabar sedikit karena yang pasti kami akan memberikan informasi yang tepat dan benar terhadap kejadian ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, peristiwa ini menjadi bahan evaluasi agar pelayanan Undana kepada mahasiswa semakin baik dan hal serupa tidak terulang. Kampus juga menegaskan tidak menutup kemungkinan menjatuhkan hukuman berat bagi siapa pun yang terbukti melakukan pelanggaran. “Tetapi sanksi sampai pemecatan itu ada,” tegas Philiphi.

Dampak dan Harapan

Kejadian ini menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental mahasiswa, terutama dalam proses akademik yang penuh tekanan. Publik berharap kampus dapat menuntaskan investigasi secara transparan dan memberikan keadilan bagi JST. Selain itu, kasus ini menjadi pengingat bagi institusi pendidikan untuk lebih memperhatikan kesejahteraan mahasiswa dalam proses penyelesaian studi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup