Safari Politik Jokowi dan Manuver Partai Menuju 2029: Antara Dukungan dan Kritik

Safari Politik Jokowi dan Manuver Partai Menuju 2029: Antara Dukungan dan Kritik

Plat Merah – Menjelang Pemilu 2029, dinamika partai politik semakin memanas. Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menjadi pusat perhatian setelah memulai safari politik bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Lampung pada akhir Juni 2026. Kehadirannya dengan mengenakan atribut partai memicu beragam tafsir, mulai dari upaya memperkuat mesin partai hingga menjaga pengaruh politik pasca lengser. Di sisi lain, partai politik lain seperti PDIP dan Demokrat juga menunjukkan aktivitasnya, menandai persaingan yang ketat menuju kontestasi lima tahun mendatang.

Safari politik Jokowi di Lampung dihadiri ribuan kader dan simpatisan PSI. Dalam acara tersebut, Jokowi memberikan motivasi kepada kader dan mendorong penguatan struktur partai di daerah. Ia juga secara blak-blakan menyatakan dukungannya terhadap PSI yang diketuai oleh putranya, Kaesang Pangarep. “Masa untuk yang lain begitu. Tentu untuk anak sendirilah,” ujar Jokowi. Langkah ini langsung menuai kritik dari PDIP, partai yang dulu menaunginya. Ketua DPP PDIP Guntur Romli menilai safari politik Jokowi semata untuk memenangkan anak-anaknya. “Itu kampanye politik untuk 2029, buat pemenangan anak-anaknya dia. Gibran yang kemungkinan besar tidak bersama Prabowo lagi, dan meloloskan PSI yang diketuai oleh Kaesang,” kata Guntur. Ia menambahkan bahwa hubungan PDIP dan Jokowi telah berakhir sejak pemecatan pada akhir 2024.

Di tengah sorotan terhadap Jokowi, partai politik lain juga bergerak. Partai Demokrat, yang merayakan HUT ke-25, menggelar bakti sosial dengan menyalurkan santunan kepada anak yatim piatu dan penyandang disabilitas. Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan komitmen partainya untuk hadir di tengah masyarakat melalui aksi nyata. “Perhatian kepada anak yatim piatu dan penyandang disabilitas harus diperkuat,” ujar AHY. Kegiatan ini bertepatan dengan peringatan 10 Muharram, menunjukkan bahwa partai politik tidak hanya berfokus pada elektoral tetapi juga kepedulian sosial.

Sementara itu, isu kebinekaan kembali mengemuka dalam wacana partai politik. Banyak partai mengklaim peduli terhadap keberagaman, namun kritik muncul bahwa kebinekaan hanya sebatas simbol dan jargon. Yang dibutuhkan rakyat adalah kebinekaan yang nyata: kesempatan kerja yang sama, pelayanan publik yang adil, dan perlakuan setara di hadapan hukum. Partai politik diharapkan tidak hanya menampilkan keberagaman simbolis, tetapi benar-benar mewujudkannya dalam kebijakan.

PSI sendiri menyatakan siap duel pembuktian melawan partai banteng pada 2029. Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep optimistis partainya bisa meraih suara signifikan. Namun, PDIP enggan terpancing. Ganjar Pranowo, Ketua DPP PDIP, mengatakan, “Kami menghormati hak setiap warga negara dalam berserikat dan berkumpul. Masing-masing punya cita-cita.” Ia menegaskan PDIP tidak ingin mengurusi rumah tangga partai lain.

Fenomena safari politik Jokowi menunjukkan bahwa pengaruh politik tidak otomatis hilang ketika masa jabatan berakhir. Dalam demokrasi modern, mantan pemimpin tetap memiliki hak untuk berpolitik. Namun, intensitas keterlibatan Jokowi menimbulkan pertanyaan tentang batas antara partisipasi politik dan konflik kepentingan. Apakah ini sekadar upaya memperkuat PSI, atau bagian dari strategi jangka panjang menuju 2029? Publik akan terus mengawasi.

Kesimpulannya, jelang Pemilu 2029, partai politik di Indonesia menunjukkan dinamika yang kompleks. Safari politik Jokowi menjadi sorotan utama, namun partai lain seperti Demokrat dan PDIP juga tidak tinggal diam. Isu kebinekaan dan kepedulian sosial menjadi senjata kampanye. Yang jelas, persaingan menuju 2029 akan semakin ketat, dan setiap langkah partai politik akan diawasi ketat oleh publik.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup