Kodam XXI/Radin Inten Gelar Gerakan Bersih Laut di Lampung dan Bengkulu
Latar Belakang Masalah Sampah di Pesisir Indonesia
Plat Merah – Indonesia memiliki lebih dari 54.000 km garis pantai, namun sebagian besar masih terancam oleh penumpukan sampah plastik, limbah rumah tangga, dan sampah industri. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup 2025, rata-rata 8.5 ton sampah per hari mengalir ke laut di wilayah Sumatera Selatan, Lampung, dan Bengkulu. Akibatnya, ekosistem terumbu karang terdegradasi, populasi ikan menurun, dan citra pariwisata menurun drastis, terutama di destinasi pantai populer seperti Pantai Pasir Putih di Lampung dan Pantai Panjang di Bengkulu.
Instruksi Presiden Prabowo Subianto
Pada rapat koordinasi pemerintah daerah pada akhir Juni 2026, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menekankan perlunya aksi massal untuk membersihkan kawasan pesisir. Presiden menegaskan bahwa selain mengurangi dampak lingkungan, gerakan bersih pantai juga dapat meningkatkan daya tarik wisata, membuka lapangan kerja baru di sektor pengelolaan limbah, serta memperkuat rasa kebangsaan melalui gotong royong. Presiden secara tegas meminta semua lembaga, termasuk TNI, Polri, pemerintah daerah, dan lembaga pendidikan, untuk berpartisipasi aktif.
Rancangan Gerakan Bersih Laut oleh Kodam XXI/Radin Inten
Menanggapi arahan tersebut, Kodam XXI/Radin Inten menyusun program Gerakan Radin Inten Asri dengan tiga pilar utama:
- Bersihkan Laut: operasi penyelaman berskala kecil dan penggunaan kapal pembersih untuk mengumpulkan sampah terapung.
- Bersihkan Pesisir Pantai: gotong royong berskala massal di sepanjang garis pantai, melibatkan relawan, pelajar, dan petugas OPD.
- Bersihkan Kampung Sekitar: pembersihan area permukiman, fasilitas umum, serta saluran drainase untuk mencegah banjir dan penyebaran penyakit.
Setiap pilar dilengkapi dengan target kuantitatif, jadwal pelaksanaan, serta mekanisme pelaporan yang transparan.
Jadwal Kegiatan Terperinci
| Waktu | Lokasi | Kegiatan | Penanggung Jawab |
|---|---|---|---|
| 06.00 – 08.00 WIB | Pelabuhan Panjang, Lampung | Pengumpulan sampah terapung (tim penyelam & kapal kecil) | Satuan Marinir Kodam XXI |
| 08.30 – 11.30 WIB | Pantai Pasir Putih, Lampung | Gotong royong bersih pantai (siswa, mahasiswa, OPD) | Dinas Lingkungan Hidup Lampung |
| 12.00 – 13.30 WIB | Desa Sinar Jaya, Bengkulu | Pembersihan permukiman dan drainase | Kecamatan Bengkulu Utara |
| 14.00 – 16.00 WIB | Pantai Panjang, Bengkulu | Aksi bersih pantai akhir hari | Satgas TNI‑Polri |
Kolaborasi Lintas Sektor
Keberhasilan Gerakan Bersih Laut sangat bergantung pada sinergi antara pihak militer, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, serta organisasi non‑pemerintah. Berikut adalah peran masing‑masing pihak:
- TNI (Kodam XXI): menyediakan logistik, personel keamanan, serta kapal pendukung.
- Pemerintah Provinsi Lampung & Bengkulu: mengoordinasikan OPD, mengeluarkan izin akses area, serta menyiapkan sarana kebersihan.
- Komunitas Lingkungan: menggerakkan relawan, menyediakan alat kebersihan, serta melakukan edukasi pasca‑acara.
- Institusi Pendidikan: melibatkan siswa SMA/SMK, mahasiswa, serta dosen dalam kegiatan lapangan dan riset sampah.
- Masyarakat Umum: menjadi agen utama dalam menjaga kebersihan harian setelah aksi selesai.
Dampak dan Implikasi Jangka Panjang
Berikut analisis dampak yang diharapkan dari Gerakan Bersih Laut:
- Lingkungan: Penurunan volume sampah laut hingga 30% dalam tiga bulan pertama, pemulihan terumbu karang, serta peningkatan kualitas air laut.
- Pariwisata: Peningkatan rating kebersihan pantai di portal TripAdvisor Indonesia, berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan domestik sebesar 12% pada musim liburan berikutnya.
- Kesehatan Publik: Pengurangan kasus penyakit kulit dan diare yang terkait dengan sampah terbuka di kawasan permukiman pesisir.
- Ekonomi: Pembukaan lapangan kerja sementara bagi pekerja kebersihan, serta peluang usaha daur ulang bagi UMKM lokal.
- Sosial‑Budaya: Penguatan nilai gotong royong, menumbuhkan rasa memiliki lingkungan yang bersih di antara generasi muda.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski antusiasme tinggi, terdapat beberapa kendala yang perlu diatasi:
- Keterbatasan sarana penampungan sampah di daerah terpencil.
- Kurangnya kesadaran jangka panjang, sehingga risiko sampah kembali muncul setelah acara selesai.
- Koordinasi antar‑OPD yang masih bersifat ad‑hoc, memerlukan mekanisme monitoring berkelanjutan.
- Pengelolaan limbah plastik yang belum optimal; diperlukan fasilitas daur ulang yang memadai.
Harapan dan Langkah Selanjutnya
Letkol Inf. Ranoviandy Chairul, Kepala Penerangan Kodam XXI/Radin Inten, menegaskan bahwa Gerakan Bersih Laut bukan kegiatan satu kali, melainkan titik awal bagi program clean‑coast berkelanjutan. Ia mengusulkan pembentukan forum koordinasi permanen yang melibatkan TNI, DPRD provinsi, serta perwakilan komunitas untuk menyusun kebijakan pengelolaan sampah berbasis wilayah. Selain itu, penanaman pohon mangrove di daerah yang terdampak diusulkan sebagai upaya penyerapan karbon dan penstabilan garis pantai.
Jika semua elemen dapat memelihara momentum ini, Indonesia berpotensi menjadi contoh regional dalam penanggulangan sampah laut, sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDG) 14: Life Below Water. Gerakan Bersih Laut ini, dengan slogan “Bersih Lautnya, Bersih Pantainya, Sehat Kampungnya Bersama Kita Bisa”, mengajak setiap warga untuk menjadi pelaku perubahan, demi lingkungan yang lestari bagi generasi mendatang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












