Tradisi Bersih Desa ke-116 di Pringsewu: Harmoni Budaya dan Doa Bersama untuk Keselamatan

Tradisi Bersih Desa ke-116 di Pringsewu: Harmoni Budaya dan Doa Bersama untuk Keselamatan

Latar Belakang Tradisi Bersih Desa

Plat Merah – Tradisi Bersih Desa yang telah diwariskan selama hampir dua abad di Pekon Wonodadi, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, merupakan salah satu simbol ketahanan budaya masyarakat Jawa. Acara ini tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga wadah untuk menyatukan berbagai lapisan masyarakat dalam semangat kebersamaan. Tahun 2026 ini, kegiatan ke-116 digelar dengan nuansa yang semakin kaya, mencerminkan adaptasi tradisi dengan konteks modern.

Pagelaran Wayang Kulit: Seni dan Pesan Spiritual

Bersih Desa kali ini menghadirkan pertunjukan wayang kulit karya dalang terkenal Ki Gunawan Wibisono dengan lakon Satria Pinilih. Pemilihan lakon tersebut tidak sembarangan; cerita tentang kebijaksanaan dan keadilan seorang pahlawan melambangkan harapan masyarakat akan pemimpin yang adil. Wayang kulit, sebagai seni yang diakui UNESCO, menjadi medium unik untuk menyampaikan nilai-nilai moral dalam format yang menarik.

Pesan Wabup Pringsewu: Harmoni Manusia dan Alam

Wakil Bupati Pringsewu, Umi Laila, dalam sambutannya, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. “Tradisi ini mengingatkan kita untuk bersyukur atas rahmat Tuhan sekaligus merawat lingkungan sebagai sumber kehidupan,” ujarnya. Berikut poin-poin utama dari pesannya:

  1. Menjaga kebersihan lingkungan sebagai bentuk kecintaan pada tanah air
  2. Meningkatkan solidaritas melalui kebersamaan tanpa diskriminasi
  3. Mempertahankan nilai-nilai luhur leluhur dalam tatanan kehidupan modern

Kronologi Kegiatan Bersih Desa 2026

WaktuKegiatanPenjelasan
18.00 WIBDoa BersihDipimpin oleh tokoh agama setempat
19.00 WIBPembukaanSambutan Wabup Pringsewu Umi Laila
20.00 WIBWayang KulitLakon Satria Pinilih oleh Ki Gunawan Wibisono
23.00 WIBPenutupDoa penutup dan foto bersama

Dampak dan Implikasi Tradisi untuk Masyarakat

Tradisi Bersih Desa memiliki dampak multidimensi:

  • Sosial: Membangun rasa memiliki terhadap lingkungan dan komunitas
  • Budaya: Melestarikan seni pertunjukan tradisional yang terancam punah
  • Edukasi: Menumbuhkan kesadaran generasi muda tentang nilai-nilai luhur
  • Ekonomi: Memacu perekonomian lokal melalui keterlibatan pelaku seni dan kerajinan

Keterlibatan Pemerintah Daerah

Pemerintah Kabupaten Pringsewu menempatkan tradisi ini sebagai salah satu soft diplomacy untuk membangun citra daerah yang harmonis. Dalam acara ini, selain Umi Laila, turut hadir:

  • Taufik Qurahim (Wakil Ketua TP-PKK)
  • Eko Purwanto (Camat Gadingrejo)
  • M. Juhdan Amin (Kepala Pekon Wonodadi)
  • Tokoh agama dan masyarakat setempat

Perspektif Masa Depan

Dengan adanya dukungan penuh dari pemerintah daerah, tradisi Bersih Desa diharapkan dapat berkembang menjadi agenda tahunan yang lebih terintegrasi dengan program pemerintah. Misalnya, menggabungkan kegiatan bersih-bersih lingkungan atau penyuluhan keagamaan. Umi Laila berharap tahun depan bisa diterapkan format eco-friendly dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Sebagai wujud keberagaman, even ini juga membuka peluang untuk menampilkan seni dari etnis lain di Pringsewu. Kolaborasi budaya yang semakin inklusif diharapkan dapat menjadi motor penggerak wisata budaya di wilayah ini. Dengan demikian, Bersih Desa bukan hanya menjadi tradisi lokal, tetapi juga menjadi ikon budaya nasional yang berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup