Kukerta UNRI dan Kolaborasi Masyarakat di Selatbaru: Menanam Mangrove untuk Menjaga Pulau Bengkalis dari Abrasi

Kukerta UNRI dan Kolaborasi Masyarakat di Selatbaru: Menanam Mangrove untuk Menjaga Pulau Bengkalis dari Abrasi

Latar Belakang Abrasi di Pulau Bengkalis

Plat Merah – Pulau Bengkalis, salah satu wilayah pesisir di Riau, telah lama menghadapi ancaman abrasi yang semakin menggerus garis pantai. Menurut data Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Bengkalis, sejak tahun 2018, luasan lahan hilang akibat abrasi mencapai 53 hektare, dengan tingkat kerusakan tertinggi terjadi di Desa Selatbaru dan sekitarnya. Faktor penyebab meliputi perubahan arus laut akibat aktivitas tambang pasir, penurunan kualitas sedimen alami, dan deforestasi hutan mangrove. Kondisi ini mengancam kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada perikanan serta pertanian pesisir.

Kukerta UNRI Berdampak 2026: Inisiatif Kolaboratif

Program Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Universitas Riau (UNRI) tahun 2026 menghadirkan solusi berbasis komunitas melalui penanaman mangrove di Desa Selatbaru. Dibawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Fajriani Ananda, 32 mahasiswa berkolaborasi dengan Kelompok Peduli Lingkungan Alam Rindang. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (12/07/2026) menanam 10.000 pohon mangrove di kawasan rawan abrasi, dengan spesies pilihan seperti Rhizophora mucronata dan Bruguiera gymnorrhiza yang dikenal tahan terhadap kondisi abrasi tinggi.

Area PenanamanJumlah BibitLuas Lahan
Pantai Timur Selatbaru5.0002,5 hektare
Pantai Barat Muara Sungai3.0001,8 hektare
Pantai Selatan Desa2.0001,2 hektare

Mangrove: Solusi Ekologis Banyak Manfaat

Mangrove tidak hanya berfungsi sebagai penahan abrasi, tetapi juga memulihkan ekosistem pesisir yang rusak. Akar serabutnya mampu menyerap sedimentasi hingga 90%, sementara daun dan cabangnya meredam energi gelombang laut. Studi 2022 oleh Pusat Penelitian Kelautan LIPI menunjukkan bahwa kawasan mangrove bisa mengurangi kecepatan air hingga 80% dibandingkan area terbuka. Selain itu, mangrove menyediakan habitat bagi 37 spesies ikan dan 14 jenis moluska yang menjadi sumber pangan masyarakat lokal.

Keterlibatan Masyarakat dan Generasi Muda

Keterlibatan aktif masyarakat terlihat dari partisipasi 60 warga Selatbaru dalam kegiatan tersebut. Ketua Kelompok Alam Rindang, M. Arjudin, menegaskan bahwa proyek ini menjadi langkah awal membentuk kesadaran konservasi di kalangan generasi muda. “Kami memulai program pelatihan ekologis untuk 50 siswa SMA, yang akan bertanggung jawab atas pemeliharaan mangrove setiap bulan,” ujarnya. Ini sejalan dengan rencana jangka panjang Kelompok Kukerta yang mencakup pemantauan pertumbuhan pohon setiap enam bulan hingga 2028.

Dampak Ekonomi dan Sosial

Proyek ini berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat melalui ekowisata lingkungan. Dengan keberadaan mangrove, potensi peningkatan kunjungan wisatawan mencapai 40% per tahun, yang bisa menghasilkan Rp1,2 miliar pendapatan lokal setiap tahun. Data Dinas Pariwisata Bengkalis menunjukkan bahwa daerah dengan konservasi mangrove memiliki angka kunjungan 2,5 kali lebih tinggi dibanding wilayah tanpa konservasi.

Kronologi Pelaksanaan Kukerta

  1. April 2026: Penyusunan proposal dan identifikasi kawasan rawan abrasi oleh tim UNRI.
  2. Juni 2026: Pelatihan teknik penanaman dan perawatan mangrove untuk 32 mahasiswa.
  3. Juli 2026: Pelaksanaan penanaman 10.000 bibit mangrove di tiga titik strategis.
  4. September 2026: Evaluasi awal dengan metode pengukuran abrasi sebelum dan sesudah penanaman.

Tantangan dan Harapan Ke Depan

Salah satu tantangan utama adalah pemeliharaan pohon di musim hujan yang sering mengakibatkan tanah longsor. Untuk itu, tim UNRI bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau mengembangkan sistem drainase alami untuk mengurangi risiko tersebut. Ketua Kukerta Muhammad Azlan menekankan bahwa proyek ini hanya bagian dari perjuangan lebih besar. “Kami berharap pemerintah daerah dapat melanjutkan program ini dengan anggaran APBD sebesar Rp2,5 miliar per tahun,” katanya.

Sebagai penutup, keberhasilan Kukerta UNRI di Selatbaru bukan hanya tentang penanaman pohon, tetapi tentang penguatan komunitas dalam mengelola lingkungan. Proyek ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan tinggi dapat menjadi garda depan dalam mengatasi tantangan pesisir melalui kolaborasi lintas sektor. Dengan pendekatan partisipatif dan berkelanjutan, Pulau Bengkalis berharap bisa mempertahankan garis pantainya untuk generasi mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup