Asap Karhutla dari Sumsel Mengganggu Jambi, Gubernur Herman Deru: Perlu Verifikasi Lebih Lanjut

Asap Karhutla dari Sumsel Mengganggu Jambi, Gubernur Herman Deru: Perlu Verifikasi Lebih Lanjut

PlatMerah.com, Jambi – Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) telah menyebar hingga ke wilayah Provinsi Jambi, menyebabkan kualitas udara menurun dan jarak pandang di sejumlah daerah terpengaruh. Namun, Gubernur Sumsel Herman Deru meminta agar tudingan tersebut perlu diverifikasi lebih dulu sebelum disimpulkan.

Kabut asap pekat menyelimuti Kota Jambi sejak beberapa hari terakhir, dengan jarak pandang yang sempat turun hingga sekitar 600 meter. Kondisi ini juga berdampak pada aktivitas masyarakat, termasuk penerbangan di Bandara Sultan Thaha yang terganggu karena visibilitas rendah. Data dari Stasiun BMKG Jambi mengonfirmasi bahwa asap tersebut berasal dari karhutla di wilayah Jambi sendiri dan sebagian besar dari Sumsel, yang kemudian terbawa angin ke Jambi.

Reaksi Gubernur Sumsel terhadap Tuduhan Asap Kiriman

Gubernur Herman Deru menyampaikan kesulitannya menanggapi tudingan bahwa asap yang dirasakan di Jambi dan provinsi tetangga berasal dari Sumsel. Ia mempertanyakan dasar penilaian tersebut dan menegaskan bahwa pemadaman karhutla di Sumsel terus dilakukan dengan berbagai upaya, baik melalui jalur udara maupun darat. Herman Deru juga mengajak semua pihak, termasuk masyarakat, untuk berperan aktif dalam pencegahan kebakaran.

“Bagaimana menuduhnya asap dari Sumsel tanpa bukti jelas, seperti pelat kendaraan yang mengindikasikan sumbernya? Kami terus berupaya maksimal, dan peran masyarakat sangat penting sambil menunggu musim hujan,” ujarnya.

Upaya Penanggulangan Karhutla di Sumsel

Pemprov Sumsel sudah melakukan berbagai langkah untuk mengatasi karhutla, termasuk pembentukan relawan dengan insentif uang semangat sebesar Rp 150 ribu per relawan. Dana bantuan pemerintah pusat sebesar Rp 30 miliar juga dialokasikan untuk pembelian peralatan pencegahan dan penanggulangan karhutla. Herman Deru menekankan bahwa penanganan karhutla akan terus dimasifkan hingga musim hujan yang diperkirakan mulai November.

Situasi Karhutla dan Asap di Jambi

Gubernur Jambi, Al Haris, mengungkapkan bahwa asap tebal yang menyelimuti Jambi sebagian besar berasal dari kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Sembilang, Sumsel, yang lokasinya berdekatan dengan wilayah Jambi. Arah angin membawa asap dari kawasan tersebut masuk ke wilayah Jambi sehingga memperparah kondisi kabut asap yang juga berasal dari karhutla lokal di beberapa kabupaten di Jambi.

Penanganan karhutla di Jambi dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk aparat keamanan, pemerintah daerah, perusahaan, dan Masyarakat Peduli Api (MPA). Namun, medan yang sulit dan kondisi musim kemarau yang panjang menjadi kendala dalam pemadaman secara langsung, sehingga operasi water bombing menjadi solusi sementara. Pemerintah Provinsi Jambi juga telah mengajukan permintaan kepada pemerintah pusat agar akses ke lokasi kebakaran dapat dibuka untuk mempercepat penanganan menggunakan alat berat.

Dampak Kualitas Udara dan Aktivitas Masyarakat

Data kualitas udara di Jambi menunjukkan kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) parameter PM2.5 di Kota Jambi tercatat 251 (kategori sangat tidak sehat), bahkan mencapai 311 (kategori berbahaya) di Muaro Jambi. Kondisi ini berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat dan aktivitas sehari-hari.

Penurunan jarak pandang dan kualitas udara yang buruk menuntut kewaspadaan lebih bagi masyarakat, terutama pengguna jalan dan pihak bandara. Pemerintah daerah terus berupaya melakukan mitigasi agar dampak karhutla terhadap kesehatan dan aktivitas publik dapat diminimalisir.

Dengan berbagai upaya kolaboratif antara provinsi dan masyarakat, diharapkan penanganan karhutla dapat lebih efektif dan asap kiriman dapat berkurang, sehingga kualitas udara di wilayah Jambi dan sekitarnya kembali membaik.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup