Bitcoin Terpuruk di Bawah $60.000, Sementara Trump Raup Rp9 Triliun dari Kripto

Bitcoin Terpuruk di Bawah $60.000, Sementara Trump Raup Rp9 Triliun dari Kripto

Plat Merah – Bitcoin kembali mengalami tekanan berat pada awal Juli 2026, dengan harga jatuh ke level $58.000 sebelum pulih tipis ke $58.991 pada perdagangan Rabu (1/7). Penurunan 1,56% dalam 24 jam dan 5,84% dalam sepekan ini menunjukkan bahwa bitcoin masih bergulat dengan sentimen risiko global yang memburuk. Data on-chain mengindikasikan bahwa hampir setengah dari pasokan bitcoin saat ini berada dalam posisi merugi, atau ‘underwater’, karena harga beli rata-rata lebih tinggi dari harga pasar.

Analis menilai bahwa penurunan bitcoin kali ini lebih disebabkan oleh faktor makroekonomi ketimbang fundamental aset itu sendiri. Ekspektasi suku bunga tinggi berkepanjangan di AS, penguatan dolar AS, serta pergeseran modal institusional ke sektor kecerdasan buatan (AI) telah mendorong investor mengurangi eksposur ke aset berisiko termasuk bitcoin. Arus keluar dari ETF bitcoin spot juga terus terjadi, menambah tekanan jual di pasar.

Meski demikian, keyakinan investor jangka panjang terhadap bitcoin tetap terjaga. Ashish Singhal, Co-founder dan CEO CoinSwitch, menyatakan bahwa data on-chain menunjukkan holder jangka panjang masih enggan menjual, sementara investor besar justru terus mengakumulasi bitcoin di saat harga lemah. Menurutnya, arah aliran institusional, kondisi likuiditas global, dan sinyal makroekonomi akan lebih menentukan trajektori bitcoin ke depan daripada pergerakan harga jangka pendek.

Di tengah pelemahan harga, kabar mengejutkan datang dari mantan Presiden Donald Trump. Laporan keuangan tahunan yang dirilis Selasa (30/6) mengungkapkan bahwa Trump meraup pendapatan sebesar $594,26 juta (sekitar Rp9 triliun) dari bisnis kriptonya sepanjang tahun lalu. Pendapatan tersebut berasal dari World Liberty Financial, bursa kripto yang ia dirikan pada 2024, serta dari penjualan token melalui dompet ‘Bitcoin Key’ miliknya. Trump juga memperoleh $635 juta dari lisensi ‘meme coin’ $TRUMP melalui CIC Digital LLC. Padahal, Trump pernah menyebut kripto sebagai ‘penipuan’ sebelum akhirnya berbalik mendukung industri ini setelah mendapat dukungan dana kampanye pada pemilu 2024.

Sementara itu, industri stablecoin juga mencatat langkah besar. AptosLabs meluncurkan Open USD, stablecoin baru yang didukung oleh konsorsium raksasa keuangan dan teknologi seperti Mastercard, Visa, Stripe, dan BlackRock. Stablecoin ini dirancang untuk memfasilitasi pembayaran dan penyelesaian global dengan model tata kelola yang membagi pendapatan cadangan di antara mitra. Stripe telah berkomitmen untuk mengadopsi Open USD sebagai stablecoin default untuk transaksi bisnisnya. Langkah ini diprediksi akan mempengaruhi dinamika pasar bitcoin, terutama jika stablecoin baru tersebut berhasil menarik likuiditas dari ekosistem kripto yang ada.

Di sisi lain, perusahaan milik Michael Saylor, Strategy (sebelumnya MicroStrategy), mengumumkan perubahan strategi dengan meninggalkan mantra ‘Never Sell Bitcoin’ dan berencana melakukan pembelian kembali saham serta penjualan bitcoin untuk bertahan di musim dingin kripto. Langkah ini dinilai sebagai upaya ‘menendang kaleng ke depan’ di tengah keterbatasan opsi yang tersedia.

Kesimpulannya, bitcoin saat ini berada di persimpangan antara tekanan makroekonomi dan optimisme jangka panjang dari investor berpengalaman. Meskipun harga tertekan, adopsi institusional melalui stablecoin seperti Open USD dan akumulasi oleh whale menunjukkan bahwa fundamental ekosistem tetap kuat. Namun, ketidakpastian suku bunga dan regulasi masih menjadi awan gelap yang membayangi prospek bitcoin dalam waktu dekat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup