TPS3R Kertosari Banyuwangi: Solusi Revolusioner untuk Pengelolaan Sampah Wilayah Perkotaan
Latar Belakang Proyek TPS3R Kertosari
Plat Merah – Banyuwangi selama ini menghadapi tantangan signifikan dalam pengelolaan sampah, terutama di kawasan perkotaan yang padat penduduk. Dengan kepadatan populasi yang mencapai 10.248 jiwa per km² (BPS 2023), limbah rumah tangga menjadi masalah utama. Proyek TPS3R Kertosari hadir sebagai solusi strategis yang diharapkan mengurangi tekanan pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) GKB yang saat ini menerima 150-200 ton sampah per hari.
Detil Proyek Pengembangan
| Parameter | Detil |
|---|---|
| Kapasitas Harian | 50 ton |
| Wilayah Layanan | 56 desa/kelurahan |
| Dana Proyek | Rp 120 miliar (UEA melalui Clean Rivers) |
| Luas Lahan | 1,5 hektare |
| Waktu Pengerjaan | 10 bulan |
Strategi Ekosistem Pengelolaan Sampah
Senior Program Manager Banyuwangi Hijau, Lintong Manik, menjelaskan proyek ini memperkuat ekosistem tiga pilar:
- Reduksi sampah sumber
- Pemilahan rumah tangga
- Pengolahan terpadu
Sistem ini akan menghasilkan bahan daur ulang berkualitas yang bisa diekspor atau dipasarkan lokal. Proyek ini juga menciptakan 150 tenaga kerja langsung dan 500 peluang usaha mikro terkait daur ulang.
Kronologi Pembangunan
| Bulan | Kegiatan Utama |
|---|---|
| Juli 2026 | Peletakan batu pertama |
| Oktober 2026 | Perakitan alat pengolahan |
| Februari 2027 | Uji coba sistem |
| Mei 2027 | Operasional penuh |
Implikasi Ekonomi dan Sosial
Proyek ini diperkirakan menghasilkan 15.000 ton bahan daur ulang per tahun dengan nilai ekonomi Rp 3 miliar. Selain itu, akan tercipta 150 unit usaha daur ulang skala rumah tangga. Dampak lingkungan terukur meliputi:
- Penurunan 25% sampah organik ke TPA
- 30% sampah anorganik didaur ulang
- 15% energi terbangkit dari biogas
Tantangan dan Solusi
Implementasi proyek menghadapi tantangan:
- Minimnya kesadaran masyarakat memilah sampah
- Keterbatasan alat pengangkut sampah di daerah
- Biaya operasional tinggi
Untuk mengatasi ini, pemerintah akan meluncurkan program pelatihan wirausaha sampah dan subsidi alat pengumpul sampah bagi desa.
Proyek ini juga berpotensi menjadi model bagi 13 kabupaten lain di Jawa Timur. Dengan mengintegrasikan teknologi pendeteksi sampah ilegal dan sistem pelacakan digital, Banyuwangi berupaya menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang mencapai zero waste 70% pada 2030.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.








