Lamongan Terapkan Teknologi Drone untuk Pemantauan dan Pengendalian Wereng Batang Coklat, Jaga Stabilitas Pangan Nasional

Lamongan Terapkan Teknologi Drone untuk Pemantauan dan Pengendalian Wereng Batang Coklat, Jaga Stabilitas Pangan Nasional

Plat Merah – Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga ketahanan pangan nasional melalui inovasi teknologi. Pada 8 Juli 2026, pemerintah daerah setempat meluncurkan kampanye serentak pengendalian Wereng Batang Coklat (WBC) di 19 kecamatan, memanfaatkan drone bantuan dari Kementerian Pertanian RI. Langkah ini tidak hanya menjadi strategi responsif terhadap ancaman serius bagi tanaman padi, tetapi juga menandai transisi menuju pertanian berbasis teknologi yang lebih efisien.

Respon Cepat di Tengah Ancaman Serius

Wereng batang coklat dikenal sebagai hama paling destruktif bagi tanaman padi. Dalam satu siklus hidupnya, hama ini dapat menyebabkan kerusakan hingga 30% pada areal terdampak. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur 2025 mencatat bahwa Lamongan menghasilkan 904.928 ton Gabah Kering Giling (GKG), produksi tertinggi di wilayah tersebut. Namun, ancaman WBC yang teridentifikasi di 2.186,88 hektare area sawah (1-3 Juli 2026) mengancam pencapaian ini.

Kronologi Serangan dan Respons

  • Januari-Maret 2026: Pemantauan awal menunjukkan peningkatan populasi WBC di 5 kecamatan
  • April-Juni 2026: Lonjakan populasi hingga 20 ekor/rumpun di area rawan
  • 8 Juli 2026: Peluncuran kampanye serentak menggunakan drone di 19 kecamatan
  • Agustus 2026: Evaluasi awal menunjukkan penurunan populasi hama sebesar 40%

Inovasi Teknologi dalam Aksi Lapangan

KriteriaMetode KonvensionalPenggunaan Drone
Cakupan per hari5 ha50 ha
Kebutuhan tenaga20 orang2 operator + 1 teknisi
Kemampuan penyemprotanPencemaran lingkungan tinggiPenyemprotan presisi dengan 30% penghematan pupuk
Biaya operasionalRp 350.000/haRp 220.000/ha

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menjelaskan, “Penggunaan drone memungkinkan aplikasi pestisida yang lebih efisien dan presisi. Kami juga menggabungkannya dengan teknik pengendalian hayati untuk menjaga ekosistem pertanian.” Program ini melibatkan 42 unit drone berkapasitas 10 liter/pengisian, mampu bekerja hingga 25 hektare per hari dengan akurasi penyemprotan 98%.

Kondisi Pertanian Lamongan: Data dan Dinamika

Indikator20252026
Total Lahan Sawah95.745 ha95.745 ha
Produksi Padi904.928 ton (2025)Estimasi 850.000 ton (tanpa intervensi)
Wilayah Terdampak WBC1.500 ha2.186 ha
Kerugian PotensialRp 125 miliarRp 180 miliar (tanpa intervensi)

Dukungan Nasional dan Implikasi Strategis

Tenaga Ahli Wakil Menteri Pertanian RI, Mujiburrahman, menegaskan bahwa inisiatif Lamongan menjadi contoh penerapan teknologi di sektor pertanian. “Dengan adopsi drone ini, kami harap produksi nasional bisa terjaga meski menghadapi ancaman hama. Pemerintah pusat telah menyiapkan anggaran Rp 120 miliar untuk bantuan serupa di 12 provinsi,″ ujarnya.

Kebijakan ini juga berimplikasi pada perubahan perilaku petani. Data survei menunjukkan:

  • 78% petani setuju dengan metode penyemprotan drone
  • 65% menyatakan peningkatan efisiensi waktu
  • 30% merasa lebih tenang dengan pengawasan teknologi

Peran Teknologi dalam Pertanian Masa Depan

Kampanye Lamongan menunjukkan potensi transformasi pertanian Indonesia. Dengan kapasitas drone yang memungkinkan pemantauan real-time dan aplikasi pestisida berdasarkan data sensor, efisiensi penggunaan bahan kimia berkurang hingga 30%. Selain itu, integrasi teknologi ini mendukung program pemerintah untuk meningkatkan indeks pertanian digital ke 55% pada 2028.

Langkah proaktif Lamongan ini juga memberi pelajaran penting: dalam menghadapi ancaman pertanian, kolaborasi antara inovasi teknologi, kebijakan pemerintah, dan kepedulian petani menjadi kunci sukses. Dengan 19 kecamatan yang telah terorganisir, Kabupaten Lamongan menunjukkan bahwa pertanian modern bisa menjadi solusi berkelanjutan dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup