Media AS Desak Hakim Beri Sanksi ke OpenAI dalam Gugatan Hak Cipta yang Menentukan
Plat Merah – Dalam perkembangan terbaru sengketa hak cipta yang melibatkan kecerdasan buatan, sekelompok media besar Amerika Serikat, termasuk The New York Times dan New York Daily News, meminta pengadilan federal di Manhattan untuk menjatuhkan sanksi terhadap OpenAI. Mereka menuduh perusahaan pengembang ChatGPT itu sengaja menyembunyikan bukti penting terkait penggunaan jutaan artikel berita tanpa izin untuk melatih sistem AI-nya. Langkah ini menjadi eskalasi signifikan dalam pertarungan hukum yang bisa menentukan masa depan industri berita di era AI.
Dalam dokumen yang diajukan pada Kamis (9/7/2026), penggugat menyatakan bahwa OpenAI telah melakukan ‘obstruksi’ dengan tidak merilis dataset dan log ChatGPT yang dapat menunjukkan bagaimana sistem AI menggunakan konten berita yang dilindungi hak cipta. ‘Selama lebih dari dua tahun, OpenAI berbohong kepada The Times, penggugat Daily News, publik, dan pengadilan,’ ujar kuasa hukum utama The New York Times, Ian Crosby. Ia menambahkan bahwa OpenAI mengklaim tidak mungkin mencari salinan konten berita dalam output ChatGPT, namun ternyata perusahaan telah melakukan pencarian semacam itu bahkan sebelum gugatan pertama diajukan.
Gugatan ini pertama kali diajukan oleh The New York Times pada akhir 2023, tak lama setelah ChatGPT melambungkan popularitas AI komersial. Media lain seperti Daily News, Chicago Tribune, Ziff Davis, dan Center for Investigative Reporting kemudian bergabung. Mereka menuduh OpenAI dan mitra bisnisnya, Microsoft, menggunakan jutaan artikel tanpa izin untuk melatih model bahasa besar di balik chatbot tersebut. Kasus ini merupakan salah satu dari puluhan gugatan yang diajukan oleh penulis, seniman visual, dan label musik terhadap perusahaan AI seperti OpenAI, Anthropic, dan Meta Platforms.
Pengacara New York Daily News, Steven Lieberman, menekankan bahwa OpenAI telah melakukan ‘kesalahan representasi’ selama dua tahun mengenai kemampuannya mencari konten berita dalam dataset pelatihan dan log. ‘Mosi ini meminta pengadilan menghukum OpenAI karena menyembunyikan dan menghancurkan bukti yang menunjukkan bagaimana ChatGPT dilatih dengan jurnalisme curian,’ tegas Lieberman. Pihak penggugat juga mengklaim bahwa OpenAI menghapus miliaran percakapan ChatGPT yang relevan atau membuatnya tidak dapat dicari. Mereka meminta sanksi berupa biaya pengacara dan temuan pengadilan bahwa log obrolan menunjukkan penyalahgunaan karya berhak cipta.
OpenAI belum memberikan tanggapan resmi atas mosi tersebut. Dalam pembelaannya sebelumnya, OpenAI dan perusahaan teknologi lain berargumen bahwa proses pelatihan AI pada buku digital, artikel online, dan tulisan lain yang ditemukan di internet dilindungi oleh doktrin ‘penggunaan wajar’ (fair use) dalam hukum hak cipta AS. Teori ini sedang diuji dalam lusinan gugatan, dengan hasil yang beragam. Dalam kasus penyelesaian hak cipta terbesar sejauh ini, pesaing OpenAI, Anthropic, setuju membayar penulis buku sebesar $1,5 miliar karena melatih chatbot Claude pada karya bajakan mereka.
Sementara itu, di luar ranah hukum, OpenAI terus mengembangkan teknologi suaranya. Pada 9 Juli 2026, perusahaan meluncurkan GPT-Live-1, model suara baru yang menggantikan Advanced Voice Mode sebagai opsi suara default di ChatGPT. Model ini mampu memahami jeda panjang dalam ucapan, mendekatkan interaksi manusia-mesin pada percakapan alami.
Di sisi lain, nilai perusahaan AI meroket. Laporan NCVA-Pitchbook Venture Monitor menunjukkan bahwa IPO OpenAI, Anthropic, dan SpaceX akan menghasilkan nilai lebih besar dari seluruh eksit yang didukung VC di AS sejak tahun 2000. SpaceX telah go public dengan valuasi $1,77 triliun, sementara Anthropic dan OpenAI diperkirakan mendekati angka triliunan dolar, menjadikan total valuasi ketiganya di atas $4 triliun. Ini menunjukkan betapa besarnya investasi yang mengalir ke sektor AI, meskipun kontroversi hak cipta terus membayangi.
Kasus ini menjadi ujian penting bagi keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan hak kekayaan intelektual. Jika pengadilan memenangkan media, bisa menjadi preseden yang membatasi cara perusahaan AI menggunakan konten publik. Sebaliknya, jika OpenAI menang, industri kreatif mungkin harus menerima bahwa era AI telah mengubah aturan main hak cipta. Keputusan hakim dalam mosi sanksi ini akan menjadi sinyal awal ke arah mana angin bertiup.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













