Eskalasi AS-Iran Guncang Pasar Global: Nasdaq Melonjak, Saham Chip Terbang, dan ‘Live China’ Jadi Sorotan

Eskalasi AS-Iran Guncang Pasar Global: Nasdaq Melonjak, Saham Chip Terbang, dan 'Live China' Jadi Sorotan

Plat Merah – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas mengguncang pasar keuangan global, namun menciptakan fenomena menarik di bursa saham. Di tengah serangan udara baru AS yang menargetkan infrastruktur strategis Iran, indeks Nasdaq justru ditutup melonjak berkat reli saham-saham semikonduktor. Kondisi ini memicu perhatian investor dunia, termasuk dari live china yang terus memantau pergerakan pasar dan dampaknya terhadap rantai pasok global.

Pada perdagangan Kamis (10/7/2026), Nasdaq Composite melesat 1,30% ke level 26.206,89, sementara S&P 500 naik 0,81% dan Dow Jones bertambah 139 poin. Kenaikan ini dipimpin oleh saham Micron Technology yang melonjak 4,5% dan Sandisk yang naik 7,6%, setelah pengumuman investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan. Investor tampaknya mengabaikan kekhawatiran geopolitik dan lebih fokus pada prospek pertumbuhan sektor teknologi, sebuah sentimen yang juga terpantau di live china melalui arus dana asing yang masuk ke pasar saham Asia.

Namun, di sisi lain, eskalasi konflik AS-Iran telah mencapai titik baru. Militer AS melancarkan serangan terhadap jembatan kereta api utama yang menghubungkan Iran dengan China dan Rusia, sebuah langkah yang secara langsung mengancam jalur perdagangan darat strategis. Serangan ini juga melumpuhkan pembangkit listrik di Chabahar dan merusak infrastruktur pelabuhan, memperparah krisis energi di kawasan Teluk. Iran pun membalas dengan menembakkan rudal ke pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain, sementara selat Hormuz nyaris lumpuh total. Kondisi ini menjadi perhatian utama live china mengingat China adalah importir minyak terbesar dari Iran dan sangat bergantung pada stabilitas jalur energi tersebut.

Di tengah kekacauan, harga minyak mentah justru turun setelah Presiden Trump mengklaim Iran telah menghubunginya untuk bernegosiasi. Mediator dari Qatar dan Pakistan dikabarkan berupaya membawa kedua pihak kembali ke meja perundingan. Namun, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan kesiapan untuk menyerang Iran dengan kekuatan yang lebih besar jika diperlukan. Sementara itu, pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang berlangsung selama berhari-hari, justru menambah ketidakpastian politik di kawasan.

Di luar konflik, pengawasan ketat China terhadap konten daring juga menjadi sorotan. Otoritas siber China baru-baru ini mengkritik maraknya konten yang melibatkan anak-anak sebagai influencer, yang dinilai mendistorsi nilai-nilai sosial. Beberapa video viral yang memperlihatkan anak-anak melakukan aksi tidak pantas telah dihapus berdasarkan peraturan baru tentang klasifikasi konten yang memengaruhi kesehatan fisik dan mental anak di bawah umur. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Beijing membersihkan ruang digital, sejalan dengan kebijakan live china yang semakin ketat dalam mengatur platform streaming.

Di Wall Street, kekhawatiran inflasi akibat perang masih membayangi. Megan Horneman, CIO Verdence, mengatakan bahwa situasi saat ini sangat inflasioner dan tidak pasti. Namun, data klaim pengangguran AS yang stabil dan sikap The Fed yang cenderung akomodatif memberikan sedikit kelegaan. Investor kini menantikan musim laporan keuangan kuartal kedua, dengan sektor teknologi diprediksi menjadi motor penggerak utama. Di Asia, bursa Jepang dan Korea Selatan ditutup hijau, sementara Hong Kong melemah. Indeks CSI 300 China justru melonjak 2,5%, menunjukkan optimisme pasar domestik di tengah ketidakpastian global.

Kesimpulannya, konflik AS-Iran telah menciptakan volatilitas tinggi di pasar keuangan, namun sektor teknologi dan semikonduktor justru menjadi pilihan aman bagi investor. Sementara itu, China terus memperkuat posisinya sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global dan pengatur konten digital. Perkembangan di Timur Tengah akan terus menjadi faktor penentu arah pasar dalam waktu dekat, dan live china akan tetap menjadi barometer penting bagi investor yang ingin memahami dinamika ekonomi global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup