Survei KedaiKOPI: 64,4 Persen Pemuda Khawatir Pekerjaannya Digantikan AI

Survei KedaiKOPI: 64,4 Persen Pemuda Khawatir Pekerjaannya Digantikan AI

PlatMerah.com, Jakarta – Survei terbaru dari Lembaga Survei KedaiKOPI mengungkapkan bahwa 64,4 persen pemuda Indonesia merasa khawatir bahwa pekerjaan mereka akan tergantikan oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di masa depan. Kekhawatiran ini muncul di tengah kondisi sulitnya mencari pekerjaan dan rentannya keuangan pemuda saat ini.

Kekhawatiran Pemuda terhadap AI dan Ketenagakerjaan

Dalam diskusi peluncuran survei bertajuk “Menakar Arah Pemuda Tantangan Ekonomi, Pekerjaan, dan Preferensi Politik Menuju 2029” di Jakarta pada 30 Oktober 2026, Head of Research KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, menyampaikan bahwa ancaman AI menjadi salah satu perhatian utama pemuda terkait dunia kerja. Walau saat ini hanya 7,1 persen responden yang menganggap AI sebagai hambatan dalam mencari pekerjaan, mayoritas tetap merasa khawatir akan dampak teknologi ini di masa mendatang.

Baca juga:

Penggunaan AI juga sudah menjadi bagian dari keseharian, dengan 57,5 persen responden menggunakan AI setidaknya sekali dalam seminggu. Kelompok generasi Z lebih aktif memanfaatkan teknologi ini dibandingkan milenial.

Kesulitan Mencari Pekerjaan dan Hambatan Pemuda

Survei menunjukkan bahwa 74,7 persen pemuda menilai mencari pekerjaan di Indonesia saat ini sulit. Ashma menjelaskan bahwa permasalahan utama bukan terletak pada keinginan bekerja, melainkan akses yang sulit untuk memperoleh pekerjaan. Hambatan terbesar yang dirasakan adalah kebutuhan akan koneksi atau orang dalam (56 persen), keterbatasan lapangan kerja (48 persen), persaingan ketat (41,3 persen), serta batasan usia (39,2 persen).

Data Pengangguran dan Hambatan Pasar Kerja

Ekonom Universitas Indonesia, Ninasapti Triaswati, mengonfirmasi bahwa meskipun tingkat pengangguran nasional menurun, pengangguran di kelompok usia muda (15-24 tahun) justru meningkat menjadi 17,8 persen. Hambatan utama pemuda memasuki dunia kerja meliputi keterbatasan pengalaman, persaingan yang ketat, dan perubahan kebutuhan akibat perkembangan teknologi, termasuk AI serta otomatisasi.

Ninasapti juga menyoroti adanya ketidaksesuaian antara pendidikan dan kebutuhan pasar kerja (mismatch), sehingga transisi dari pendidikan ke pekerjaan memerlukan perhatian khusus dari pemerintah.

Kerentanan Finansial dan Tantangan Ekonomi Pemuda

Survei KedaiKOPI mengungkapkan bahwa mayoritas pemuda (60,2 persen) merasa penghasilan mereka belum mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sebanyak 84,8 persen sering kehabisan uang menjelang akhir bulan, dan 79,6 persen menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Berdasarkan indikator kerentanan finansial yang meliputi sering kehabisan uang, penggunaan tabungan, pekerjaan tambahan, dan perilaku belanja impulsif, sebanyak 59 persen pemuda tergolong rentan secara finansial.

Ada pula 9,6 persen responden yang termasuk generasi sandwich, menanggung kebutuhan orang tua sekaligus keluarga, yang menambah tekanan ekonomi mereka di tengah persaingan kerja dan perubahan industri.

Dampak Otomatisasi dan AI pada Dunia Kerja

Ninasapti menilai perkembangan otomatisasi dan AI berpotensi mengubah kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor, terutama pekerjaan administratif, ritel, dan penyusunan laporan yang mulai dapat digantikan teknologi. Hal ini dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia dan memaksa perusahaan menggantikan pekerja dengan sistem otomatis.

Baca juga:

Menurutnya, perubahan teknologi merupakan bagian dari perkembangan ekonomi, namun pemerintah harus mengantisipasi dampaknya, khususnya bagi pemuda yang baru memasuki pasar kerja, mengingat persoalan struktural ketenagakerjaan dan masih lemahnya sektor industri di Indonesia.

Fokus pada transisi ke kerja formal dan penguatan sektor industri menjadi penting agar pemuda mendapatkan kesempatan kerja yang layak. Selain itu, dorongan untuk berwirausaha perlu diikuti dukungan modal dan pengembangan keahlian agar usaha yang dijalankan bukan hanya karena keterpaksaan akibat sulitnya mendapatkan pekerjaan.

Perspektif Pemuda dan Tantangan Sistem

Firdarainy N. Izzah, perwakilan pemuda sekaligus jurnalis, menekankan bahwa selain kesiapan individu dalam menguasai teknologi dan AI, sistem dan industri juga harus siap menyediakan kesempatan kerja yang adil dan merata. Tantangan pemuda tidak hanya soal kemampuan, tetapi juga akses dan kesempatan masuk ke dunia kerja yang masih terbatas.

Metodologi Survei

Survei KedaiKOPI dilakukan secara daring pada 23-29 September 2026 dengan 1.213 responden berusia 17-45 tahun dari 36 provinsi di Indonesia. Responden terdiri dari generasi Z (17-29 tahun) dan milenial (30-45 tahun) yang mengisi kuesioner menggunakan metode Computer-Assisted Self-Interviewing (CASI). Data kemudian dibobot menggunakan metode iterative proportional fitting (IPF) agar representatif sesuai karakteristik populasi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Tutup