Megawati Sebut Bung Karno dan Fatmawati Sejatinya Seniman, Buka Pameran Mata Hati Soekarno di Bantul

Megawati Sebut Bung Karno dan Fatmawati Sejatinya Seniman, Buka Pameran Mata Hati Soekarno di Bantul

Plat Merah – Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, secara resmi membuka pameran seni rupa bertajuk Mata Hati Soekarno di Le Gareca Space, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026). Dalam sambutannya, Megawati sebut Bung Karno dan Fatmawati sejatinya seniman, mengungkap sisi lain orang tuanya yang jarang diketahui publik. Pameran ini digelar dalam rangka memperingati 125 tahun kelahiran Proklamator RI, Soekarno.

Sebanyak 47 perupa lintas generasi berpartisipasi dalam pameran yang berlangsung hingga 20 Juni 2026 ini. Mereka menghadirkan interpretasi, refleksi, dan pembacaan ulang terhadap pemikiran, perjuangan, serta warisan kebangsaan Bung Karno melalui berbagai medium seni rupa. Megawati hadir bersama Permaisuri Karaton Yogyakarta, GKR Hemas, dan secara simbolis membuka pintu kaca ruang pameran sebelum meninjau karya-karya yang dipamerkan.

Dalam kesempatan tersebut, Megawati sebut Bung Karno dan Fatmawati sejatinya seniman, mengingat pola pendidikan di Istana Kepresidenan yang kental dengan kecintaan terhadap seni dan budaya bangsa. “Kami dididik di Istana itu Bapak-Ibu saya tuh sebetulnya seorang seniman, tapi tidak ditonjolkan selama ini,” ungkap Megawati. Ia menceritakan bahwa dirinya bersama saudara-saudaranya sudah diwajibkan belajar menari tradisional sejak usia lima tahun, mulai dari tarian Bali, Sunda, Jawa, hingga Sumatera. Gemblengan fisik itu, menurut Megawati, berdampak pada kekuatan struktur tulangnya di usia senja.

Megawati juga bernostalgia saat melihat lukisan bersejarah berjudul “Ku Antar ke Seberang” karya Agus Noor. Lukisan tersebut menangkap momen masa kecil Megawati saat berusia tiga tahun, duduk di boncengan sepeda yang dikayuh oleh Bung Karno. Mata Megawati tampak berkaca-kaca memandangi representasi visual kebersamaannya dengan sang ayah. Agus Noor menjelaskan, ide lukisan itu terinspirasi dari peran Bung Karno yang mengantar bangsa Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan, dan pertanyaan bagaimana membawa ke seberang setelah kemerdekaan.

Penanggung jawab pameran, seniman senior Butet Kartaredjasa, mengatakan pameran ini lahir dari kesadaran para seniman untuk memberikan penghormatan kepada Bung Karno sebagai tokoh pemikir, ideolog, dan penggali Pancasila. “Ini adalah kesadaran kami para seniman untuk menghormati seorang seniman yang juga Presiden pertama Indonesia, Proklamator, ideolog, dan penggali Pancasila yang terus menginspirasi bangsa dari waktu ke waktu,” ujar Butet. Semangat yang ingin dihadirkan adalah mewarisi nilai dan semangat perjuangan Bung Karno, bukan sekadar mengenang sejarahnya. “Kalau ada ungkapan Bung Karno, jangan hanya mewarisi abunya, maka kami ingin mewarisi apinya. Api Soekarno itulah yang menanamkan kesadaran ideologis kami sebagai warga bangsa,” katanya.

Kurator pameran Suwarno Wisetrotomo menjelaskan bahwa para perupa ditantang untuk menggali berbagai sudut pandang dalam memahami sosok Bung Karno. Sebagian besar seniman yang terlibat berasal dari generasi yang lahir jauh setelah era kepemimpinan Bung Karno, sehingga tema Mata Hati Soekarno bukanlah tema yang mudah. Megawati sebut Bung Karno dan Fatmawati sejatinya seniman, dan hal ini menjadi inspirasi bagi para perupa untuk mengeksplorasi sisi artistik dari sang proklamator.

Pameran ini juga dihadiri sejumlah tokoh nasional dan daerah, antara lain Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Mahfud MD, Ganjar Pranowo, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, serta Bupati Bantul Abdul Halim Muslih. Kehadiran para tokoh ini menunjukkan dukungan terhadap apresiasi seni dan budaya yang diwariskan Bung Karno.

Megawati juga mendorong para pelaku seni dan budaya lokal untuk terus mendirikan sanggar-sanggar seni guna mengenalkan kekayaan budaya dan karakter nasionalisme Indonesia kepada anak-anak sejak usia dini. Menurutnya, seni memiliki fungsi luhur bagi perkembangan jiwa manusia. Pameran Mata Hati Soekarno menjadi bukti bahwa warisan pemikiran dan semangat Bung Karno tetap hidup dan menginspirasi generasi penerus bangsa.

Kesimpulannya, pernyataan Megawati bahwa Bung Karno dan Fatmawati sejatinya seniman membuka perspektif baru tentang sosok proklamator yang tidak hanya dikenal sebagai negarawan, tetapi juga sebagai pribadi yang mencintai seni dan budaya. Pameran ini tidak hanya menjadi ajang penghormatan, tetapi juga pengingat akan pentingnya nilai-nilai seni dalam membangun karakter bangsa. Melalui seni, api perjuangan Bung Karno terus menyala di hati para seniman dan masyarakat Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup