Tawa Megawati Mewarnai Festival Bung Karno 2026, Didampingi Pramono-Rano di Taman Proklamasi
Plat Merah – Momen Megawati hadiri acara Bung Karno Festival, didampingi Pramono-Rano menjadi sorotan hangat pada Sabtu (20/6/2026) di Taman Proklamasi, Jakarta Pusat. Presiden ke-5 Republik Indonesia itu tampak semringah menyaksikan beragam pertunjukan, termasuk lomba impersonate yang menirukan gaya bicaranya sendiri. Kehadiran Megawati bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno menambah khidmat peringatan Bulan Bung Karno tahun ini.
Ribuan warga memadati kawasan bersejarah itu sejak pagi. Mereka ingin melihat langsung kemeriahan Festival Bung Karno yang digelar untuk menghormati Sang Proklamator. Momen Megawati hadiri acara Bung Karno Festival, didampingi Pramono-Rano terasa begitu personal ketika ia tertawa lepas melihat seorang peserta lomba impersonate menirukan intonasi dan gesturnya. “Merdeka! Pak Prabowo itu sahabat saya, tapi bukan berarti harus dipisahkan,” ujar peserta dengan logat khas yang langsung disambut tepuk tangan meriah.
Megawati yang duduk di kursi undangan VIP beberapa kali terpingkal. Senyum lebarnya merekah saat peserta menambahkan, “Politik itu untuk demokratisasi. Saya bukan musuh Pak Prabowo, dia teman saya.” Aksi spontan itu menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung yang sejak awal penasaran dengan rangkaian acara.
Festival ini dibuka secara resmi oleh Rano Karno. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa momentum Bulan Bung Karno bukan sekadar seremoni. “Di tanah inilah kata-kata kemerdekaan pernah bergemuruh, mengguncang langit Indonesia. Menghormati Bung Karno berarti melanjutkan cita-citanya, menghidupkan Pancasila dalam tindakan,” tegas Rano. Ia mengajak semua elemen masyarakat agar tidak melupakan akar sejarah, terlebih di era modern yang serba cepat.
Momen Megawati hadiri acara Bung Karno Festival, didampingi Pramono-Rano juga meneguhkan posisi Jakarta sebagai kota yang merawat ingatan kolektif bangsa. Pramono Anung yang turut hadir menyaksikan langsung antusiasme warga, dari stan UMKM hingga panggung hiburan rakyat. “Intinya hari ini adalah dalam rangka menyambut Bulan Bung Karno, kita buat kegiatan untuk masyarakat,” ujar Rano Karno saat ditemui.
Rangkaian acara dimulai sejak pagi dengan senam bersama yang dipandu instruktur profesional. Pasar UMKM menampilkan aneka produk lokal, mulai dari kuliner Nusantara, batik Betawi Marunda, hingga kerajinan tangan. Sementara itu, wahana permainan anak dan pergelaran busana memeriahkan suasana siang hingga sore. Panggung utama malam harinya diramaikan oleh J-Rocks, Souljah, dan penyanyi dangdut lokal yang sukses menghibur ribuan pasang mata.
Selain hiburan, festival ini menyisipkan pesan mendalam tentang pentingnya merawat sejarah. Berbagai lomba pidato, pameran lukisan, dan penampilan komunitas budaya hadir untuk mengingatkan kembali pemikiran-pemikiran besar Bung Karno. Lomba impersonator yang memerankan Soekarno dan Megawati pun menjadi daya tarik tersendiri. “Di sinilah Republik ini lahir, bukan dari kemewahan, tetapi dari keberanian,” kata Rano mengutip semangat proklamasi.
Momen Megawati hadiri acara Bung Karno Festival, didampingi Pramono-Rano kembali terlihat saat ia berbincang ringan dengan para pelaku UMKM. Ia menyempatkan diri mencicipi jajanan pasar dan melihat langsung produk-produk kreatif warga. Kehadirannya memberikan semangat bahwa melanjutkan perjuangan bisa dimulai dari hal kecil: mencintai produk sendiri dan menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Bulan Juni dipilih karena memiliki tiga tanggal bersejarah: Hari Lahir Pancasila (1 Juni), hari kelahiran Bung Karno (6 Juni), dan hari wafatnya (21 Juni). Rano Karno menegaskan bahwa Jakarta sebagai kota proklamasi memiliki tanggung jawab moral untuk terus menghidupkan jiwa kebangsaan. “Kota yang lupa sejarah akan kehilangan arah. Bangsa yang tercabut dari budaya akan kehilangan jiwa,” ucapnya penuh semangat.
Melalui festival ini, Pemprov DKI Jakarta berharap generasi muda tidak hanya melek teknologi, melainkan juga cakap merawat warisan budaya dan ideologi bangsa. Nilai gotong royong, keberanian, dan persatuan yang digaungkan Bung Karno terus relevan hingga kini. Acara yang berlangsung sehari penuh ini menjadi bukti bahwa sejarah tidak hanya dikenang, tetapi juga dirayakan dengan sukacita. Ribuan warga pulang dengan kesan mendalam, membawa pulang cerita tentang tawa Megawati, lantunan pidato tiruan, serta pesan bahwa Indonesia merdeka karena tekad, bukan ketakutan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











