Pemkot Surabaya Lanjutkan Pelebaran Jalan Menganti 950 Meter, Upaya Mengurai Kemacetan Barat‑Selatan

Pemkot Surabaya Lanjutkan Pelebaran Jalan Menganti 950 Meter, Upaya Mengurai Kemacetan Barat‑Selatan

Latar Belakang Proyek Pelebaran Jalan Menganti

Plat Merah – Jalan Raya Menganti menjadi salah satu poros utama di wilayah barat‑selatan Surabaya, menghubungkan kawasan Babatan UNESA, Wiyung, serta daerah pemukiman padat penduduk. Seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, volume kendaraan meningkat tajam, menyebabkan kemacetan berulang terutama pada jam‑jam sibuk. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, melalui program pembangunan infrastruktur Wali Kota Eri Cahyadi, menargetkan pengurangan waktu tempuh hingga 30 % dengan memperlebar jalan seluas 950 meter.

Rangkaian Tahapan dan Jadwal Pelaksanaan

TahapPanjang (meter)StatusTarget Penyelesaian
Persiapan lahan & saluran tepi950Selesai22 Juli 2026
Pemindahan utilitas listrik (PLN)Sedang berlangsungAkhir Agustus 2026
Penggalian tanah & pemasangan CCSP950Akan dimulaiSeptember‑Desember 2026
Pelebaran jalan utama950Jadwal 2027Januari‑Juni 2027

Secara keseluruhan, proyek mencakup total panjang 1.900 meter. Bagian pertama, yakni 950 meter dari Masjid Al Hidayah sampai Puskesmas Lidah Kulon, dijadwalkan selesai pada akhir 2026 setelah semua lahan dibebaskan. Sisa 950 meter dari Puskesmas Lidah Kulon hingga Asrama Polisi Bangkingan baru akan dilanjutkan pada tahun berikutnya.

Teknik dan Infrastruktur Pendukung

Menurut Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Hidayat Syah, prioritas awal adalah pembuatan saluran tepi di lahan yang telah dibebaskan. Saluran ini berfungsi sebagai jalur drainase utama, mengalirkan air hujan ke Sungai Tengah Jalan Raya Menganti, sehingga mengurangi risiko genangan pada musim hujan.

Selanjutnya, DSDABM berkoordinasi dengan PLN untuk memindahkan jaringan utilitas listrik ke sisi selatan jalan. Proses ini meliputi pemasangan tiang baru, pergeseran kabel, dan relokasi trafo. Pemindahan utilitas menjadi prasyarat penting sebelum penggalian tanah dapat dimulai, karena memastikan tidak ada gangguan layanan listrik bagi warga sekitar.

Setelah utilitas selesai dipindahkan, tim teknis akan melakukan excavation dan memasang corrugated concrete sheet pile (CCSP) atau tiang pancang beton di sepanjang tepi sungai. CCSP berperan sebagai penahan tanah dan mencegah erosi selama proses pelebaran.

Dampak Bagi Masyarakat dan Ekonomi Lokal

  • Pengurangan kemacetan: Dengan lebar jalan yang meningkat, kapasitas kendaraan naik sekitar 40 %, memperlancar arus lalu lintas di persimpangan Babatan UNESA, Wiyung, dan area Lidah Wetan.
  • Peningkatan aksesibilitas: Warga yang tinggal di perumahan padat kini dapat menempuh perjalanan ke pusat kota atau ke selatan Surabaya dengan waktu tempuh yang lebih singkat, mendukung mobilitas kerja dan pendidikan.
  • Peluang usaha: Proyek infrastruktur biasanya memicu munculnya usaha kecil seperti warung makan, kios bahan bangunan, dan layanan transportasi mikro di sekitar lokasi kerja.
  • Pengurangan risiko banjir: Sistem drainase yang baru diharapkan menurunkan kejadian genangan air hingga 60 % pada musim hujan, melindungi rumah warga dan fasilitas publik.
  • Nilai properti naik: Penelitian pasar properti Surabaya menunjukkan bahwa proyek jalan utama meningkatkan nilai tanah sekitar 8‑12 % dalam jangka 2‑3 tahun.

Tantangan dan Prospek Ke Depan

Walaupun prospek positif, proyek ini tidak lepas dari tantangan. Pembebasan lahan menjadi kendala utama, terutama pada segmen terakhir yang masih menunggu persetujuan warga. Koordinasi lintas‑seksi antar‑dinas (DSDABM, Dinas Perhubungan, dan PLN) juga menuntut sinkronisasi jadwal yang ketat.

Selain itu, perubahan iklim meningkatkan intensitas curah hujan, sehingga desain drainase harus mampu menampung volume air yang lebih tinggi dibandingkan standar lama. DSDABM telah menyesuaikan kapasitas saluran tepi dengan perhitungan hidrologi terbaru.

Ke depan, Wali Kota Eri Cahyadi menargetkan penyelesaian keseluruhan proyek pada akhir 2027, menjadikannya tonggak penting dalam rencana pengembangan wilayah barat‑selatan Surabaya. Jika berhasil, proyek ini dapat menjadi model bagi inisiatif infrastruktur serupa di kota‑kota besar Indonesia, menggabungkan aspek teknis, sosial, dan lingkungan dalam satu paket terpadu.

Dengan komitmen pemerintah daerah, partisipasi aktif masyarakat, dan dukungan sektor swasta, pelebaran Jalan Menganti diharapkan tidak hanya mengurai kemacetan, tetapi juga memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Surabaya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup