Berbekal Pengalaman 40 Tahun, Mbah Supar Bantu Bangun Talud TMMD di Dukuh Bulu, Simbol Gotong Royong Era Baru

Berbekal Pengalaman 40 Tahun, Mbah Supar Bantu Bangun Talud TMMD di Dukuh Bulu, Simbol Gotong Royong Era Baru

Semangat Gotong Royong di TMMD ke‑129

Plat Merah – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke‑129 yang dilaksanakan pada akhir pekan 22 Juli 2026 di Dukuh Bulu, Desa Bulu Lor, Kecamatan Jambon, Ponorogo, menjadi saksi nyata kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, dan warga setempat. Lebih dari seratus relawan militer, termasuk satgas yang dipimpin Sertu Mugiyono dari Lanud Iswahjudi, bergandengan tangan dengan warga desa untuk membangun talud penahan longsor di sepanjang jalan utama. Di antara mereka, seorang tokoh lokal yang menarik perhatian media adalah Supar, atau lebih akrab disapa Mbah Supar, berusia 75 tahun, yang menggeluti profesi tukang bangunan selama empat dekade.

Siapa Mbah Supar? – Sejarah Singkat Seorang Tukang Senior

Supar memulai kariernya pada tahun 1979 di Jakarta, ketika masih berusia 18 tahun. Pada era 1980‑an, ia pindah ke Surabaya dan bergabung dengan proyek‑proyek pembangunan apartemen, rumah susun, dan infrastruktur publik. Selama 40 tahun, ia menguasai teknik pemasangan batu kali, pembuatan talud, serta manajemen tim kerja kecil. Pengalaman tersebut membuatnya menjadi sosok yang dihormati di kalangan pekerja konstruksi tradisional.

Dalam wawancara singkat, Mbah Supar mengungkapkan filosofi hidupnya: “Yang penting hati senang. Kalau sedang susah, ya dibuat senang. Karena rasa senang atau susah itu berasal dari diri kita sendiri.” Pendekatan psikologis ini, dikombinasikan dengan keterampilan teknis, menjadikannya contoh produktivitas di usia senja.

Kenapa Talud Itu Penting? – Latar Belakang Geografis Dukuh Bulu

Dukuh Bulu terletak di dataran rendah yang dilalui oleh aliran sungai kecil bernama Kali Brantas. Musim hujan yang intens biasanya berlangsung antara November hingga Maret, mengakibatkan erosi pada tepi jalan utama yang menghubungkan desa‑desa tetangga. Tanpa penahan, jalan tersebut mudah tergerus, menimbulkan biaya perbaikan tahunan yang cukup tinggi bagi pemerintah Kabupaten Ponorogo.

Talud, atau dinding penahan tanah, berfungsi mengurangi kecepatan aliran air, menstabilkan lereng, dan memperpanjang umur pakai jalan. Pembangunan talud di Dukuh Bulu diharapkan mengurangi kerusakan jalan hingga 70 % berdasarkan studi teknis Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian PUPR.

Data Teknis Pembangunan Talud TMMD di Dukuh Bulu

KomponenSpesifikasiKuantitas
Panjang talud120 meter
Tinggi rata‑rata1,5 meter
Bahan utamaBatu kali (ukuran 30 × 30 cm)3.600 potong
Pasir pengisiPasir lokal12 m³
Tenaga kerjaRelawan TNI + warga + tukang profesional~120 orang

Kronologi Pelaksanaan TMMD di Dukuh Bulu

  1. 15 Juli 2026 – Koordinasi awal antara Kodim 0802 Ponorogo, Pemerintah Kabupaten, dan Badan Desa. Penyusunan rencana kerja dan pengadaan material.
  2. 18 Juli 2026 – Kedatangan satgas TMMD dari Lanud Iswahjudi. Briefing bersama warga, penunjukan koordinator lapangan (Sertu Mugiyono).
  3. 20 Juli 2026 – Persiapan lokasi: pembersihan area, pemasangan patok batas, dan pengukuran tinggi talud.
  4. 22 Juli 2026 (Sabtu) – Pelaksanaan inti: penataan batu kali, pengisian pasir, dan penyesuaian akhir. Mbah Supar memimpin tim warga dalam penyusunan pasangan batu.
  5. 23 Juli 2026 – Evaluasi akhir, dokumentasi, dan serah terima kepada Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Ponorogo.

Peran Mbah Supar dalam Proses Konstruksi

Walaupun berusia 75 tahun, Mbah Supar tidak hanya menjadi tenaga kerja biasa. Ia berperan sebagai:

  • Koordinator teknis – Mengarahkan penempatan batu kali agar memperoleh kestabilan optimal.
  • Mentor – Mengajarkan teknik “pasangan batu” kepada relawan muda yang belum pernah terlibat dalam proyek serupa.
  • Motivator – Menyuntikkan semangat melalui cerita‑cerita kerja di Jakarta dan Surabaya, mengingatkan bahwa kerja keras tak mengenal usia.

“Kalau tidak segera dibuat, jalan ini pasti akan tergerus air sungai saat musim penghujan,” tegasnya sambil menyesuaikan posisi batu terakhir.

Dampak Langsung Bagi Masyarakat Desa

Berikut beberapa dampak yang diantisipasi setelah talud selesai dibangun:

  • Keamanan transportasi – Mengurangi risiko longsor yang dapat menutup jalur utama, sehingga mobilitas penduduk menjadi lebih lancar.
  • Penghematan biaya perawatan – Pemerintah daerah dapat menurunkan alokasi anggaran perbaikan jalan tahunan hingga 30 %.
  • Peningkatan nilai properti – Tanah di sekitar jalan dengan talud yang stabil cenderung mengalami kenaikan harga jual.
  • Penguatan ikatan sosial – Gotong royong yang melibatkan generasi muda dan senior mempererat rasa kebersamaan.

Implikasi Lebih Luas bagi Kebijakan Pembangunan Desa

Keberhasilan TMMD di Dukuh Bulu memberikan beberapa pelajaran penting bagi pembuat kebijakan:

  • Pemanfaatan tenaga senior – Mengintegrasikan pekerja berpengalaman seperti Mbah Supar dapat meningkatkan kualitas teknis tanpa menambah biaya signifikan.
  • Model kolaboratif TNI‑Desa – Sinergi antara militer dan warga dapat dijadikan template untuk proyek infrastruktur kecil‑skala di daerah rawan bencana.
  • Pemetaan prioritas talud – Data teknis yang dihasilkan dapat dimasukkan ke dalam Sistem Informasi Geografis (SIG) Kabupaten untuk penentuan zona prioritas selanjutnya.

Tips Mbah Supar Agar Tetap Produktif di Usia Senja

Selama diskusi informal, Mbah Supar membagikan tiga kiat utama yang dapat diadopsi oleh siapa saja yang ingin tetap aktif secara fisik dan mental:

  1. Jaga kebahagiaan hati – Menghadapi tantangan dengan sikap positif mengurangi stres dan meningkatkan stamina.
  2. Aktif bergerak setiap hari – Pekerjaan fisik ringan seperti mengangkat batu kecil atau menggaruk kebun menjaga kekuatan otot.
  3. Berbagi ilmu – Menjadi mentor bagi generasi muda tidak hanya menambah rasa berguna, tetapi juga melatih otak tetap tajam.

Harapan Kedepan

Dengan talud yang kini berdiri tegak, warga Dukuh Bulu menantikan musim hujan berikutnya dengan rasa lega. Mereka berharap keberhasilan ini dapat menginspirasi desa‑desa lain di Ponorogo untuk mengajukan program TMMD serupa. Bagi Mbah Supar, proyek ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan bukti bahwa pengalaman 40 tahun tetap relevan dalam membangun masa depan yang lebih aman.

Semangat gotong‑royong yang terwujud pada 22 Juli 2026 menjadi cermin kuat bahwa kolaborasi lintas generasi dan institusi dapat menghasilkan infrastruktur yang tahan lama, sekaligus menumbuhkan rasa kebanggaan kolektif di tengah perubahan iklim yang menantang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup