Harga Cabai Meroket, Telur Ayam Anjlok: Bapanas Siapkan Penyerapan untuk Jaga Stabilitas Pangan
Plat Merah – Jakarta – Pergerakan harga pangan nasional kembali menunjukkan dinamika yang kontras. Di tengah lonjakan harga cabai yang menembus angka 20 persen, harga telur ayam ras justru mengalami penurunan drastis di tingkat peternak. Menyikapi kondisi ini, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan langkah strategis berupa penyerapan telur dan daging ayam untuk menjaga keseimbangan harga. Situasi ini menjadi sorotan karena harga cabai turun tajam, Bapanas siapkan penyerapan telur dan daging ayam sebagai upaya intervensi pasar.
Berdasarkan data Panel Harga Pangan Nasional Bank Indonesia per Senin (8/6/2026), harga cabai merah keriting melonjak 20,52 persen menjadi Rp55.000 per kilogram. Cabai merah besar naik 18,53 persen ke Rp58.900 per kilogram, sementara cabai rawit hijau melesat 15,91 persen ke Rp69.200 per kilogram. Kenaikan ini dipicu faktor musiman dan gangguan iklim yang menekan produksi di tingkat petani. Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, menjelaskan bahwa ketersediaan cabai sangat dipengaruhi musim. “Kalau musimnya bagus, panennya besar, harganya stabil. Tapi saat iklim tidak bagus, produksi turun dan harga naik,” ujarnya dalam konferensi pers.
Sementara itu, harga telur ayam ras justru mengalami deflasi beruntun. Data Bapanas menunjukkan harga telur di tingkat peternak turun dari Rp27.236 per kilogram pada Maret menjadi Rp24.424 per kilogram pada awal Juni 2026. Deflasi telur ayam ras mencapai 5,14 persen pada Mei 2026. Kondisi ini menekan pendapatan peternak dan mengancam keberlanjutan usaha peternakan rakyat. Pemerintah pun bergerak cepat dengan menyiapkan penyerapan telur dan daging ayam melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kerja sama dengan Badan Gizi Nasional (BGN). Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya fokus menekan harga saat naik, tetapi juga melakukan intervensi saat harga jatuh terlalu rendah. “Untuk harga di bawah HET, misalnya telur, kita langsung koordinasi dengan Bapanas agar bisa diserap di SPHP daerah setempat,” kata Budi di Kantor Kemendag.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas harga pangan nasional. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan pemerintah terus mendorong optimalisasi penyerapan produksi peternak, terutama di sentra produksi seperti Jawa Timur. “Sekarang telur turun. Tugas kami harus mengangkat harga di tingkat produsen, tapi tetap jaga di hilir jangan sampai melebihi harga acuan,” ujar Ketut. Dengan demikian, harga cabai turun tajam, Bapanas siapkan penyerapan telur dan daging ayam menjadi strategi utama untuk melindungi peternak sekaligus menjaga keterjangkauan konsumen.
Di sisi lain, harga daging ayam ras segar justru turun 8,95 persen menjadi Rp35.600 per kilogram, memberikan ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan protein lebih murah. Namun, kenaikan harga bawang putih (18,03 persen) dan bawang merah (2,36 persen) turut membebani belanja rumah tangga. Pemerintah memastikan pasokan pangan dalam kondisi aman dan terus memantau harga melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) di ratusan kabupaten/kota.
Kesimpulannya, fluktuasi harga pangan yang terjadi memerlukan respons cepat dan terpadu. Melalui penyerapan telur dan daging ayam, Bapanas berupaya menstabilkan harga di hulu dan hilir. Ke depannya, optimalisasi program MBG diharapkan menjadi instrumen efektif untuk menyerap kelebihan produksi peternak. Masyarakat diminta tetap tenang karena pemerintah hadir untuk menjaga keseimbangan harga. Harga cabai turun tajam, Bapanas siapkan penyerapan telur dan daging ayam merupakan langkah konkret yang terus dijalankan demi kesejahteraan petani, peternak, dan konsumen.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.










