Hadapi Kenaikan Harga BBM, Walikota Bandung Farhan Ambil Langkah Mengejutkan: Efisiensi Operasional
Plat Merah – Hadapi kenaikan harga BBM, Walikota Bandung Farhan ambil langkah mengejutkan: efisiensi operasional. Langkah ini diambil menyusul kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, yang mulai berlaku sejak Rabu (10/6/2026). Walikota Bandung, Muhammad Farhan, langsung menginstruksikan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkot Bandung untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi saat berangkat kerja.
Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya penghematan anggaran di tengah lonjakan harga BBM. Selain itu, Pemkot Bandung juga akan memberlakukan pembatasan jatah BBM kendaraan dinas, memangkas anggaran perjalanan dinas, dan mendorong penggunaan transportasi bersama bagi ASN. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menekan biaya operasional yang membengkak akibat kenaikan harga BBM.
Hadapi kenaikan harga BBM, Walikota Bandung Farhan ambil langkah mengejutkan: efisiensi operasional juga mencakup rencana penggunaan bus sekolah untuk perjalanan dinas. Kebijakan ini mirip dengan yang diterapkan di beberapa daerah lain, seperti DKI Jakarta dan Surabaya, yang juga mulai menggencarkan efisiensi setelah kenaikan harga Pertamax.
Kenaikan harga BBM ini memicu reaksi cepat dari sejumlah kepala daerah. Selain Bandung, daerah lain seperti Bogor, Tangerang, dan Semarang juga mengumumkan langkah serupa. Di Bandung, Walikota Farhan menekankan pentingnya adaptasi terhadap kenaikan harga BBM dengan cara yang kreatif dan efisien. “Kita harus berhemat, tapi jangan sampai mengorbankan pelayanan publik,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Hadapi kenaikan harga BBM, Walikota Bandung Farhan ambil langkah mengejutkan: efisiensi operasional tidak hanya berhenti pada pengurangan penggunaan kendaraan. Pemkot Bandung juga akan mengevaluasi ulang anggaran perjalanan dinas dan mempertimbangkan kebijakan work from home (WFH) bagi ASN yang pekerjaannya memungkinkan. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi konsumsi BBM secara signifikan.
Sementara itu, harga Pertamax Green (RON 95) juga naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter, sementara Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Solar subsidi masih bertahan di Rp6.800 per liter. Kenaikan ini mendorong pemerintah daerah untuk mencari solusi inovatif dalam pengelolaan anggaran.
Kesimpulannya, langkah efisiensi yang diambil Walikota Bandung Farhan merupakan respons cepat dan strategis dalam menghadapi kenaikan harga BBM. Dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, membatasi jatah BBM, dan mendorong transportasi bersama, diharapkan beban anggaran dapat ditekan tanpa mengganggu pelayanan publik. Kebijakan ini juga menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengelola dampak kenaikan harga BBM.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












