Perjuangan warga Gayo bangun swadaya Jembatan Enang-Enang dan menembus isolasi pascabencana – ‘Nggak ada harapan lain, kecuali masyarakat’
Plat Merah – Enam bulan pascabencana banjir bandang dan longsor yang merusak Jembatan Enang-Enang di Bener Meriah, Aceh, warga Gayo memutuskan membangun kembali akses vital itu secara swadaya. Mereka bergotong royong memperbaiki jalan dan jembatan yang ambruk pada akhir November 2025, karena tak bisa menunggu pembangunan permanen yang dijadwalkan pemerintah baru pada 2027.
Jembatan Enang-Enang di Kampung Arul Cincin, Kecamatan Pintu Rime Gayo, merupakan jalur utama yang menghubungkan Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah menuju Banda Aceh. Kerusakan total akibat bencana membuat distribusi kebutuhan pokok seperti beras, telur, minyak goreng, dan ikan terpaksa dialihkan melalui jalur alternatif Uwer Lah dan Simpang Lancang.
Plt Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Zulkarnaini, menyatakan bahwa pembangunan jembatan permanen di Enang-Enang baru akan dimulai pada 2027. Namun, warga tak bisa menunggu. Mereka membutuhkan akses ke kebun dan aktivitas sehari-hari. Dengan alat berat ekskavator dan tenaga sukarela, mereka mulai mengeruk bekas badan jalan dan memperbaiki struktur jembatan darurat.
BPJN telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah dan perwakilan warga. Zulkarnaini mengimbau agar jembatan swadaya itu hanya digunakan untuk sepeda motor dan pejalan kaki, bukan kendaraan roda empat atau truk. “Kita belum bisa rekomendasi untuk roda empat melewati Enang-Enang. Kalau untuk dilewati sepeda motor atau pejalan kaki mungkin bisa,” ujarnya.
Pemerintah sendiri telah menyiapkan jalur alternatif melalui Desa Wih Porak yang sudah dilebarkan. Namun, warga tetap memilih memperbaiki jalur Enang-Enang karena lebih dekat. “Sudah tanya ke masyarakat kenapa mau membangun sendiri, itu karena mereka mau lebih cepat daripada mereka harus berputar,” jelas Zulkarnaini.
Tim Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera bersama BPJN dan PT Hutama Karya telah meninjau lokasi untuk memperkuat mitigasi bencana susulan. Fokus mereka adalah memastikan proses pemulihan mengutamakan keselamatan warga dan ketahanan wilayah dalam jangka panjang.
Semangat gotong royong warga Gayo ini mencerminkan ketidakberdayaan menunggu bantuan pemerintah. Seperti diungkapkan salah satu warga, “Enggak ada harapan lain, kecuali masyarakat.” Kini, Jembatan Enang-Enang kembali berfungsi terbatas, menjadi bukti bahwa di tengah keterbatasan, solidaritas warga mampu menembus isolasi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.










