Dari Freeport hingga anak Prabowo: Paradoks etis di ArtJog dalam ekosistem seni Indonesia
Plat Merah – Dari Freeport hingga anak Prabowo: Paradoks etis di ArtJog dalam ekosistem seni Indonesia masih menjadi sorotan publik. Pada tahun 2016, seniman menolak hadirnya PT Freeport Indonesia sebagai sponsor ArtJog ke-sembilan. Sekarang, tahun 2026, para seniman kembali menolak keterlibatan anak Presiden Prabowo, Didit Hediprasetyo, dalam ArtJog. Mereka menuduh bahwa kehadiran Didit Hediprasetyo akan mengotori jiwa seniman dan merusak reputasi ArtJog.
Selain itu, seniman juga menunjukkan kekecewaan terhadap keputusan ARTJOG dalam menghapus nama Didit Hediprasetyo dari publikasi dan mengakhiri keikutsertaan Didit sebagai sambutan pembukaan. Mereka mengatakan bahwa keputusan ini adalah tindakan yang tidak adil dan tidak transparan.
Didit Hediprasetyo Foundation (DHF) sendiri telah menjadi sponsor ekosistem seni, namun keputusan penghapusan nama DHF dari publikasi dan Didit batal memberi sambutan di acara pembukaan ARTJOG 2026. Founder ARTJOG, Heri Pemad, mengatakan bahwa keputusan penghapusan nama DHF dilakukan demi menghormati aspirasi para seniman dan publik.
Selain itu, Kurator ARTJOG, Farah Wardani, mengungkapkan bahwa situasi ini menjadi pengalaman baru baginya. Pameran sempat menjadi perbincangan luas di media sosial bahkan sebelum publik melihat langsung karya-karya yang dipamerkan. Ia menyebut fenomena ini sebagai cerminan dari semangat zaman generasi saat ini.
Kejadian ini menunjukkan bahwa ada paradoks etis di dalam ekosistem seni Indonesia. Di satu sisi, seniman ingin menunjukkan kemampuan dan kreativitas mereka, namun di sisi lain, mereka juga ingin menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Jadi, bagaimana kita dapat menyeimbangkan antara kreativitas dan kepedulian?
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.









