Tradisi Keboan Aliyan Sedot Perhatian Ribuan Warga dan Wisatawan
Latar Belakang Tradisi Keboan Aliyan
Plat Merah – Tradisi Keboan Aliyan, sebuah ritual adat khas masyarakat agraris Banyuwangi, kembali menyedot perhatian publik pada 21 Juni 2026. Diwarisi sejak abad ke-19, tradisi ini merupakan simbol syukur masyarakat terhadap hasil bumi sekaligus permohonan keselamatan. Nama ‘Keboan’ mengacu pada kerbau (kebo) yang menjadi hewan simbolis dalam kehidupan pertanian komunitas ini. Ritual ini bukan sekadar tontonan, melainkan wujud kearifan lokal yang mengakar pada nilai-nilai spiritual dan sosial.
Kronologi Pelaksanaan Acara
- 06.00 – 08.00 WIB: Selamatan kampung dilangsungkan di empat penjuru desa dengan doa bersama dan penyajian sesaji.
- 09.00 – 11.00 WIB: Ritual Ider Bumi dimulai saat warga yang mengalami trance meniru perilaku kerbau, diiringi musik tradisional.
- 12.00 – 14.00 WIB: Prosesi arak-arakan berlangsung sambil memperagakan tarian pertanian tradisional.
- 15.00 – 17.00 WIB: Penutupan acara dengan pembagian hasil panen kepada warga dan pengunjung.
Dampak Ekonomi dan Pariwisata
| Indikator | Data 2025 | Data 2026 |
|---|---|---|
| Jumlah pengunjung | 12.000 orang | 18.000 orang |
| Pendapatan desa dari tiket | 500 juta rupiah | 800 juta rupiah |
| Transaksi UMKM lokal | 3,2 miliar rupiah | 4,7 miliar rupiah |
Kenaikan 50% jumlah pengunjung tahun ini menunjukkan potensi ekonomi kreatif yang besar. Pemkab Banyuwangi menyatakan akan memperkuat sinergi antara tradisi ini dengan destinasi wisata sekitarnya.
Kritik Konstruktif dan Tantangan
- Perlu peningkatan fasilitas wisata agar tidak hanya mengandalkan atraksi kerasukan.
- Harus dibatasi akses perekam media ke area ritual inti untuk menjaga keaslian budaya.
- Perlu pelatihan bagi generasi muda sebagai calon pelaku adat.
Kebijakan Pemerintah Lokal
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Banyuwangi, Suratno, mengungkapkan dukungan pemerintah terhadap pelestarian tradisi ini. “Kami akan mendirikan museum kecil di desa untuk dokumentasi sejarah tradisi, serta memperluas promosi melalui media digital,” ujar Suratno. Pemkab juga berencana mengembangkan rute wisata budaya yang menghubungkan Aliyan dengan destinasi sejarah lainnya di Banyuwangi.
Implikasi Globalisasi Terhadap Tradisi
Dalam era digital, Tradisi Keboan Aliyan menghadapi dua sisi. Di satu sisi, media sosial memperluas jangkauan promosi. Di sisi lain, ada risiko komersialisasi berlebihan yang mengubah makna ritual. Kepala Desa Aliyan, Agus Nurbani Yusuf, menekankan pentingnya menjaga kesimbangan: “Kami ingin tradisi tetap autentik, bukan menjadi pertunjukan komersial belaka.”
Partisipasi Masyarakat Luar Daerah
Acara kali ini dihadiri delegasi dari 12 negara, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Belanda. Mereka tertarik dengan konsep harmonisasi antara agama, budaya, dan lingkungan yang terwujud dalam ritual ini. Diharapkan, kolaborasi internasional ini bisa meningkatkan kualitas pengelolaan destinasi wisata budaya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












