Harga Emas Antam Anjlok, Buyback Merosot Lebih Dalam di Tengah Tekanan Global
Plat Merah – Harga emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) kembali mencatatkan pelemahan signifikan dalam sepekan terakhir. Pada periode 22 hingga 27 Juni 2026, harga emas Antam anjlok sebesar Rp8.000 per gram menjadi Rp2.660.000 per gram. Penurunan ini terjadi di tengah volatilitas pasar global dan fluktuasi nilai tukar mata uang. Fenomena yang lebih mencengangkan adalah harga buyback atau pembelian kembali emas Antam yang merosot lebih tajam, mencapai Rp23.000 per gram, sehingga memperlebar selisih margin bagi para investor.
Berdasarkan data resmi dari laman Logam Mulia Antam, pada Senin (22/6) harga emas dibuka di level Rp2.668.000 per gram. Namun, sepanjang pekan harga terus bergerak fluktuatif dan akhirnya ditutup di Rp2.660.000 per gram pada Sabtu (27/6). Pergerakan komoditas safe haven ini tidak linear, dipengaruhi oleh aksi jual di pasar global dan penguatan dolar Amerika Serikat. Di sisi lain, emas berjangka di COMEX New York justru mencatat kenaikan tipis 0,2 persen menjadi 1.283,80 dolar AS per ounce, didorong oleh pelemahan pasar ekuitas AS. Namun, penguatan dolar AS membatasi kenaikan lebih lanjut.
Situasi di pasar komoditas lain juga tak kalah dramatis. Harga minyak mentah dunia anjlok di bawah USD 70 per barel setelah Selat Hormuz kembali dibuka untuk lalu lintas kapal. Minyak Brent turun 4,3 persen menjadi USD 71,99 per barel, sementara WTI turun 3,7 persen ke USD 69,23 per barel. Pasar kelebihan pasokan karena pasokan dari Timur Tengah kembali mengalir, mengakhiri reli harga akibat ketegangan AS-Iran. Contango pada harga berjangka Brent melebar ke level tertinggi sejak 2023, menandakan kelebihan pasokan.
Di tengah gejolak harga komoditas, pemerintah Indonesia mengambil langkah antisipatif. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengumumkan bahwa Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih akan menjadi pembeli siaga (offtaker) ketika harga gabah petani atau ikan nelayan anjlok. Program ini dijadwalkan berjalan pada akhir 2026 dengan melibatkan 36.000 kopdes di seluruh Indonesia. Zulhas menegaskan bahwa kopdes akan membeli hasil panen saat harga di bawah acuan, lalu menjualnya ke Bulog atau SPPG.
Sementara itu, di sektor riil, pelaku usaha kecil juga merasakan dampak perlambatan. Sri Maryati, pedagang busana pengantin di Pasar Beringharjo Yogyakarta, bertahan di tengah gempuran toko online dengan menjadi agen BRILink sejak 2018. Ia mencari sumber pendapatan tambahan untuk menjaga usahanya tetap hidup di tengah perubahan pola belanja masyarakat.
Pelemahan harga emas dan komoditas lainnya mencerminkan ketidakpastian ekonomi global. Investor disarankan untuk mencermati pergerakan nilai tukar dan kebijakan moneter AS. Di sisi domestik, langkah pemerintah melalui kopdes diharapkan dapat menjadi jaring pengaman bagi petani dan nelayan saat harga anjlok. Kuncinya adalah adaptasi dan diversifikasi, baik bagi investor maupun pelaku usaha tradisional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.










