PMI Jember Percepat Persiapan Sertifikat CPOB 2026, Target Juli
Latar Belakang Sertifikasi CPOB bagi Unit Donor Darah Jember
Plat Merah – Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Jember kini berada pada tahap akhir persiapan untuk memperoleh Sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI. Sertifikasi CPOB bukan sekadar formalitas; ia menandai kepatuhan pada standar internasional yang mengatur kualitas, keamanan, dan kebersihan dalam produksi serta distribusi produk darah. Bagi PMI Jember, capaian ini berarti meningkatkan kepercayaan publik, menurunkan risiko kontaminasi, dan membuka peluang kerjasama lebih luas dengan rumah sakit serta lembaga kesehatan nasional.
Progres Persiapan Hingga September 2026
Pada rapat evaluasi yang dipimpin Ketua PMI Kabupaten Jember, Zainollah, bersama Kepala UDD dr. Agus Burhan Syah dan tim CPOB, tercatat bahwa 95% persyaratan sudah terpenuhi. Dokumen operasional mencapai 72 Standar Prosedur Operasional (SPO) yang telah disahkan, sementara temuan yang masih perlu ditindaklanjuti hanya sekitar 6%. Berikut adalah rangkuman status utama peralatan kritis yang menjadi fokus akhir tahun ini:
| Alat | Status | Target Penyelesaian |
|---|---|---|
| Plasma Freezer FFP | Sedang Pengadaan | Juli 2026 |
| Plasma Freezer PUF | Sedang Pengadaan | Juli 2026 |
| Alat Nucleic Acid Testing (NAT) | Kajian KSO | Agustus 2026 |
| Refrigerated Centrifuge (RC) | Pengadaan Cepat | Juli 2026 |
Kronologi Langkah-Langkah Kunci
- 15 Mei 2026 – Rapat koordinasi internal PMI Jember membahas rencana aksi CPOB.
- 22 Mei 2026 – Penyusunan 72 SPO selesai dan disahkan oleh dewan teknis.
- 30 Mei 2026 – Inspeksi awal sistem mutu oleh tim auditor independen; hasil menunjukkan pencapaian 95% standar.
- 5 Juni 2026 – Pengajuan permohonan pengadaan Plasma Freezer FFP dan PUF melalui APBD.
- 12 Juni 2026 – Penyusunan draft perjanjian KSO untuk alat NAT.
- 20 Juni 2026 – Penyelesaian dokumen teknis untuk Refrigerated Centrifuge.
- 28 Juni 2026 – Rapat evaluasi akhir; keputusan pengajuan sertifikasi ke BPOM pada Agustus 2026.
Analisis Dampak Bagi Berbagai Pihak
Masyarakat Jember: Dengan sertifikasi CPOB, kualitas plasma dan darah yang diterima rumah sakit akan lebih terjamin, mengurangi risiko transfusi yang tidak aman. Kepercayaan publik terhadap layanan donor darah diharapkan meningkat, yang pada gilirannya dapat meningkatkan partisipasi donor.
Rumah Sakit dan Klinik: Standar CPOB memberikan jaminan bahwa produk darah yang disuplai memenuhi persyaratan keamanan farmasi, mempermudah proses audit internal rumah sakit dan mempercepat prosedur klinis.
Pemerintah Kabupaten: Keberhasilan PMI Jember dalam meraih sertifikasi menjadi bukti efektifitas alokasi anggaran kesehatan, serta dapat menjadi model bagi kabupaten lain dalam peningkatan layanan darah.
Industri Medis: Penyedia alat laboratorium seperti NAT dan centrifuge akan mendapatkan peluang kontrak baru, terutama melalui skema Kerja Sama Operasional (KSO) yang menekankan kolaborasi jangka panjang.
Strategi Pengadaan dan Kolaborasi
- Pengadaan Terpadu – Unit Layanan Pengadaan (ULP) mengintegrasikan proses tender untuk plasma freezer dan centrifuge dalam satu paket, meminimalkan waktu tunggu.
- KSO untuk NAT – Menggunakan model KSO memungkinkan PMI Jember mengakses teknologi NAT terkini tanpa beban investasi penuh, sambil berbagi biaya operasional dengan mitra.
- Pelatihan SDM – Selama 2025–2026, tim teknis mengikuti program sertifikasi internal CPOB yang diselenggarakan oleh BPOM, memastikan kompetensi berkelanjutan.
Harapan dan Tantangan Kedepan
Ketua PMI Kabupaten Jember, Zainollah, menyatakan optimisme tinggi: “Sinergi antara tim teknis dan bagian pengadaan berjalan sangat baik, sehingga kami yakin target perolehan sertifikat CPOB dapat tercapai tahun ini.” Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait kelancaran alur dana APBD, ketersediaan suplier alat khusus, serta kepatuhan berkelanjutan setelah sertifikasi.
Setelah memperoleh sertifikat CPOB, PMI Jember berencana meluncurkan program edukasi masyarakat tentang pentingnya donor darah aman, serta mengintegrasikan sistem manajemen mutu berbasis digital untuk pelacakan produk darah secara real‑time. Langkah tersebut diharapkan tidak hanya mempertahankan standar tinggi, tetapi juga menjadi contoh inovatif bagi jaringan PMI di seluruh Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.










