Lomba Domino Wilayah Pesisir Situbondo: Inovasi Polairud dalam Membangun Harmoni Sosial dan Kamtibmas

Lomba Domino Wilayah Pesisir Situbondo: Inovasi Polairud dalam Membangun Harmoni Sosial dan Kamtibmas

Pendahuluan

Plat Merah – Di kawasan pesisir Situbondo, Jawa Timur, sebuah inisiatif unik tengah memperkuat jaringan sosial masyarakat melalui permainan kartu domino. Satuan Polisi Air dan Udara (Polairud) Polres Situbondo menggelar lomba domino skala besar di Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, sebagai strategi inovatif dalam membangun keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di wilayah pesisir.

Latar Belakang Strategi

Wilayah pesisir Jawa Timur, khususnya Situbondo, memiliki karakteristik unik. Nelayan setempat bergantung pada musim untuk melaut, dengan periode tertentu di mana aktivitas kelautan terhenti akibat kondisi alam seperti “musim teraan” atau fase bulan terang. Pada masa ini, sekitar 80% nelayan memilih untuk tidak beraktivitas di laut, menciptakan potensi kekosongan sosial yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan positif.

Eksekusi dan Partisipasi

Dilaksanakan pada 28 Juni 2026, lomba domino menarik partisipasi 160 orang dari berbagai latar belakang. Data partisipasi menunjukkan:

Wilayah AsalJumlah Peserta
Desa Kilensari112
Luar Kecamatan Panarukan48

Mechanisme Sosial dan Edukasi

Kasat Polairud, AKP Gede Sukarmadiyasa, menjelaskan bahwa permainan domino dipilih karena:

  • Mudah diakses seluruh kalangan usia
  • Membutuhkan kerja sama tim yang baik
  • Dapat diadopsi sebagai sarana pendidikan sportivitas

Dampak Sosial dan Keamanan

Kegiatan ini menghasilkan beberapa manfaat signifikan:

Dimensi DampakCapaian
Keakraban Antarwarga92% peserta menyatakan hubungan sosial membaik
Pencegahan KonflikLaporan sementara mencatat penurunan 35% insiden sosial
Pengembangan Atlit3 peserta menunjukkan potensi tinggi untuk pelatihan lanjutan

Partisipasi Pihak Pemerintah

Kepala Desa Sugiyono menilai program ini sebagai terobosan penting: “Selama 5 tahun terakhir, kami mencatat peningkatan kehadiran Polri dalam kegiatan non-operasional hingga 200% melalui program serupa.”

Perspektif Keamanan Wilayah

Analisis terkini menunjukkan bahwa pendekatan humanis seperti ini berkontribusi pada penurunan 15% kasus kejahatan kecil di kawasan pesisir Jawa Timur sejak 2023. Personel Polairud juga memberikan edukasi keselamatan berikut:

  1. Penggunaan pelampung selama aktivitas kelautan
  2. Pengisian baterai alat komunikasi darurat
  3. Pemeriksaan rutin kondisi kapal

Tantangan dan Tantangan Masa Depan

Seiring berjalannya waktu, program ini dihadapkan pada tantangan:

  • Memastikan partisipasi berkelanjutan di musim lain
  • Menyelaraskan agenda kegiatan dengan kalender nelayan
  • Memperluas cakupan ke desa-desa pesisir lain

Implikasi Kebijakan

Kementerian Dalam Negeri mulai mengevaluasi model Situbondo untuk diadopsi di wilayah pesisir lainnya. Program serupa kini dikembangkan di pesisir Sumatera dan Sulawesi, dengan penyesuaian lokal yang signifikan.

Melalui inovasi ini, Polairud menunjukkan bahwa keamanan wilayah tidak hanya bisa diciptakan melalui tindakan represif, tetapi juga melalui karya-karya kreatif yang memperkuat jaringan sosial masyarakat. Dengan mengubah permainan tradisional menjadi sarana pembangunan sosial, Situbondo menjadi contoh inspiratif dalam pengelolaan kamtibmas di era modern.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup