Manajemen BYAN Bantah Rumor Akuisisi oleh Haji Isam, Saham Anjlok Tajam
PlatMerah.com – Harga saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Rabu (19/8/2026) setelah manajemen resmi membantah rumor akuisisi oleh perusahaan milik Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam. Saham BYAN sempat terjun bebas hingga 14,91% ke level Rp 14.700 dari penutupan sebelumnya, memicu kepanikan di kalangan investor.
Penurunan ini terjadi pasca rumor yang beredar luas mengenai rencana Haji Isam untuk mengakuisisi sekitar 62,2% saham BYAN. Namun, Corporate Secretary BYAN, Jenny Quantero, menegaskan bahwa perseroan tidak memiliki informasi terkait rencana pengambilalihan tersebut maupun pihak yang terlibat dalam transaksi, sebagaimana disampaikan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI).
Fakta Utama Penurunan Saham BYAN
- Saham BYAN melemah 6,95% ke Rp16.075 pada penutupan sesi pertama perdagangan.
- Saham sempat turun hingga 14,91% di awal sesi perdagangan.
- Volume perdagangan mencatat 3,79 juta saham dengan nilai transaksi sekitar Rp61,63 miliar.
- Penurunan juga terjadi pada saham-saham yang terafiliasi dengan Haji Isam, seperti Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), dan Dana Brata Luhur Tbk (TEBE).
Klarifikasi Manajemen BYAN dan Dampak Pasar
Manajemen BYAN secara resmi membantah adanya rencana akuisisi saham oleh Jhonlin Grup yang dipimpin Haji Isam. Pernyataan ini menjelaskan bahwa tidak ada transaksi pengambilalihan saham sekitar 62,2% seperti yang dirumorkan sebelumnya.
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menyampaikan bahwa penurunan saham BYAN dan saham terkait lebih merupakan bentuk normalisasi pasar setelah spekulasi yang beredar tidak dikonfirmasi secara resmi. Investor yang masuk berdasarkan sentimen spekulatif melakukan aksi ambil untung sehingga terjadi tekanan jual masif.
Elandry mengingatkan pentingnya investor untuk tidak menjadikan rumor atau nama besar sebagai dasar investasi utama dan lebih mengutamakan analisis fundamental, valuasi, serta likuiditas saham agar terhindar dari aksi spekulatif atau “goreng-menggoreng” saham.
Konteks Kepemilikan Saham BYAN
Data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Juli 2026 menunjukkan struktur kepemilikan saham BYAN yang terkonsentrasi tinggi, dengan beberapa pemegang saham besar menguasai sebagian besar saham perusahaan. Low Tuck Kwong, pendiri BYAN, memiliki sekitar 40,25% saham, sementara pemegang saham lain seperti Sumber Suryadaya Prima dan kelompok Korea Power memegang saham antara 3 hingga 10 persen.
Dengan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi, BYAN juga memiliki jumlah saham free float sekitar 21,29 persen. Meskipun demikian, rumor akuisisi ini sempat memicu volatilitas harga saham dan perhatian pasar modal Indonesia.
Performa Keuangan Terbaru BYAN
Secara keuangan, BYAN mencatatkan laba bersih sebesar USD 410,26 juta pada semester pertama 2026, meningkat 17,46% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba per saham dasar naik menjadi USD 0,012 dari sebelumnya USD 0,010, menunjukkan performa perusahaan yang solid meski diwarnai gejolak pasar saham akibat rumor akuisisi.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi investor untuk selalu mengedepankan informasi resmi dan analisis fundamental dalam pengambilan keputusan investasi, terutama pada saham dengan volatilitas tinggi dan rumor yang belum terkonfirmasi.
Investor disarankan untuk terus memantau keterbukaan informasi dari perusahaan dan pergerakan pasar guna mengantisipasi risiko yang mungkin timbul dari sentimen pasar yang tidak berdasar.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













