Harga Pertamax Tak Turun di Tengah Penurunan BBM Lain, Ini Penjelasan Pertamina

Harga Pertamax Tak Turun di Tengah Penurunan BBM Lain, Ini Penjelasan Pertamina

Plat Merah – Harga Pertamax menjadi sorotan publik setelah PT Pertamina Patra Niaga resmi menurunkan harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi per 1 Juli 2026, namun harga Pertamax justru tetap bertahan di level Rp16.250 per liter. Penurunan harga berlaku untuk Pertamax Turbo menjadi Rp19.300 per liter, Dexlite Rp19.700 per liter, dan Pertamina Dex Rp21.150 per liter. Sementara itu, harga Pertamax Green 95 juga tidak berubah di Rp17.000 per liter. Keputusan ini menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat mengapa harga Pertamax tidak ikut turun padahal harga minyak dunia dilaporkan menurun.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menjelaskan bahwa evaluasi harga BBM nonsubsidi dilakukan secara berkala dalam periode waktu tertentu sesuai kondisi pasar. “Evaluasi harga BBM nonsubsidi dilakukan secara berkala, bisa dalam periode waktu tertentu,” ujarnya. Penyesuaian harga mempertimbangkan dinamika harga minyak dunia, aspek fiskal, serta daya beli masyarakat. Sebelumnya, pada 10 Juni 2026, harga Pertamax mengalami kenaikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sehingga kenaikan tersebut masih dalam masa evaluasi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta masyarakat bersabar menunggu keputusan resmi pemerintah terkait harga Pertamax. “Pada saat harga minyak lagi naik, dua bulan lebih hampir tiga bulan kita tidak naikkan. Masa baru naik (harga Pertamax) dua minggu atau tiga minggu? teman-teman sudah tanya itu,” katanya di Komplek Parlemen, Jakarta, Senin (29/6/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa pemerintah memiliki mekanisme tersendiri dalam menentukan harga BBM nonsubsidi.

Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menambahkan bahwa penyesuaian harga telah dikoordinasikan dengan pemerintah. “Sesuai yang kita ketahui, penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengacu pada dinamika harga pasar minyak dunia dan mengikuti regulasi atau mekanisme yang berlaku. Tentunya langkah penyesuaian ini telah dikoordinasikan dengan pemerintah,” jelasnya. Selain itu, Pertamina tetap memastikan kualitas produk sesuai spesifikasi sehingga masyarakat memperoleh manfaat optimal.

Di sisi lain, harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak mengalami perubahan, masing-masing tetap Rp10.000 per liter dan Rp6.800 per liter. Sementara itu, SPBU swasta seperti Shell dan BP juga menurunkan harga beberapa produk mereka. Shell V-Power Diesel turun menjadi Rp21.340 per liter, sementara BP Ultimate Diesel juga mengalami penurunan. Namun, harga BBM nonsubsidi lainnya seperti Shell V-Power dan BP Ultimate tetap stabil.

Untuk wilayah Sumatera, harga Pertamax bervariasi tergantung besaran Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). Di Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan Lampung, harga Pertamax ditetapkan Rp16.650 per liter, lebih tinggi dari Jakarta. Sementara Pertamax Turbo di wilayah tersebut dibanderol Rp19.750 per liter, Dexlite Rp20.150 per liter, dan Pertamina Dex Rp21.650 per liter.

Kesimpulannya, harga Pertamax yang tidak turun pada awal Juli 2026 merupakan hasil evaluasi berkala Pertamina yang mempertimbangkan fluktuasi harga minyak dunia dan kebijakan pemerintah. Masyarakat diharapkan memahami bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi memerlukan waktu dan koordinasi dengan berbagai pihak. Pertamina berkomitmen untuk terus menghadirkan harga yang kompetitif dengan tetap menjaga kualitas produk.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup