Bangga! Kiara Asal Musi Rawas Lolos ke Babak Selanjutnya D’Academy 8 2026, Tari Piring Gelas Ditetapkan sebagai Warisan Budaya

Bangga! Kiara Asal Musi Rawas Lolos ke Babak Selanjutnya D'Academy 8 2026, Tari Piring Gelas Ditetapkan sebagai Warisan Budaya

Plat Merah – Musi Rawas, Sumatera Selatan, kembali mencuri perhatian publik. Di tengah guyuran hujan yang membawa berkah bagi para petani, kabar membanggakan datang dari ajang Dangdut Academy 8 Indosiar 2026. Kiara Soraya, akademia asal Musi Rawas, berhasil melaju ke babak berikutnya setelah tampil memukau di Top 42 Group 5. Tak hanya itu, Tari Piring Gelas, kesenian tradisional khas Musi Rawas, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2026. Dua prestasi ini menjadi bukti bahwa Musi Rawas tidak hanya kaya akan budaya, tetapi juga melahirkan talenta berbakat di kancah nasional.

Dalam kompetisi yang digelar Selasa malam itu, Kiara yang tergabung dalam Tim Coach Fildan Rahayu sukses mempertahankan posisinya. Ia membawakan lagu “Cuma Satu” dengan karakter vokal khas dan penuh penghayatan, berhasil mengungguli peserta asal Banyumas, Naela, yang harus tersenggol. Keberhasilan Kiara menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Sumatera Selatan, khususnya Kabupaten Musi Rawas, yang sejak awal memberikan dukungan penuh. Saat ini, Kiara menjadi satu-satunya wakil Sumsel yang tersisa di D’Academy 8 2026 setelah dua peserta lainnya, Andrean dan Anisa OKI, harus mengakhiri perjalanan lebih awal.

Sementara itu, di bidang kebudayaan, Tari Piring Gelas asal Musi Rawas resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2026 oleh Kementerian Kebudayaan. Penetapan ini diputuskan dalam Sidang Penetapan WBTb Termin I pada awal Juli 2026. Tari Piring Gelas menjadi satu-satunya usulan dari Kabupaten Musi Rawas yang lolos pada sidang termin pertama. Keunikan tarian ini terletak pada atraksi penari yang menari di atas susunan piring dan gelas tanpa merusaknya. Secara turun-temurun, penari harus perempuan yang masih gadis atau belum menikah. Tarian ini biasanya dipentaskan pada pesta pernikahan, khitanan, acara adat, hingga kegiatan kenegaraan. Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Musi Rawas, Erwina, mengungkapkan rasa syukurnya atas penetapan ini. “Alhamdulillah tahun ini ada satu tarian asal Musi Rawas yang lolos dalam sidang pertama,” katanya.

Di sisi lain, cuaca di Musi Rawas juga memberikan kabar baik. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang mengguyur sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Tugumulyo, selama lebih dari tiga jam pada Rabu (22/7/2026). Hujan ini disambut gembira oleh para petani yang sebelumnya khawatir dengan musim kemarau. “Alhamdulillah hujan, buat pendingin alam, karena beberapa hari ini cuaca cukup panas akibat kemarau,” ujar Heri, seorang petani di Desa Nawangsasi. Kepala Pelaksana BPBD Musi Rawas, H A Darsan, berharap hujan terus turun untuk menekan titik hotspot, mengingat daerah tersebut telah menetapkan status darurat Karhutla hingga November 2026.

Dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Musi Rawas menggelar pelatihan jurnalistik di Hotel Dewinda, Lubuklinggau, pada Rabu (22/7/2026). Pelatihan yang menghadirkan wartawan senior Sumsel, Maspril Aries, ini bertema “Meningkatkan Kompetensi Wartawan Melalui Karya Jurnalistik untuk Kemajuan Daerah”. Ketua PWI Musi Rawas, Jhuan Silitonga, menekankan pentingnya wartawan tidak hanya menyampaikan informasi secara cepat, tetapi juga mampu menghadirkan karya jurnalistik yang mendalam, akurat, dan inspiratif.

Kesimpulannya, Musi Rawas menunjukkan sinergi positif antara prestasi individu, pelestarian budaya, kondisi alam, dan pengembangan profesi. Kiara Soraya mengharumkan nama daerah di ajang nasional, Tari Piring Gelas mendapatkan pengakuan resmi negara, hujan membawa harapan bagi petani dan upaya pencegahan karhutla, serta PWI berkomitmen meningkatkan kualitas jurnalisme. Semua ini menjadi modal berharga bagi Musi Rawas untuk terus maju dan bersinar.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup