Detik-Detik Mengerikan Maling Ayam Tewas Dikeroyok Massa di Bali, Sempat Beri Uang Sekolah Anak Sebelum Hilang
Plat Merah – Kisah tragis seorang pria yang diduga sebagai maling ayam di Bali mengguncang publik. KD (38), warga Buleleng, tewas setelah dikeroyok massa di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Peristiwa ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga, terutama karena KD sempat menyerahkan uang Rp2 juta untuk biaya sekolah anaknya sebelum akhirnya menghilang selama tiga hari.
Menurut sepupu korban, Made Parta, KD menyerahkan uang tersebut pada Kamis (23/7/2026) lalu. Setelah itu, ia tidak pernah kembali ke rumah. Keluarga mulai curiga setelah tiga hari tidak ada kabar. “Begitu almarhum menyerahkan uang Rp2 juta sekian itu, terus dia menghilang. Tapi untuk uang gedung itu sudah ter-cover, sudah dibayarkan sama istrinya,” ujar Parta, Senin (27/7/2026).
Keluarga akhirnya mendapat kabar duka dari kelian dusun dan perbekel. Mereka diminta datang ke Polsek Baturiti pada Jumat (24/7/2026). Di sana, tanpa diberi penjelasan penyebab kematian, keluarga diminta menandatangani surat perdamaian. “Awalnya saya tandatangan perdamaian karena meninggalnya biasa. Saya belum tahu kalau kondisinya seperti itu,” kata Parta.
Namun sehari kemudian, keluarga dikejutkan oleh video viral di media sosial yang memperlihatkan detik-detik pengeroyokan terhadap KD. Dari situlah mereka baru mengetahui bahwa KD tewas akibat dikeroyok massa. Video tersebut menunjukkan kerumunan pria tanpa ragu memukul, menendang, dan memaki korban yang sudah tidak berdaya. Tuduhan tanpa pembuktian hukum berubah menjadi vonis mati yang dieksekusi secara brutal.
Polres Tabanan segera bertindak. Kapolres Tabanan AKBP Putu Bayu Padi mengumumkan penetapan lima tersangka, masing-masing berinisial MG, WS, KB, MK, dan ND. “Saat ini lima orang telah kami tetapkan sebagai tersangka dan dilakukan penahanan terkait dugaan tindak pidana kekerasan secara bersama-sama yang mengakibatkan korban meninggal dunia,” ujarnya, Selasa (28/7/2026). Polisi juga telah memeriksa 18 saksi dan masih membuka kemungkinan adanya tersangka lain.
Kasus maling ayam ini juga menuai sorotan dari Ketua Umum DPP Partai Perindo, Angela Tanoesoedibjo. Dalam Bimtek Anggota Legislatif Partai Perindo di Jakarta, Senin (27/7/2026) malam, Angela menampilkan cuplikan pemberitaan tersebut. Ia menekankan pentingnya kepekaan sosial. “Jadi ada anak yang kehilangan ayahnya tiba-tiba, tewas karena ayahnya diduga mencuri. Saya nggak bicara soal motifnya di sini, saya nggak bicara soal kasus hukumnya di sini, semua lagi berproses,” kata Angela. Ia mengingatkan para legislator untuk hadir di tengah masyarakat dan menumbuhkan harapan.
Peristiwa ini bukan sekadar ledakan emosi massa. Seorang akademisi feminis, Iris Marion Young, dalam tulisannya menjelaskan logika masculinist protection, di mana kelompok laki-laki merasa memiliki otoritas moral untuk mengambil alih peran penegakan hukum. Fenomena vigilantisme seperti ini telah berulang kali terjadi di Indonesia, seperti kasus Muhammad Al Zahra (2017) di Bekasi dan Mira (2020) di Jakarta Utara, di mana tuduhan tanpa bukti berujung pada kematian.
Kasus maling ayam di Bali menjadi pengingat bahwa tindakan main hakim sendiri tidak dapat dibenarkan. Negara harus hadir memberikan keadilan, bukan amuk massa. Keluarga korban kini berencana melapor ke polisi setelah mengetahui penyebab kematian yang sebenarnya. Sementara itu, publik menanti proses hukum berjalan transparan agar tidak ada lagi korban jiwa akibat tuduhan yang belum terbukti.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











