Tempat Ibadah Retak Terdampak Gempa, Umat Katolik Watujuke Ende Gelar Misa di Halaman Rumah
PlatMerah.com, Ende – Gempa besar yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebabkan keretakan pada kapela Stasi Santo Thomas Watujuke, Kuasi Paroki Santo Simon Petrus Anaranda di Kabupaten Ende. Akibatnya, umat Katolik setempat menggelar misa di halaman rumah warga sebagai alternatif beribadah sementara tempat ibadah belum dapat digunakan.
Kerusakan Tempat Ibadah dan Dampak Gempa
<pKapela yang berjarak sekitar tiga kilometer dari pemukiman warga mengalami keretakan akibat gempa pekan lalu. Meskipun tidak ada korban jiwa atau luka, trauma masih dirasakan terutama oleh anak-anak. Banyak warga juga masih takut berada di dalam rumah karena kerusakan pada rumah mereka. Sebagian besar kerusakan dialami oleh rumah warga, sedangkan kapela mengalami keretakan sehingga belum bisa digunakan untuk misa.
Misa di Halaman Rumah sebagai Bentuk Keteguhan Iman
Dalam situasi sulit tersebut, umat tetap melaksanakan misa bersama di halaman rumah warga tanpa tenda. Misa yang biasanya digelar pada Sabtu malam di kapela, kini dilakukan secara terbatas di halaman rumah. Romo Luis Ngadha, Romo Paroki Stasi Santo Thomas Watujuke, menyatakan bahwa misa ini menjadi wujud keteguhan umat dalam mempertahankan kehidupan iman meski dalam kondisi penuh ketakutan dan keterbatasan.
“Walaupun kita mengalami gempa dan ada rasa takut, umat tetap berkumpul untuk berdoa dan merayakan Ekaristi. Ini menjadi kekuatan bagi umat agar tidak kehilangan harapan,” ujar Romo Luis.
Bantuan Sembako dari JHL Foundation
Pada Sabtu malam, bertepatan dengan misa, Yayasan JHL Merah Putih Kasih (JHL Foundation) menyalurkan bantuan berupa 100 paket sembako kepada umat terdampak gempa di wilayah tersebut. Setiap paket berisi 5 kilogram beras, telur, dan mi instan. Bantuan ini menjadi yang pertama diterima masyarakat sejak gempa terjadi sekitar sepekan sebelumnya.
Yohanes Raja, tokoh masyarakat Desa Nuangeda yang merupakan daerah terpencil dengan akses sulit, menyampaikan rasa syukur atas bantuan yang datang tepat waktu. Ia juga mengapresiasi perhatian dari Pembina JHL Foundation, Jerry Hermawan Lo.
“Kami berterima kasih kepada Bapak Jerry Hermawan Lo. Kami mendoakan semoga beliau panjang umur, sehat selalu, dan diberikan berkat,” kata Yohanes.
Servatius Namo, perwakilan warga, menambahkan bahwa kehadiran JHL Foundation tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga semangat kepada warga yang masih diliputi ketakutan pasca-gempa.
“Kami merasa tidak sendiri. Kami bersyukur karena ada yang datang sampai ke tempat kami dan membantu umat yang sedang mengalami kesulitan,” ujarnya.
Proses Penyaluran Bantuan dan Semangat Kebersamaan
Relawan JHL Foundation, Kristoforus Nusa, menyatakan bahwa proses penyaluran bantuan berjalan lancar dan dapat menjangkau wilayah pegunungan yang jauh dari pusat keramaian. Umat merasa bahagia menerima bantuan ini, yang menjadi tanda kepedulian dan dukungan di tengah kesulitan.
Setelah misa dan penyerahan bantuan, umat berkumpul mengucap syukur. Meskipun kapela masih retak dan banyak rumah mengalami kerusakan, semangat kebersamaan dan iman tetap dijaga dalam menghadapi tantangan pasca-gempa.
Informasi Tambahan
- Jumlah umat dalam wilayah pelayanan stasi sekitar 400 orang.
- Misa diadakan di halaman rumah tanpa tenda sebagai antisipasi trauma dan ketakutan warga.
- Desa Mautinda dan Desa Ratewati merupakan wilayah mayoritas Katolik yang terdampak gempa.
- Bantuan dari JHL Foundation merupakan langkah awal untuk pemulihan dan dukungan sosial bagi warga terdampak.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











