Septialina, Negosiator Mahasiswi yang Membuka Blokade Polisi di Aksi Semarang

Septialina, Negosiator Mahasiswi yang Membuka Blokade Polisi di Aksi Semarang

PlatMerah.com, Semarang – Ketegangan terjadi saat ratusan mahasiswa BEM Semarang Raya menggelar aksi unjuk rasa di Jalan Pemuda menuju Tugu Muda, Semarang, pada Rabu petang, 26 Agustus 2026. Polisi sempat membatasi akses massa dengan blokade, namun negosiasi yang dilakukan oleh Septialina Sari, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (Unnes), berhasil membuka blokade tersebut sehingga mahasiswa dapat melanjutkan orasi di Tugu Muda.

Aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap sejumlah isu, termasuk kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggap sarat korupsi serta menuntut perhatian pemerintah atas situasi negara yang dianggap genting. Septialina tampil sebagai negosiator utama yang membuka ruang komunikasi antara mahasiswa dan aparat kepolisian di tengah situasi yang sempat memanas dengan saling dorong antara massa dan petugas.

Peran Septialina dalam Negosiasi Blokade

Septialina, yang memakai atribut aksi dan berada di barisan depan, berperan penting dalam membuka barikade polisi yang menghalangi massa agar bisa berorasi di kawasan Tugu Muda. Ia menekankan pentingnya keterlibatan perempuan dalam aksi sebagai bagian dari kesetaraan gender dalam menyuarakan aspirasi politik. Negosiasi ini berlangsung di tengah ketegangan, dan akhirnya aparat membuka blokade pada pukul 17.30 WIB, memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menyampaikan tuntutannya secara langsung.

Konteks Aksi dan Tuntutan Mahasiswa

Massa aksi terdiri dari gabungan mahasiswa dari berbagai universitas di Semarang yang tergabung dalam BEM Semarang Raya. Polisi awalnya membatasi aksi di Jalan Pemuda karena kekhawatiran akan kemacetan parah di ruas jalan utama kota. Setelah negosiasi, massa diperbolehkan berorasi di Tugu Muda dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian berseragam dan tidak berseragam.

Tuntutan utama mahasiswa meliputi kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggap bermasalah, serta desakan agar pemerintah lebih serius menangani kondisi negara yang sedang dinilai genting. Mahasiswa juga berupaya melebur dengan masyarakat untuk memperkuat aspirasi mereka setelah tuntutan sebelumnya yang disampaikan di DPRD Jawa Tengah tidak mendapat respons memadai.

Dampak dan Pentingnya Negosiasi dalam Aksi

Keterlibatan Septialina sebagai negosiator perempuan mencerminkan pentingnya peran perempuan dalam gerakan sosial dan politik. Pembukaan blokade oleh aparat tidak hanya memungkinkan kelancaran aksi, tetapi juga menunjukkan bahwa komunikasi yang baik antara massa aksi dan kepolisian dapat mengurangi potensi konflik dan menciptakan ruang aspirasi yang konstruktif.

Pengamanan ketat di sekitar Balai Kota Semarang serta pengawalan terhadap massa aksi menandai kesiapan aparat dalam mengantisipasi potensi gangguan selama aksi berlangsung. Meski sempat terjadi ketegangan, aksi berlangsung dengan tertib setelah negosiasi berhasil membuka blokade.

Aksi ini menjadi contoh bagaimana negosiasi dan dialog dapat menjadi solusi dalam menghadapi aksi unjuk rasa, sekaligus mengangkat isu-isu penting yang sedang berlangsung di masyarakat, khususnya di kalangan mahasiswa Semarang.

Dengan demikian, peran Septialina sebagai negosiator tidak hanya membuka blokade fisik, tetapi juga membuka ruang dialog dan penyampaian aspirasi secara damai di tengah situasi yang menegangkan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup