Polisi Ungkap Jejak Terakhir Sinyal Ponsel Jurnalis yang Hilang di Perairan Selat Sunda

Polisi Ungkap Jejak Terakhir Sinyal Ponsel Jurnalis yang Hilang di Perairan Selat Sunda

PlatMerah.com, Serang – Polisi mengungkapkan bahwa sinyal telepon seluler milik salah satu jurnalis yang hilang kontak saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau sempat terdeteksi di sekitar Lampung. Sinyal tersebut berasal dari nomor milik Firman Daus, jurnalis salah satu rombongan yang hilang di Perairan Selat Sunda.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Banten, Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea, menjelaskan bahwa nomor telepon Firman Daus menggunakan kartu Telkomsel Kartu Halo dengan perangkat iPhone 14. Sinyal ponsel tersebut terdeteksi pada hari pertama setelah kapal hilang kontak melalui jaringan Base Transceiver Station (BTS) di Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, terutama di sekitar Pulau Sebesi dengan jangkauan sekitar tiga kilometer.

Setelah terdeteksi, perangkat ponsel tersebut tidak aktif kembali hingga saat ini, menandakan hilangnya kontak dan kemungkinan besar kejadian tragis menimpa rombongan jurnalis yang terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru kapal tersebut.

Aksi Tabur Bunga di Tengah Laut

Satu hari setelah operasi pencarian resmi dihentikan pada 17 September 2026, keluarga korban melakukan aksi tabur bunga di Perairan Selat Sunda sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi para korban. Kegiatan ini dilakukan menggunakan kapal KN SAR 247 yang bertolak dari Pelabuhan Pelindo 3 Ciwandan, Kota Cilegon dan berlangsung di titik koordinat terakhir kapal hilang kontak.

Nakhoda KN SAR 247, Tetuka Sapta Arif Rohadi, menyampaikan bahwa aksi tabur bunga tersebut diikuti oleh keluarga korban dan sejumlah insan pers dengan suasana penuh haru. Keluarga korban menyatakan bahwa tabur bunga bukan hanya seremonial, melainkan ungkapan cinta, doa, dan harapan bagi keselamatan para korban.

Operasi Pencarian dan Tantangan yang Dihadapi Tim SAR

Selama 10 hari pencarian, tim SAR gabungan menghadapi berbagai tantangan seperti gelombang tinggi, arus laut yang kuat, serta abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau. Komandan Pos SAR Bakauheni, Rezie Kuswara Nunyai, menyampaikan bahwa titik lokasi terakhir yang menjadi patokan pencarian didapat dari fitur berbagi lokasi yang dikirim oleh salah satu jurnalis sebelum hilang kontak.

Tim SAR melakukan pencarian mulai dari kawasan sekitar Pulau Sebesi hingga mendekati Gunung Anak Krakatau. Namun, pencarian tidak membuahkan hasil yang signifikan sehingga operasi resmi dihentikan pada tanggal 17 September 2026.

Temuan Jenazah dan Proses Identifikasi

Selain jejak sinyal ponsel, pihak kepolisian juga menindaklanjuti temuan jenazah di Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu, yang diduga terkait dengan insiden tersebut. Jenazah berjenis kelamin laki-laki dengan perkiraan usia sekitar 50 tahun dan tinggi badan sekitar 163 sentimeter ditemukan mengenakan celana pendek jenis boxer.

Polda Banten telah berkoordinasi dengan Polda Bengkulu untuk proses identifikasi jenazah secara ilmiah menggunakan data antemortem yang diperoleh dari keluarga korban, termasuk data DNA. Proses identifikasi ini diperkirakan memakan waktu sekitar dua minggu, namun diharapkan dapat diselesaikan lebih cepat untuk memberikan kepastian kepada keluarga korban.

Keberadaan sinyal ponsel yang sempat terdeteksi serta temuan jenazah menjadi bagian penting dari upaya pencarian meskipun hasil akhir dari operasi SAR belum dapat dipastikan. Keluarga korban dan masyarakat terus memberikan dukungan serta doa untuk keselamatan para jurnalis dan kru kapal yang hilang tersebut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup