Diskoperindag Kabupaten Pasuruan Gelar Pasar Murah, 8 Komoditas Dijual Murah untuk Stabilkan Harga Pokok

Diskoperindag Kabupaten Pasuruan Gelar Pasar Murah, 8 Komoditas Dijual Murah untuk Stabilkan Harga Pokok

Plat Merah – Pasuruan – Dalam upaya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan mendorong penguatan ekonomi lokal, Pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) kembali menggelar Festival Pasar Murah. Acara yang berlangsung dua hari berturut-turut di Lapangan Nguling, Desa Nguling, Kecamatan Nguling ini menawarkan 8 jenis komoditas utama dengan potongan harga signifikan. Inisiatif ini tidak hanya memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah daerah dalam memperkuat sektor UMKM.

Strategi Subsidi: Dampak pada Daya Beli Masyarakat

Festival Pasar Murah ini merupakan wujud nyata subsidi pemerintah untuk komoditas strategis. Data perbandingan harga menunjukkan diskon hingga 15% dari harga pasaran. Contohnya:

KomoditasHarga Pasar (Normal)Harga Pasar MurahDiskon (%)
Beras SPHP 5 kgRp 64.000Rp 54.00015,6%
Beras Premium 5 kgRp 75.000Rp 70.0006,7%
Gula 1 kgRp 17.500Rp 14.00020%
Minyak Goreng 1 literRp 20.000Rp 13.00035%
Minyak Premium 1 literRp 22.000Rp 17.00022,7%

Kepala Diskoperindag Kabupaten Pasuruan, Taufiqul Ghony, mengungkapkan bahwa inisiatif ini adalah bagian dari komitmen pemerintah untuk menjaga ketersediaan pangan murah. “Subsidi ini bukan sekadar bantuan sementara, tapi juga strategi untuk mengurangi beban ekonomi masyarakat sekaligus memacu kinerja pasar lokal,” ujarnya.

Kolaborasi Multi-Sektor: Sinergi untuk Kelancaran Event

Untuk mensukseskan acara ini, Diskoperindag bekerja sama dengan berbagai institusi seperti:

  • Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Peternakan
  • Kadin Kabupaten Pasuruan
  • Asosiasi Pengolah dan Pemasar Perikanan
  • Perum Bulog
  • PT Sinergi Gula Nusantara
  • Indofood
  • Organisasi pemuda, komunitas pedagang, dan IKM

“Kolaborasi lintas sektor ini memastikan kegiatan berjalan efektif, terutama dalam distribusi barang dan pengawasan harga,” kata Ghony. Sinergi ini juga mencerminkan pendekatan holistik dalam mengatasi tantangan ekonomi saat ini.

Pasar Murah Sebagai Eksperimen Sosial

Acara ini bukan hanya sekadar pembagian subsidi. Festival Pasar Murah juga menjadi tempat uji coba model ekonomi berbasis komunitas. Warga yang hadir, terutama lapisan menengah ke bawah, merespons positif inisiatif ini. Banyak dari mereka mengungkapkan bahwa diskon harga memungkinkan mereka mengalokasikan anggaran ke kebutuhan lain, seperti pendidikan anak atau pembelian alat produksi.

Selain itu, pihak Diskoperindag menyediakan layanan gratis bagi pelaku UMKM, seperti:

  • Percepatan sertifikasi halal
  • Pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB)
  • Konsultasi pemasaran

“Layanan ini penting untuk menaikkan kelas UMKM dan memberi akses ke pasar yang lebih luas,” jelas Ghony. Salah seorang pengusaha kerajinan lokal, Ibu Sari, mengaku mendapat manfaat langsung dari program ini. “Saya baru mengurus sertifikat halal, ini akan meningkatkan kepercayaan konsumen,” katanya.

Kronologi dan Dampak Jangka Panjang

Acara ini berlangsung selama dua hari, 15-16 Juli 2026, dengan kinerja yang diukur melalui indikator:

  1. Volume transaksi harian
  2. Jumlah peserta UMKM yang terdaftar
  3. Kepuasan warga (dikumpulkan melalui survei)

Analisis awal menunjukkan bahwa 78% peserta UMKM mengalami peningkatan penjualan hingga 30% selama acara. Sementara itu, warga yang datang rata-rata menghabiskan Rp 150.000 per transaksi, naik 25% dari estimasi awal.

Langkah ini juga berkontribusi pada stabilitas harga di pasar umum. Harga bawang merah dan gula, misalnya, turun 8-10% di wilayah Nguling hingga Ngajum, menurut data Dinas Perdagangan Provinsi Jawa Timur.

Dengan menggabungkan subsidi langsung dan penguatan ekosistem UMKM, program ini mencerminkan pendekatan progresif dalam kebijakan ekonomi daerah. Diskoperindag berencana mengulangi kegiatan serupa di 10 kecamatan lain pada semester kedua 2026.”

Kehadiran Festival Pasar Murah di Pasuruan memberikan pelajaran penting tentang bagaimana inovasi kebijakan dapat mengatasi tantangan ekonomi. Dalam konteks inflasi global dan ketidakpastian pasar, inisiatif ini menunjukkan bahwa kolaborasi pemerintah, swasta, dan masyarakat bisa menjadi solusi yang berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup