DPRD Surabaya Dorong Evaluasi Ketat Direksi BUMD yang Terus Merugi

DPRD Surabaya Dorong Evaluasi Ketat Direksi BUMD yang Terus Merugi

Latar Belakang Krisis Kinerja BUMD Surabaya

Plat Merah – Kota Surabaya, sebagai kota terbesar di Jawa Timur, telah lama menempatkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai ujung tombak perekonomian lokal. Namun, data laporan keuangan 2021-2025 menunjukkan tren memprihatinkan: dari 12 BUMD yang beroperasi, 7 di antaranya mengalami kerugian berkelanjutan. Kondisi ini memicu kritik dari lembaga legislatif setempat, DPRD Surabaya, yang menilai manajemen strategis perusahaan daerah memerlukan perubahan radikal.

Kinerja BUMD Surabaya (2021-2025)

Nama BUMD2021 (Rp)2022 (Rp)2023 (Rp)2024 (Rp)2025 (Rp)
Perumda Pasar Surabaya525 miliar480 miliar420 miliar390 miliar360 miliar
Bank Jatim (cabang Surabaya)750 miliar820 miliar780 miliar710 miliar680 miliar
RPH Wonocolo-150 miliar-180 miliar-210 miliar-230 miliar-250 miliar
Surabaya Properti120 miliar110 miliar95 miliar85 miliar75 miliar

Strategi DPRD untuk Meningkatkan Kinerja BUMD

Anggota Komisi B DPRD Surabaya Budi Leksono, yang dikenal kritis terhadap kinerja BUMD, menekankan tiga langkah utama:

  • Evaluasi Kinerja Direksi Berbasis Target: Direksi harus dinilai berdasarkan pencapaian target bisnis, bukan hanya kepatuhan hukum. DPRD menyarankan penerapan Key Performance Indicators (KPI) yang spesifik untuk setiap perusahaan.
  • Optimalisasi Aset Non-Produktif: Lebih dari 40% aset BUMD di Surabaya belum memberikan kontribusi ekonomi signifikan. DPRD merekomendasikan kajian ulang penggunaan aset untuk kerja sama dengan investor atau penyewaan strategis.
  • Reformasi Struktur Manajemen: DPRD menuntut sinergi antar-bidang operasional dan efisiensi biaya. Termasuk penyesuaian jumlah pegawai dengan kebutuhan produksi riil.

Dampak Langsung dan Jangka Panjang

  • Bagi Masyarakat: Stabilitas ekonomi daerah terancam jika BUMD terus merugi. PAD yang rendah akan membatasi anggaran pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan.
  • Bagi Pemerintah: DPRD menuntut transparansi dalam proses evaluasi direksi. Kepercayaan publik pada pemerintah daerah akan turun jika tidak ada perubahan konkretnya.
  • Bagi Investasi: Investor domestik dan asing cenderung menghindari Surabaya jika kinerja BUMD tidak membaik, mengingat risiko investasi akan meningkat.

Contoh Implementasi: Reformasi RPH Wonocolo

RPH Wonocolo, yang terus merugi sejak 2021, menjadi contoh perluasan strategi DPRD. Budi Leksono menyarankan:

  1. Analisis ulang kapasitas operasional berdasarkan permintaan pasar.
  2. Penggunaan teknologi tracking untuk mengoptimalkan manajemen rantai suplai.
  3. Kerja sama dengan pemasok langsung dari desa-desa peternak untuk mengurangi biaya logistik.

Perbandingan dengan Kota Serupa

KotaStrategi BUMDHasil 2025
SemarangPrivatisasi sebagian BUMDPenurunan kerugian 60%
BandungPelatihan manajemen direkturKeuntungan meningkat 25%
SurabayaBelum ada reformasi signifikanKerugian meningkat 15%

Kritik dan Tantangan

Tantangan utama reformasi BUMD Surabaya mencakup:

  • Kebangkrutan potensial jika evaluasi direksi terlalu tajam.
  • Resistensi dari jajaran direksi yang sudah terbiasa dengan sistem lama.
  • Kurangnya keterlibatan publik dalam pengambilan keputusan.

Evaluasi tegas terhadap BUMD Surabaya bukan hanya soal angka-angka keuangan, tetapi juga soal komitmen pemerintah daerah untuk membangun tata kelola yang transparan dan akuntabel. Jika berhasil, Surabaya bisa menjadi model reformasi BUMD untuk kota-kota di seluruh Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup