Dunia Multipolar Buka Peluang Baru, Saham Multipolar Technology Melonjak Usai Stock Split
Plat Merah – Jakarta – Lanskap global saat ini tengah bergerak menuju tatanan multipolar, di mana persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok tidak hanya terjadi di ranah militer, tetapi juga meluas ke ekonomi, teknologi, dan diplomasi. Di tengah dinamika ini, Indonesia justru melihat peluang baru. Namun, di sisi lain, aksi korporasi PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) yang melakukan stock split justru menjadi sorotan pasar. Saham MLPT melonjak 25 persen pada hari pertama perdagangan dengan nilai nominal baru, menunjukkan optimisme investor terhadap prospek emiten teknologi di era multipolar.
Stock Split Multipolar Technology: Harga Teoretis Rp1.040
PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) resmi melaksanakan stock split dengan rasio 1:25 pada 21 Juli 2026. Nilai nominal saham berubah dari Rp100 menjadi Rp4 per saham. Harga teoretis saham setelah pemecahan ditetapkan sebesar Rp1.040, berdasarkan harga penutupan cum date di pasar reguler sebesar Rp25.950 per saham. Jumlah saham tercatat melonjak dari 1,875 miliar menjadi 46,875 miliar saham. Pada perdagangan perdana, saham MLPT dibuka di Rp1.120 dan sempat menyentuh level tertinggi Rp1.300, dengan volume transaksi mencapai 198.589 saham dan nilai transaksi Rp25,1 miliar.
Dunia Multipolar dan Peluang bagi Indonesia
Di tengah gejolak global, Indonesia dipandang memiliki modal geopolitik yang kuat. Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menilai bahwa era multipolar justru membuka peluang bagi negara-negara middle powers seperti Indonesia. “Geopolitik kita relatif aman karena rivalitas global saat ini tidak secara langsung mengarah ke Indonesia. Ini merupakan modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis berbagai negara,” ujarnya dalam DBS Insight Forum, Senin (20/7/2026). Menurutnya, Indonesia kini bukan lagi dipandang sebagai negara dunia ketiga, melainkan anggota G20 dengan status negara berpendapatan menengah ke atas.
Pergeseran rantai pasok global akibat rivalitas AS-Tiongkok juga memberikan keuntungan bagi Asia, termasuk Indonesia. Head of Investment & Insurance Products Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Djoko Sulistyo, menekankan bahwa investor perlu melihat peluang secara lebih luas dengan mempertimbangkan kekuatan fundamental setiap kawasan. “Saat ini kami melihat terdapat tiga kawasan utama yang menarik untuk dicermati, yaitu Amerika Serikat, Tiongkok, serta Asia termasuk Indonesia,” katanya. Amerika Serikat masih unggul dalam pengembangan AI, sementara Tiongkok mempercepat pemanfaatan AI di sektor industri. Asia, termasuk Indonesia, memperoleh manfaat dari pergeseran rantai pasok global.
Optimisme Pasar di Tengah Ketidakpastian Multipolar
Meskipun dunia menghadapi ketidakpastian akibat konfigurasi multipolar, saham MLPT justru menunjukkan performa positif. Sebelum stock split, saham MLPT sempat turun 11,21 persen dari Rp29.225 ke Rp25.950. Namun, setelah pemecahan, harga saham melonjak 25 persen. Investor domestik mendominasi pembelian dengan total Rp4,96 miliar, sementara investor asing mencatatkan pembelian Rp47,3 juta. Hal ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap prospek emiten teknologi di era multipolar.
Dalam konteks yang lebih luas, dunia multipolar membuka peluang baru bagi ekonomi Indonesia. Negara-negara middle powers diperkirakan akan memainkan peran penting dalam dua hingga tiga dekade mendatang. Dengan stabilitas geopolitik yang relatif terjaga, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai penggerak utama di kawasan. Namun, tantangan tetap ada. Seperti yang disampaikan Dino Patti Djalal, “Modal geopolitik saja tidak cukup. Kita tetap membutuhkan langkah-langkah konkret untuk memenangkan kepercayaan pasar dunia.”
Kepercayaan pasar tercermin dari aksi korporasi seperti stock split MLPT yang membuat saham lebih terjangkau bagi investor ritel. Dengan jumlah saham yang lebih banyak dan harga yang lebih rendah, likuiditas saham diharapkan meningkat. Hal ini sejalan dengan optimisme bahwa Indonesia mampu menarik investasi di tengah persaingan multipolar.
Kesimpulannya, era multipolar menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Bagi Indonesia, momentum ini harus dimanfaatkan dengan memperkuat fundamental ekonomi dan menjaga stabilitas. Sementara bagi investor, aksi korporasi seperti stock split MLPT menjadi sinyal positif bahwa emiten lokal siap bersaing di panggung global.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












