Peternak Ayam Soloraya Menjerit, Swasembada Jagung Tidak Bikin Harga Pakan Turun

Peternak Ayam Soloraya Menjerit, Swasembada Jagung Tidak Bikin Harga Pakan Turun

PlatMerah.com, Soloraya – Peternak ayam di wilayah Soloraya tengah menghadapi tekanan berat akibat tingginya harga pakan ayam, khususnya jagung, yang tidak kunjung turun meskipun pemerintah telah mencapai swasembada jagung. Kondisi ini memicu aksi demonstrasi yang dilakukan oleh para peternak sebagai bentuk protes terhadap kenaikan biaya produksi yang terus membebani usaha mereka.

Tekanan Berat bagi Peternak Ayam

Dalam aksi yang digelar, peternak ayam membentangkan sejumlah spanduk bertuliskan keluhan seperti ‘Harga Pakan Tidak Terjangkau’, ‘BKK Mahal’, dan ‘Pakan Mahal Bisa Bangkrut’. Mereka juga membagikan 50 ekor ayam hidup serta 1.000 butir telur kepada masyarakat sebagai simbol perjuangan mereka.

Krishandika Immanuel Raharjo, selaku penanggung jawab aksi, menyampaikan bahwa selama satu setengah tahun terakhir harga pakan ayam, terutama jagung, mengalami kenaikan signifikan yang sangat membebani peternak. Harga jagung di tingkat peternak bahkan mencapai Rp 6.800 hingga Rp 7.000 per kilogram, jauh di atas Harga Acuan Pemerintah (HAP) yang hanya Rp 5.500 per kilogram.

Harga Telur di Bawah Harga Acuan Pemerintah

Selain harga pakan yang tinggi, peternak juga menghadapi masalah harga jual telur yang berada di bawah HAP. Hal ini semakin mempersempit margin keuntungan mereka sehingga banyak peternak yang terpaksa menggadaikan aset seperti sertifikat tanah dan BPKB kendaraan demi menutupi biaya operasional.

Swasembada Jagung Belum Efektif Turunkan Harga Pakan

Meskipun pemerintah telah berhasil mencapai swasembada jagung, kondisi tersebut belum mampu menurunkan harga jagung pakan di tingkat peternak. Harga jagung internasional yang relatif murah pun tidak berdampak signifikan pada harga di dalam negeri. Peternak mengusulkan agar kebijakan impor jagung yang saat ini dibatasi dapat dibuka kembali sebagai solusi untuk menekan biaya pakan.

Kebijakan Impor dan Dampaknya terhadap Harga Pakan

Selain itu, kebijakan impor jagung yang hanya boleh dilakukan melalui BUMN dianggap turut menyumbang kenaikan harga pakan. Hal ini menimbulkan ketidakadilan bagi peternak rakyat yang semakin tertekan dengan biaya produksi yang naik, sementara peternak dengan modal besar dapat bertahan lebih mudah.

Jika kondisi ini berlarut-larut, dikhawatirkan peternak rakyat akan mengalami kebangkrutan dan berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di sektor peternakan ayam.

Implikasi bagi Industri Peternakan dan Ekonomi Lokal

Krisis harga pakan ini tidak hanya mengancam keberlangsungan usaha peternakan ayam di Soloraya, tetapi juga berpotensi mempengaruhi pasokan telur dan daging ayam di pasar lokal. Kenaikan harga pakan yang tak terkendali dapat berimbas pada harga produk akhir, yang pada akhirnya memberatkan konsumen. Oleh karena itu, penanganan masalah ini menjadi penting untuk menjaga stabilitas sektor peternakan dan kesejahteraan peternak serta konsumen.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup