Jurusan dengan Tingkat Pengangguran Tinggi di Indonesia Menurut LPEM FEB UI
PlatMerah.com – Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia menunjukkan tren peningkatan, meskipun akses pendidikan tinggi semakin meluas. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah pasar kerja di Indonesia siap menyerap lulusan perguruan tinggi secara optimal. Laporan Labor Market Brief Volume 7 Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap yang diterbitkan LPEM FEB UI pada 7 Juli 2026 mengungkapkan sejumlah jurusan yang menyumbang angka pengangguran terbuka yang signifikan di Indonesia.
Jurusan dengan Kontribusi Tinggi terhadap Pengangguran Sarjana
Berdasarkan data Sakernas 2025 yang dianalisis LPEM FEB UI, lima jurusan yang paling banyak menyumbang pengangguran lulusan sarjana adalah manajemen, hukum, ekonomi, pendidikan, dan akuntansi. Kelima jurusan ini menyumbang sekitar 40 persen dari keseluruhan pengangguran lulusan sarjana di Indonesia.
Jurusan-jurusan tersebut memiliki jumlah lulusan yang besar dan menjadi pilihan favorit di banyak perguruan tinggi di tanah air. Namun, tingginya jumlah lulusan ini tidak diimbangi dengan kesempatan kerja yang memadai, sehingga persaingan di pasar kerja menjadi sangat ketat, terutama untuk posisi entry level.
Tantangan Lulusan Ilmu Komputer dan Informatika
Meski bidang teknologi digital dinilai memiliki prospek kerja yang cerah, lulusan ilmu komputer dan informatika juga masih menghadapi tantangan dalam penyerapan tenaga kerja. Faktor keterampilan praktis dan pengalaman kerja menjadi penentu utama dalam mendapatkan pekerjaan di sektor ini, sehingga lulusan yang kurang memiliki pengalaman dan kemampuan praktis cenderung sulit bersaing.
Pengalaman Nyata Lulusan yang Menghadapi Pengangguran
Kasus nyata dialami oleh Raka (nama samaran), lulusan S2 manajemen pada tahun 2025 dari salah satu perguruan tinggi negeri favorit di Jabodetabek. Hingga usia 31 tahun, ia masih kesulitan mendapatkan pekerjaan penuh waktu meskipun telah melamar ke ratusan lowongan. Saat ini, Raka bertahan hidup dengan pekerjaan lepas seperti fotografi, data entry, dan riset freelance yang sudah dikerjakan sejak kuliah.
Sementara itu, Eka (nama samaran), lulusan S1 dan S2 hukum dari perguruan tinggi negeri terkemuka di Jakarta, juga belum mendapatkan pekerjaan tetap. Setelah sempat bekerja di boutique law firm selama lima bulan, ia memutuskan mengambil jeda karier dan mencoba melamar ribuan lowongan tanpa hasil. Eka juga aktif mengikuti pelatihan dan magang tanpa bayaran untuk meningkatkan keterampilan.
Konteks dan Implikasi
Fenomena pengangguran lulusan perguruan tinggi ini menunjukkan bahwa ijazah tidak lagi menjadi jaminan langsung untuk memasuki dunia kerja. Perlu adanya sinergi antara sistem pendidikan tinggi dan kebutuhan pasar kerja agar lulusan dapat memiliki keterampilan yang sesuai dan pengalaman yang relevan. Selain itu, pengembangan soft skills dan jejaring profesional menjadi faktor penting dalam meningkatkan peluang kerja lulusan.
Dengan meningkatnya jumlah lulusan dari jurusan-jurusan favorit tersebut, pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor industri perlu bekerja sama untuk menciptakan program pelatihan, magang, dan pengembangan keterampilan yang lebih efektif. Hal ini penting agar lulusan dapat lebih siap menghadapi tantangan pasar kerja dan mengurangi angka pengangguran terbuka di Indonesia.
Data dan Sumber
- Laporan Labor Market Brief Volume 7 LPEM FEB UI, 7 Juli 2026
- Data Sakernas 2025
- Wawancara dengan lulusan terdampak pengangguran
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













