Sidang Pembunuhan Brutal: D4vd Tak Tunjukkan Emosi saat Jasad Remaja Dipamerkan
Plat Merah – Dalam apa yang disebut sebagai ‘no time to die’ bagi keluarga korban, sidang pendahuluan musisi D4vd, yang bernama asli David Anthony Burke, menghadirkan bukti-bukti mengerikan di pengadilan Los Angeles, Selasa (21/7). Jaksa menampilkan foto-foto jasad Celeste Rivas Hernandez, 14 tahun, yang ditemukan dalam keadaan termutilasi di bagasi mobil Tesla milik Burke. Orang tua korban hadir dan menyaksikan langsung foto-foto tersebut, yang oleh pengacara mereka digambarkan sebagai ‘mimpi buruk terburuk’. Sidang ini merupakan babak awal dari proses hukum yang panjang, dan bagi keluarga, rasanya ‘no time to die’ untuk mendapatkan keadilan.
Jaksa Wilayah Beth Silverman membeberkan detail pembunuhan sadis yang direncanakan secara matang. Menurut dakwaan, Burke menusuk Celeste sebelum memutilasi tubuhnya dengan gergaji mesin di garasi rumahnya. Ia bahkan disebut sengaja menghilangkan tato bertuliskan namanya dari tubuh korban untuk menghilangkan bukti. Lebih mengejutkan lagi, penyelidik menemukan bahwa Burke telah memesan kantong mayat, gergaji mesin, kolam renang tiup, dan sekop secara online beberapa hari setelah kematian Celeste. Semua barang tersebut diduga digunakan untuk memotong dan membuang bagian tubuh korban. Motif pembunuhan diduga karena Celeste mengancam akan membocorkan hubungan terlarang Burke dengan dirinya yang masih di bawah umur, yang dapat menghancurkan karier musiknya yang bernilai jutaan dolar.
Sidang yang seharusnya digelar pada 1 Mei lalu ini sempat tertunda beberapa kali karena jaksa masih meninjau lebih dari 40 terabyte bukti digital. Dalam persidangan hari pertama, detektif pembunuhan bersaksi bahwa Burke, 21 tahun, tidak menunjukkan emosi apa pun saat foto-foto kejahatan diproyeksikan di ruang sidang. Ekspresi datar sang musisi kontras dengan isak tangis orang tua Celeste yang hadir. Pengacara Burke berjanji akan ‘membela ketidakbersalahan David dengan gigih’, sementara jaksa terus mengumpulkan bukti untuk meyakinkan hakim bahwa kasus ini layak dilanjutkan ke pengadilan. Jaksa Agung Nathan Hochman menyatakan bahwa pihaknya masih mengevaluasi apakah akan menuntut hukuman mati.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa ‘no time to die’ bukan hanya soal keadilan, tetapi juga tentang bagaimana sistem hukum bekerja di tengah tekanan publik. Burke menghadapi dakwaan pembunuhan tingkat pertama dengan keadaan yang memberatkan, termasuk menunggu korban (lying in wait), pembunuhan demi keuntungan finansial, dan pembunuhan saksi. Ia juga didakwa melakukan pelecehan seksual berkelanjutan terhadap anak di bawah 14 tahun serta mutilasi mayat secara ilegal. Sidang pendahuluan diperkirakan akan berlangsung tiga hingga lima hari ke depan dengan lebih dari 10 saksi yang akan dipanggil.
Bagi keluarga Celeste, proses hukum ini adalah perjuangan panjang yang tak kunjung usai. ‘No time to die’ menjadi seruan mereka agar kasus ini tidak tenggelam dan pelaku mendapatkan hukuman setimpal. Sidang lanjutan akan menentukan apakah kasus ini cukup kuat untuk dibawa ke pengadilan. Publik menanti keputusan hakim yang akan menjadi tonggak awal dalam kasus pembunuhan yang mengguncang industri musik ini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













