Era Baru Perang Laut: AS Tenggelamkan USS Peleliu dengan Drone Kamikaze di RIMPAC 2026
Plat Merah – Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) menorehkan babak baru dalam peperangan laut modern dengan menenggelamkan kapal serbu amfibi USS Peleliu (LHA 5) menggunakan drone laut kamikaze dalam latihan multinasional Rim of the Pacific (RIMPAC) 2026. Kapal sepanjang 250 meter yang telah dipensiunkan sejak 2015 itu menjadi target utama dalam latihan penenggelaman (SINKEX) yang berlangsung pada 17 Juli 2026 di perairan Hawaii. Dua drone laut tanpa awak jenis Global Autonomous Reconnaissance Craft (GARC) dari Unmanned Surface Vessel Division (USVDIV) 32 meluncur mendekati lambung USS Peleliu (LHA 5) dan meledak tepat di garis air, menuntaskan serangan yang sebelumnya telah dihujani rudal Harpoon, Spike, dan Long Range Anti-Ship Missile (LRASM) dari berbagai platform.
Latihan yang digelar setiap dua tahun sekali ini melibatkan 30 negara, 30 kapal permukaan, 5 kapal selam, lebih dari 190 pesawat, 15 pasukan darat, dan 30.000 personel. SINKEX terhadap USS Peleliu (LHA 5) menjadi puncak dari serangkaian uji tembak langsung yang juga menenggelamkan kapal penjelajah USS Mobile Bay (CG-53) pada 12 Juli lalu. Kedua kapal bekas itu ditenggelamkan di kedalaman 15.000 kaki, lebih dari 50 mil laut di utara Pulau Kauai. Menurut pernyataan resmi Angkatan Laut AS, latihan ini memberikan pengalaman berharga bagi peserta dari Australia, Kanada, Italia, Jepang, Selandia Baru, Spanyol, serta berbagai matra AS dalam taktik, penargetan, dan penembakan langsung terhadap sasaran kapal di laut.
Yang paling menarik perhatian adalah penggunaan drone laut satu arah (one-way attack drone) yang menyerupai taktik Ukraina dalam menghadapi Armada Laut Hitam Rusia. Analis menilai langkah ini menunjukkan keseriusan AS dalam mengintegrasikan sistem tempur tanpa awak di udara, permukaan, dan bawah laut sebagai inti strategi peperangan modern. Sebelumnya, AS telah mempelajari pengalaman Ukraina melalui Combined Task Force 66, unit Angkatan Laut AS yang berbasis di Eropa. Demonstrasi di RIMPAC 2026 sekaligus menjadi ajang pamer kemampuan kepada sekutu dan calon lawan bahwa drone laut kini menjadi bagian tak terpisahkan dari armada tempur AS.
Selain serangan drone, kapal fregat Spanyol Álvaro de Bazán (F-101) juga ikut menembakkan rudal Harpoon ke arah USS Peleliu (LHA 5). Sementara itu, pasukan darat AS dan Jepang berkoordinasi menembakkan sistem HIMARS dan rudal Type 12 ke sasaran maritim. Penggunaan berbagai sistem senjata ini menandakan perluasan kemampuan anti-kapal sekutu di kawasan Indo-Pasifik, sejalan dengan meningkatnya ketegangan dengan China. Jepang sendiri berencana menempatkan baterai rudal Type 12 di sepanjang Kepulauan Ryukyu dekat Taiwan.
Di sisi lain, kerja sama industri pertahanan antara perusahaan Ukraina UForce dan perusahaan AS ReconCraft baru saja menandatangani nota kesepahaman untuk memproduksi drone laut keluarga Magura secara berlisensi di AS. Salah satu pendiri ReconCraft, Joe Silkowski, menyebut kemitraan ini ditargetkan memproduksi ratusan hingga ribuan drone setiap tahun. Namun, versi Magura untuk militer AS akan dimodifikasi sesuai kondisi operasi di kawasan maritim lain, karena tidak ada konsep drone universal yang bisa digunakan tanpa perubahan desain.
Penenggelaman USS Peleliu (LHA 5) menandai era baru di mana drone laut kamikaze menjadi ujung tombak serangan permukaan. Latihan ini tidak hanya menguji kemampuan teknis, tetapi juga mengirim pesan strategis bahwa perang laut masa depan akan sangat bergantung pada sistem otonom. Dengan integrasi drone dari Ukraina dan pengembangan sistem dalam negeri, AS memperkuat posisinya sebagai pemimpin dalam peperangan asimetris. Ke depan, kolaborasi internasional dan adopsi teknologi tanpa awak diprediksi akan semakin masif, mengubah peta kekuatan maritim global.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













