Keiko Fujimori Langsung Berlakukan Darurat Militer dan Perang Lawan Kartel Narkoba Usai Jadi Presiden Peru
PlatMerah.com, Lima – Keiko Fujimori resmi dilantik sebagai Presiden Peru pada Selasa (28/7), menjadi perempuan pertama yang terpilih secara demokratis untuk memimpin negara tersebut. Dalam pidato perdananya di Istana Parlemen, Lima, Fujimori langsung mengambil langkah tegas dengan mendeklarasikan “perang” terhadap kartel narkoba, geng kriminal terorganisasi, dan praktik penambangan ilegal yang meresahkan.
Langkah ini diambil sebagai respons atas tingginya angka kejahatan dan ketidakpastian ekonomi yang mendorong masyarakat Peru memilih figur konservatif. Fujimori, yang berusia 51 tahun, berkomitmen memulihkan ketertiban dengan mengerahkan militer dan memperkuat kepolisian.
Deklarasi Perang dan Pengerahan Militer
Pemerintahan Fujimori akan mengoptimalkan peran tentara dalam operasi keamanan di zona-zona rawan kejahatan. Angkatan bersenjata diberi wewenang khusus untuk memimpin operasi tersebut melalui koordinasi erat dengan kepolisian. Selain itu, polisi akan mendapat suntikan dukungan politik, peremajaan alutsista, serta perluasan kewenangan aksi.
Pemerintah berjanji mengerahkan seluruh instrumen hukum dan konstitusi untuk merebut kembali wilayah yang sempat dikuasai kelompok kriminal.
Gebrakan Ekonomi: Upah Minimum Naik 15 Persen
Menjawab keresahan publik atas melonjaknya biaya hidup dan lesunya perekonomian, Fujimori mengumumkan kenaikan upah minimum nasional sebesar 15 persen, dari 1.130 soles (sekitar Rp6,02 juta) menjadi 1.300 soles (sekitar Rp6,92 juta) per bulan. Meski melakukan reformasi besar-besaran di sektor keamanan, ia menegaskan Peru tetap berkomitmen menjaga prinsip ekonomi pasar bebas demi menarik investasi.
Aksi Walkout Oposisi dan Dukungan Dunia
Sesi pelantikan sempat diwarnai aksi protes. Sejumlah legislator oposisi, termasuk dari partai Juntos por el Peru dan Ahora Nacion, memilih keluar ruangan (walk out) sesaat sebelum Fujimori berpidato. Mereka mengenakan pakaian hitam dan pita duka cita sambil membentangkan foto-foto korban pelanggaran HAM era 1990-2000 pada masa pemerintahan ayahnya, mantan Presiden Alberto Fujimori. Meski demikian, Fujimori tetap tenang di mimbar hingga situasi kondusif.
Di tengah ketegangan domestik, sejumlah pemimpin dunia hadir memberikan dukungan langsung, antara lain Raja Felipe IV (Spanyol), Presiden Daniel Noboa (Ekuador), Presiden Jose Antonio Kast (Chile), Presiden Rodrigo Paz (Bolivia), dan Presiden Javier Milei (Argentina). Fujimori bahkan menggelar agenda bilateral khusus dengan Milei untuk membahas penguatan kerja sama di bidang ekonomi, keamanan, dan inovasi teknologi. Lawatan Milei ini menjadi momen perdananya muncul di panggung diplomasi kawasan setelah sempat memicu gesekan diplomatik dengan Brasil.
Tren Politik Sayap Kanan di Amerika Latin
Kemenangan dan pelantikan Keiko Fujimori mempertegas menguatnya gelombang politik sayap kanan di Amerika Latin. Tingginya angka kejahatan dan ketidakpastian ekonomi mendorong masyarakat di berbagai negara kawasan tersebut beralih memilih figur-figur pemimpin yang mengusung pendekatan konservatif dan tegas.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












