India Kecam Serangan di Selat Hormuz: Satu WNI Tewas, Navigasi Global Terancam
Plat Merah – India mengecam keras serangan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz yang menewaskan seorang warga negara India (WNI) dan melukai beberapa lainnya. Dalam sidang Dewan Keamanan PBB, New Delhi mendesak diakhirinya penargetan terhadap pelayaran komersial dan pemulihan navigasi bebas di jalur perairan internasional yang vital tersebut. Serangan terbaru terjadi pada Juli 2026, menargetkan kapal GFS Galaxy, MT Al Bahiyah, dan MT Mombasa saat melintasi Selat Hormuz, sebuah jalur yang membawa hampir seperlima perdagangan minyak dunia. Duta Besar India untuk PBB, Parvathaneni Harish, menyatakan bahwa serangan ini tidak hanya mengancam jiwa pelaut, tetapi juga stabilitas regional dan global. “Penargetan kapal dagang dan infrastruktur sipil harus dihentikan, dan navigasi serta perdagangan bebas dan tidak terhalang melalui jalur perairan internasional, sesuai dengan hukum internasional, harus dipulihkan secepatnya,” tegas Harish.
Serangan terhadap kapal MT Mombasa mengakibatkan satu awak India tewas dan delapan lainnya luka-luka, termasuk enam warga India dan dua warga Ukraina. Kapal MT Al Bahiyah juga terkena serangan pada hari yang sama. Sebelumnya, pada 12 Juli, kapal GFS Galaxy menjadi sasaran. Insiden ini memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang sudah memanas. PBB mencatat bahwa setelah serangan terhadap kapal komersial pada 6 Juli, Iran kembali menutup Selat Hormuz pada 11 Juli, menyebabkan penurunan drastis jumlah kapal yang melintas—dari 49 per hari pada 7 Juli menjadi hanya 8-15 per hari pada pertengahan Juli. Hal ini mengancam rantai pasokan energi global dan stabilitas ekonomi dunia.
India, yang memiliki kepentingan strategis besar di kawasan ini, menyatakan bahwa hampir 10 juta warga India tinggal dan bekerja di negara-negara Teluk. “Keselamatan dan kesejahteraan mereka adalah prioritas utama bagi kami,” ujar Harish. Ia juga menyoroti hubungan ekonomi yang erat: perdagangan bilateral tahunan mencapai sekitar 180 miliar dolar AS, investasi asing langsung kumulatif lebih dari 31 miliar dolar AS, dan remitansi dari negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) saja mencapai lebih dari 52 miliar dolar AS. “Keterkaitan ini memiliki implikasi langsung terhadap perekonomian dan ketahanan energi kami,” tambahnya.
Selain mengecam serangan di Selat Hormuz, India juga menyerukan de-eskalasi segera di seluruh kawasan Timur Tengah. Harish menekankan bahwa perhatian global terhadap Selat Hormuz tidak boleh mengalihkan fokus dari krisis kemanusiaan yang parah di Jalur Gaza. Ia mendesak tindakan mendesak dari komunitas internasional untuk mengatasi hilangnya nyawa sipil dan kerusakan infrastruktur sipil. India juga menegaskan kembali dukungannya terhadap solusi dua negara, dengan Palestina yang berdaulat, independen, dan layak hidup berdampingan secara damai dengan Israel dalam perbatasan yang aman dan diakui.
Dalam pernyataannya, India juga mengecam serangan Houthi terhadap navigasi maritim dan menekankan perlunya perlindungan Selat Bab el-Mandeb dan Laut Merah bagian selatan sebagai tanggung jawab internasional bersama. Lebih lanjut, India mengutuk serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian UNIFIL di Lebanon dan mendesak dukungan bagi Angkatan Bersenjata Lebanon. Dengan meningkatnya ketegangan di kawasan, India menegaskan komitmennya terhadap dialog dan diplomasi sebagai jalan terbaik untuk mencapai perdamaian, keamanan, dan stabilitas.
Serangan berulang di Selat Hormuz menunjukkan betapa rapuhnya keamanan maritim global. India, sebagai kekuatan regional yang peduli stabilitas, telah mengambil sikap tegas. Langkah selanjutnya akan bergantung pada respons komunitas internasional dan kemampuan semua pihak untuk menahan diri serta mengutamakan diplomasi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













