Bocoran Draf Kesepakatan AS-Iran: Iran Bakal Kaya Mendadak dengan Dana Rp5.300 Triliun
Plat Merah – Bocoran draf kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran mengungkapkan bahwa Iran bakal kaya mendadak setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026. Draf yang dilihat Bloomberg News memuat 14 poin, termasuk komitmen AS dan mitra regional untuk mendanai rehabilitasi ekonomi Iran senilai setidaknya 300 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp5.300 triliun.
MoU tersebut akan menghentikan operasi militer, mengurangi tekanan ekonomi terhadap Iran, dan memulai negosiasi menuju penyelesaian akhir dalam waktu 60 hari. Namun, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa dokumen yang akan ditandatangani masih bersifat sementara dan dapat berubah. “Jika saya tidak menyukainya, saya akan kembali dan menembaki mereka,” kata Trump kepada wartawan di sela pertemuan dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi.
Ketentuan ekonomi menjadi elemen kunci dalam draf tersebut. AS berkomitmen mengakhiri semua sanksi terhadap Iran, termasuk sanksi Dewan Keamanan PBB, pembatasan Badan Energi Atom Internasional, dan sanksi sepihak Amerika. Pasal Tujuh secara eksplisit menyebutkan penghentian “semua jenis sanksi yang saat ini dihadapi Republik Islam Iran.” Sebelum kesepakatan akhir, Departemen Keuangan AS akan memberikan keringanan izin ekspor minyak mentah, produk petrokimia, dan jasa terkait seperti perbankan, asuransi, serta transportasi.
Selain itu, Washington berjanji mencairkan dana dan aset Iran yang dibekukan di lembaga keuangan asing, yang nilainya diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar. Langkah ini akan memberikan suntikan likuiditas besar bagi perekonomian Iran yang selama bertahun-tahun tertekan sanksi.
Di sisi lain, laporan media Israel Hayom menyebutkan bahwa Trump tengah mempertimbangkan pemecatan sejumlah pejabat senior yang menentang kesepakatan damai dengan Iran, termasuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Direktur CIA John Ratcliffe. Keduanya dilaporkan menolak MoU menuju perdamaian total antara AS dan Iran.
Para analis geopolitik menilai pergeseran dari strategi coercive diplomacy menuju managed strategic competition ini didorong oleh kelelahan konflik, kepentingan ekonomi yang saling menguntungkan, serta realitas baru dalam peta kekuatan global. Namun, hingga saat ini dokumen yang beredar masih berstatus draf dan belum mengikat secara hukum. Beberapa versi naskah masih beredar, dan sejumlah klausul krusial belum mendapat persetujuan final dari seluruh pihak.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











