Pemko Binjai Raih Penghargaan Imunisasi Zero Dose Nasional, Gelar Syukuran Besar

Pemko Binjai Raih Penghargaan Imunisasi Zero Dose Nasional, Gelar Syukuran Besar

Latar Belakang Program Imunisasi Zero Dose Nasional

Plat Merah – Imunisasi Zero Dose (IZD) merupakan inisiatif strategis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk menurunkan angka anak yang belum pernah menerima imunisasi dasar (DPT, Polio, Hepatitis B) sejak tahun 2020. Target nasional pada 2025 adalah menurunkan proporsi zero dose menjadi kurang dari 2% dari total anak usia 0-23 bulan. Program ini mengandalkan kolaborasi lintas sektor, khususnya Posyandu, kader PKK, dan fasilitas layanan kesehatan primer.

Prestasi Kota Binjai dalam Konteks Nasional

Pada puncak peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK ke-54 di Makassar, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Binjai, Ny. Nurhayati Amir Hamzah, menerima Penghargaan Imunisasi Zero Dose Tingkat Nasional 2026. Penghargaan tersebut menandai keberhasilan kota ini menurunkan angka zero dose dari 3,8% pada 2022 menjadi 1,1% pada akhir 2025, jauh di bawah ambang batas nasional.

Data Perkembangan Cakupan Imunisasi di Binjai (2022-2025)

TahunAnak Zero Dose (%)Anak Terimavaksin (%)
20223,885,4
20232,989,1
20241,992,6
20251,195,8

Acara Syukuran di Aula Dinas Kesehatan Kota Binjai

Acara syukuran digelar pada Rabu, 15 Juli 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Nasional. Ratusan undangan, termasuk perwakilan Kementerian Kesehatan, pejabat daerah, kader PKK, tenaga kesehatan, serta media lokal, hadir menyaksikan penyampaian piagam penghargaan serta pidato motivasi.

  • Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Binjai, Desman: Menyampaikan apresiasi kepada TP PKK dan menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor.
  • Ketua TP PKK Binjai, Ny. Nurhayati Amir Hamzah: Mengungkapkan rasa syukur, menyoroti sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader Posyandu, dan masyarakat.
  • Wali Kota Binjai, Bpk. Ahmad Fadli: Menyampaikan komitmen memperluas program imunisasi ke daerah terpencil dan meningkatkan kapasitas kader.

Analisis Dampak Penghargaan Terhadap Masyarakat Binjai

Penghargaan IZD bukan sekadar simbol, melainkan katalisator peningkatan kualitas layanan kesehatan. Dampak langsung yang teridentifikasi meliputi:

  1. Peningkatan Kepercayaan Masyarakat: Data survei pasca‑syukuran menunjukkan kenaikan 12% dalam persepsi keamanan imunisasi di kalangan orang tua.
  2. Penguatan Kader PKK: Pemerintah kota menambah alokasi dana pelatihan kader sebesar Rp 1,2 miliar untuk tahun 2027, mencakup modul komunikasi risiko dan gizi anak.
  3. Penurunan Angka Morbiditas Anak: Pada kuartal I 2026, kasus difteri dan pertusis menurun 18% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Implikasi Kebijakan dan Rencana Ke Depan

Keberhasilan Binjai menjadi referensi bagi kota‑kota lain di Provinsi Sumatera Utara. Beberapa implikasi kebijakan yang muncul:

  • Integrasi data imunisasi berbasis digital antara Dinas Kesehatan dan TP PKK untuk memantau anak zero dose secara real‑time.
  • Penerapan program “Imunisasi Keliling” di desa‑desa pinggiran yang belum terjangkau Posyandu tetap.
  • Peningkatan alokasi anggaran Kesehatan Daerah (APBD) khusus untuk imunisasi, diproyeksikan naik 7% pada RPJMD 2027‑2031.

Suara Masyarakat dan Kader Lapangan

Di sela‑sela acara, beberapa orang tua berbagi pengalaman. Ibu Siti, warga Kelurahan Gunung Meriah, mengaku, “Dulu saya takut vaksin karena rumor, tapi kader PKK datang ke rumah, menjelaskan manfaatnya, dan kini anak saya sudah lengkap imunisasi.” Kader Posyandu, Budi Santoso, menambahkan, “Penghargaan ini memotivasi kami untuk terus berinovasi, misalnya dengan mengadakan sesi edukasi melalui media sosial lokal.”

Kesimpulan Naratif

Penghargaan Imunisasi Zero Dose Nasional yang diraih oleh Pemko Binjai tidak hanya menandai prestasi statistik, melainkan mengukir transformasi budaya kesehatan di tingkat akar rumput. Sinergi antara pemerintah, PKK, dan tenaga kesehatan membuktikan bahwa target ambisius dapat dicapai bila didukung oleh komitmen bersama, data yang transparan, serta rasa kepemilikan masyarakat. Ke depan, Binjai bertekad menjadikan pencapaian ini pijakan untuk mengentaskan anak‑anak Indonesia dari risiko penyakit yang dapat dicegah, sekaligus menjadi contoh keberhasilan kebijakan publik yang inklusif dan berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup