26 Santri di Ponpes Tebuireng Terindikasi TB, Menkes Pastikan Pengobatan Gratis dan Aman
PlatMerah.com, Jombang – Sebanyak 26 santri di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, terdeteksi terindikasi Tuberkulosis (TB) setelah menjalani skrining kesehatan menggunakan rontgen dada. Temuan ini disampaikan dalam pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan skrining TB di SMA A. Wahid Hasyim, Kamis (20/8/2026).
Temuan Kasus dan Tanggapan Menteri Kesehatan
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa penemuan kasus TB ini merupakan hal positif karena memungkinkan pengobatan segera. “Kalau ketemu nggak apa-apa. Justru dengan ketemu bisa diobatin. Dan kalau udah diobatin sebulan jadi berhenti penularannya,” kata Budi.
Budi menekankan pentingnya tidak menjauhi pasien TB karena pengobatan tersedia dan efektif. “Jadi banyak orang yang bilang kalau ada TBC, kelihatan jelek. Enggak, justru kalau ketemu TBC itu bagus karena bisa diobatin dan tidak menular,” tambahnya.
Langkah Pengobatan dan Pencegahan di Ponpes Tebuireng
Istri Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Hj. Lelly Lailiyah, mengonfirmasi bahwa 26 santri tersebut memiliki indikasi TB dan akan mendapat pengobatan gratis selama satu sampai tiga bulan. Pengobatan ini bertujuan menghentikan penularan dan menjaga kesehatan seluruh santri.
Lelly juga mengimbau agar para santri tidak mengisolasi atau menjauhi teman yang terindikasi TB. Sebagai langkah pencegahan, santri lain disarankan menggunakan masker saat berinteraksi dengan pasien TB.
- Santri yang terindikasi mendapat pengobatan gratis selama 1-3 bulan.
- Teman santri tidak dianjurkan mengisolasi pasien TB.
- Penggunaan masker dianjurkan untuk mencegah penularan.
Signifikansi dan Kesiapan Penanganan TB
Penemuan kasus TB di lingkungan pondok pesantren menjadi perhatian penting mengingat potensi penularan di lingkungan yang padat. Program skrining dan pengobatan gratis yang dilakukan merupakan upaya strategis untuk menekan penyebaran TB dan menjaga kesehatan komunitas pendidikan.
Dengan pengobatan yang tepat dan kesadaran kolektif, penularan TB dapat dicegah secara efektif tanpa perlu stigma terhadap pasien. Pendekatan ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam menanggulangi penyakit menular di Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













