Menkes Ungkap Efisiensi Pengadaan Alkes Capai 52 Persen dengan Penghematan Rp 10,25 Triliun
PlatMerah.com, Jakarta – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa pemerintah berhasil mencapai efisiensi pengadaan alat kesehatan (alkes) sebesar 52 persen dengan penghematan mencapai Rp 10,25 triliun. Langkah ini diperoleh melalui sentralisasi pengadaan alat kesehatan dan konsolidasi pembelian obat yang dilakukan pemerintah untuk menekan belanja kesehatan.
Efisiensi Melalui Sentralisasi Pengadaan Alkes
Dalam konferensi pers Nota Keuangan dan RAPBN 2027 yang digelar di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, Jumat (14/8/2026), Menkes Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa sentralisasi pembelian alat kesehatan, khususnya yang berasal dari pinjaman Bank Dunia, menjadi kunci utama penghematan ini.
Contohnya, alat Cath Lab yang biasanya dibanderol dengan harga Rp 14-15 miliar, kini dapat dibeli dengan harga sekitar Rp 8 miliar. Estimasi harga pengadaan alat kesehatan untuk tahun 2026 mencapai Rp 19,39 triliun, namun setelah dilakukan sentralisasi, nilainya berhasil ditekan menjadi sekitar Rp 9 triliun.
Rincian Penghematan
- Harga estimasi awal alat kesehatan: Rp 19,39 triliun
- Harga setelah sentralisasi pengadaan: Rp 9 triliun
- Penghematan total: Rp 10,25 triliun atau 52 persen
Konsolidasi Pembelian Obat untuk Efisiensi Lebih Lanjut
Tidak hanya alat kesehatan, pemerintah juga melakukan konsolidasi pembelian obat untuk seluruh rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Menkes Budi Gunadi menyampaikan bahwa pemerintah menghabiskan sekitar Rp 5 triliun per tahun untuk pembelian obat, namun harga obat dengan merek yang sama dapat berbeda-beda di tiap rumah sakit.
Dengan konsolidasi pembelian, pemerintah berhasil menghemat sekitar 32 persen, yang setara dengan hampir Rp 1 triliun. Proses konsolidasi ini dilakukan bekerja sama dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dan saat ini masih dalam tahap finalisasi.
Signifikansi dan Dampak Langkah Efisiensi
Langkah sentralisasi dan konsolidasi pembelian ini tidak hanya menghemat anggaran negara, tetapi juga memungkinkan distribusi alat kesehatan dan obat-obatan yang lebih merata dan efisien ke seluruh fasilitas kesehatan. Hal ini penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang terdampak bencana hidrometeorologi maupun wilayah dengan akses terbatas.
Dengan penghematan yang signifikan, pemerintah memiliki potensi untuk mengalokasikan dana lebih optimal dalam berbagai program kesehatan lainnya, mendukung pencapaian target kesehatan nasional secara berkelanjutan.
Proses dan Harapan ke Depan
Menkes Budi Gunadi berharap proses finalisasi konsolidasi pembelian obat dapat segera selesai sehingga pemerintah dapat menjelaskan secara lebih rinci kepada publik. Kerja sama lintas instansi seperti dengan LKPP menjadi kunci keberhasilan langkah efisiensi ini.
Upaya ini juga mencerminkan komitmen pemerintah dalam mengelola anggaran kesehatan secara transparan dan efektif, demi peningkatan layanan kesehatan yang berkualitas bagi masyarakat Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













