Bacakan Proklamasi dengan Bahasa Isyarat, Siswa Disabilitas di DIY Pecahkan MURI

Bacakan Proklamasi dengan Bahasa Isyarat, Siswa Disabilitas di DIY Pecahkan MURI

PlatMerah.com, Yogyakarta – Sejumlah pelajar penyandang disabilitas rungu dari Sekolah Luar Biasa (SLB) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) melalui pembacaan teks Proklamasi menggunakan bahasa isyarat. Kegiatan ini berlangsung di depan Gedung Agung Yogyakarta pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Rekor MURI untuk Pembacaan Proklamasi dengan Bahasa Isyarat Terbanyak

Acara ini menjadi bagian dari agenda Suara Inklusi untuk Semua 2026 yang diinisiasi oleh Diwa Foundation bekerja sama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Prosesi dimulai dengan pembacaan teks Proklamasi oleh Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, yang kemudian diikuti oleh para pelajar disabilitas menggunakan bahasa isyarat.

Senior Representatif MURI, Ari Andriani, menyatakan bahwa kegiatan ini tercatat sebagai rekor pembacaan teks Proklamasi menggunakan bahasa isyarat oleh penyandang disabilitas terbanyak. Penghargaan resmi diberikan kepada Diwa Foundation sebagai pemrakarsa dan penyelenggara acara, dengan pencatatan rekor nomor 12.850.

Makna Inklusi dalam Pembacaan Proklamasi

Diah Warih Anjari, Founder Diwa Foundation sekaligus Ketua Panitia, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menyuarakan kesetaraan dan inklusi dalam keberagaman masyarakat Indonesia. Yogyakarta dipilih sebagai titik awal untuk menyebarkan pesan tersebut ke seluruh Indonesia.

Menurut Diah, nilai inklusi sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa, tercermin dalam prinsip-prinsip seperti tepa slira (empati), emban papan (tanggung jawab bersama), musyawarah mufakat (keputusan bersama), dan gotong royong (kerja sama).

Pesan Kebangsaan dari Gubernur DIY

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Wakil Gubernur Paku Alam X, menegaskan bahwa pemecahan rekor ini bukan sekadar pencapaian angka, melainkan esensi pesan yang hendak disampaikan. Pembacaan teks Proklamasi melalui bahasa isyarat menunjukkan bahwa nilai-nilai kebangsaan dan semangat kemerdekaan harus dapat diakses dan diikuti oleh seluruh warga negara tanpa terkecuali.

Sri Sultan berharap pencatatan rekor tersebut menjadi pijakan untuk memperkuat persatuan dalam keberagaman dan menegaskan bahwa kemerdekaan harus dimaknai sebagai kesempatan yang sama bagi seluruh warga negara untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan bersama.

Dampak dan Harapan ke Depan

Keberhasilan ini diharapkan dapat membuka ruang lebih luas bagi penyandang disabilitas dalam berbagai kegiatan nasional maupun sosial. Selain memecahkan rekor, kegiatan ini juga menjadi simbol penting bahwa inklusi dan partisipasi aktif bagi semua kalangan merupakan bagian dari semangat kemerdekaan dan persatuan Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup