Usaha Evan Cari Pegolf Jesslyn meski Akses Diputus
PlatMerah.com, Jakarta – Evan, calon suami pegolf Jesslyn Wijaya, masih terus berupaya menemukan keberadaan Jesslyn yang hilang kontak selama lebih dari dua pekan. Meski akses komunikasi Jesslyn diputus, Evan dan kuasa hukumnya mendatangi Komnas Perempuan untuk meminta perlindungan dan bantuan penanganan dugaan perampasan kemerdekaan yang dialami Jesslyn.
Upaya Perlindungan dan Penanganan Kasus
Evan menegaskan perjuangannya untuk hak asasi Jesslyn sebagai perempuan dewasa yang mandiri dan berhak menentukan hidupnya sendiri. Ia berharap Jesslyn dapat terbebas dari ancaman dan pengekangan yang membatasi kebebasan serta hak-hak dasar sebagai manusia.
“Saya hanya memperjuangkan hak asasi manusia atas Jesslyn dan hak Jesslyn sebagai perempuan dewasa yang sudah berumur 32 tahun untuk bisa menentukan pilihannya sendiri, menentukan hidupnya sendiri, mandiri,” ujar Evan di Kantor Komnas Perempuan, Jumat (31/7/2026).
Langkah ini diambil Evan dengan didasari kekhawatiran mendalam terhadap keselamatan jiwa Jesslyn. Sebelumnya, Jesslyn pernah mengalami pengekangan ketat oleh keluarganya, termasuk penyitaan alat komunikasi yang membuatnya terisolasi dan mengalami tekanan mental berat hingga depresi.
Kendala Komnas Perempuan dalam Pendampingan
Kuasa hukum Evan, Andi Darti, menyampaikan Komnas Perempuan menghadapi kendala serius karena Jesslyn tidak dapat dihubungi akibat gawai miliknya dirampas. Hal ini menyulitkan pemantauan keselamatan dan pendampingan korban.
“Komnas Perempuan akan mengupayakan melakukan upaya-upaya mendampingi, tetapi dalam hal ini pihak Komnas juga keberatan karena Jesslyn tidak bisa dihubungi,” jelas Andi Darti.
Kasus dugaan perampasan kemerdekaan ini sudah dilaporkan sejak tahun lalu, namun proses perlindungan terkendala karena isolasi yang dialami Jesslyn.
Riwayat Pengekangan dan Kondisi Psikologis Jesslyn
Evan mengungkapkan bahwa pada periode April hingga Oktober 2025, Jesslyn pernah dikurung di rumah ibunya tanpa akses komunikasi seperti handphone dan laptop. Jesslyn tidak diizinkan beraktivitas normal, dilarang keluar tanpa didampingi, dan tidak bisa menjalankan hobinya maupun pekerjaannya.
Isolasi tersebut menyebabkan Jesslyn mengalami depresi berat hingga tiga kali mencoba mengakhiri hidup.
Perkembangan Penyelidikan Kepolisian
Polres Metro Jakarta Pusat mengungkap fakta terbaru bahwa Jesslyn diduga dibawa oleh orang-orang yang disuruh oleh ibunya keluar dari Indonesia. Jejak keberadaan Jesslyn mulai dari lokasi dugaan penculikan di Sawah Besar, Jakarta Pusat, lalu ke Semarang, Malaysia, dan berakhir di Bangkok, Thailand.
Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat, AKBP Roby Heru Saputra, menyatakan pihak kepolisian telah menerima video testimoni keberadaan Jesslyn dari luar negeri dan tengah mengupayakan komunikasi langsung melalui video call guna memastikan apakah keberangkatan Jesslyn dilakukan secara sukarela atau paksa.
Harapan dan Langkah Selanjutnya
Evan dan kuasa hukumnya menunggu tindakan berikutnya dari Komnas Perempuan yang juga akan berkoordinasi dengan kepolisian. Meski menghadapi kesulitan komunikasi, Evan bertekad tidak berhenti berusaha demi keselamatan dan kebebasan Jesslyn.
Kasus ini menjadi perhatian penting terkait perlindungan hak asasi manusia dan keberlangsungan kesejahteraan korban dari dugaan perampasan kemerdekaan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













