Kebijakan Pemasyarakatan Ditjenpas Dorong Transformasi Sistem Pelayanan Rutan Bandar Lampung
Plat Merah – Pada Rabu (872026), Kepala Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Bandar Lampung, Tri Wahyu Santosa, bersama seluruh jajaran staf mengikuti pengarahan kebijakan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) yang disampaikan oleh Pembimbing Kemasyarakatan Ahli Utama, Sudjonggo, Bc.IP., S.H., M.H. Kegiatan ini digelar di Lapas Narkotika Kelas IIA Bandar Lampung, melibatkan seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di wilayah tersebut. Upaya ini bertujuan memperkuat pemahaman aparatur terhadap arah kebijakan nasional dan strategi implementasi tugas di lingkungan sistem pemasyarakatan.
Konteks Kebijakan Pemasyarakatan yang Dinamis
Direktorat Jenderal Pemasyarakatan tengah menghadapi tantangan signifikan dalam transformasi sistem pemasyarakatan Indonesia. Dengan meningkatnya jumlah narapidana yang mencapai 280.000 orang pada 2026 (data Kementerian Hukum dan HAM), pihak Ditjenpas fokus pada peningkatan efisiensi layanan, penerapan teknologi, dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Pengarahan yang disampaikan Sudjonggo menjadi bagian dari rangkaian sosialisasi kebijakan yang telah dirancang sejak akhir 2025, menjawab kebutuhan perubahan struktural di institusi pemasyarakatan.
Prinsip Utama Pemasyarakatan Modern
Sudjonggo menyampaikan sejumlah prinsip penting dalam paparan kebijakan yang ditekankan pada acara ini:
- Profesionalisme: Penegakan standar pelayanan minimal sesuai Permenkumham no. 12/2025.
- Transparansi: Penggunaan sistem digital pelacakan narapidana (e-Rutan) yang akan diimplementasikan 100% pada 2027.
- Sinergi Antarunit: Integrasi data antara Rutan, Lapas, dan instansi terkait untuk mencegah penyalahgunaan wewenang.
- Penguatan Integritas: Penerapan program anti-korupsi dengan penilaian kinerja 360 derajat.
Kronologi Implementasi Kebijakan Ditjenpas
| Tahun | Tahap Kebijakan | Capaian |
|---|---|---|
| 2024 | Rancangan Strategi Pemasyarakatan 2025-2030 | Disusun dengan konsultasi nasional |
| 2025 | Sosialisasi kebijakan di wilayah Jawa | 85% UPT memenuhi standar digitalisasi |
| 2026 | Ekspansi ke luar Jawa | Bandar Lampung menjadi pilot project integrasi layanan |
Dampak Langsung pada Rutan Bandar Lampung
Kepala Rutan Bandar Lampung, Tri Wahyu Santosa, menyatakan bahwa kegiatan ini memberikan dampak strategis pada operasional Rutan. Sebagai contoh:
- Penyederhanaan Proses Administrasi: Implementasi sistem online untuk pendaftaran kunjungan dan pelayanan administrasi narapidana.
- Penataan Infrastruktur: Pengalokasian anggaran 2026 untuk renovasi ruang isolasi dan fasilitas edukasi.
- Penguatan Manajemen Risiko: Penyusunan manual operasional untuk pencegahan konflik internal narapidana.
“Kami memahami bahwa perubahan ini bukan sekadar mematuhi regulasi, tetapi juga mewujudkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum,” ujar Tri dalam wawancara setelah acara.
Tantangan dan Peluang Kebijakan
Walaupun penuh potensi, implementasi kebijakan ini menghadapi tantangan:
- Kemampuan finansial UPT di daerah terpencil yang belum sepenuhnya siap dengan biaya transformasi digital.
- Resistensi dari pegawai yang kurang terbiasa dengan sistem manajemen modern.
- Ketersediaan tenaga ahli di bidang teknologi informasi untuk mendukung e-Rutan.
Sebaliknya, peluang yang terbuka meliputi peningkatan kualitas layanan untuk masyarakat, penurunan angka pelanggaran protap, dan peningkatan efektivitas rehabilitasi narapidana melalui program edukasi berbasis teknologi.
Langkah ini juga sejalan dengan inisiatif pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2024-2029 yang menetapkan reformasi birokrasi sebagai prioritas nasional. Dengan implementasi yang konsisten, diharapkan sistem pemasyarakatan Indonesia mampu mencapai standar internasional dalam sepuluh tahun ke depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













